PRINCIPLE OF CYBERCRIME DEFINITION BY JONATHAN CLOUGH



www.kerisfotopic.net
Latar belakang penulisan buku Principle of Cybercrime yang ditulis oleh Jonathan Clough (CLOUGH, 2010) bermula dari katika sang penulis ditugaskan untuk memegang sebuah kelas dengan materi tentang cybercrime, mulailah Jonathan Clough menyusun materi yang akan dia gunakan untuk mengajar di kelas tersebtu, nah, dalam perjalanan persiapannya untuk menyusun materi tersebut, dia terpana dan terkesan dengan dua hal pertama, bahwa tantangan dari cybercrime adalah tantangan yang dihadapi oleh semua pengembang dan, oleh semua negara-negara berkembang. Kedua, ternyata pada saat Jonathan Clough menulis buku ini, buku referensi untuk mengajar masih sangat sedikit khususnya yang berhubungan dengan hukum dalam cybercrime. 



Definisi dari cybercrime
Dalam mendefinisikan tentang apa itu cybercrime, Jonathan Claugh mengambil referensi yang sangat banyak, dari merujuk pada konvensi negara-negara eropa tentang cybercrime, mengambil pengertian umum yang biasa dipahami dari penggunaan istilah cybercrime, dan dari berbagai literatur disimpulkan bahwa cybercrime adalah kejahatan yang menggunakan teknologi digital atau teknologi tinggi komputer dan jaringan komputer atau internet.
Lebih lanjut penulis buku ini memaparkan tentang terminologi dari cybercrime mengutip seperti yang disampaikan oleh Departemen Kehakiman AS, terminologi cybercrime dirangkum menjadi klasifikasi tiga tahap :
 
  1. Kejahatan di mana komputer atau jaringan komputer adalah target aktivitas kriminal. Misalnya, hacking, malware dan serangan DoS.
  2. Pelanggaran yang ada di mana komputer adalah alat yang digunakan untuk melakukan kejahatan. Misalnya, pornografi anak, menguntit, hak cipta pidana pelanggaran dan kecurangan.
  3. Kejahatan di mana penggunaan komputer merupakan aspek insidental dari kejahatan, tetapi mungkin memiliki bukti kejahatan. Sebagai contoh, alamat ditemukan dalam komputer tersangka pembunuhan, atau catatan telepon percakapan antara pelaku dan korban sebelum pembunuhan. Dalam kasus seperti komputer tidak signifikan dijadikan dalam bagian dari pelanggaran, tetapi lebih tempat penyimpanan untuk bukti.
Menurut penulis buku, bentuk klasifikasi seperti diatas adalah bentuk klasifiksasi yang tidak hanya digunakan di Amerika, tapi juga digunakan di Australia, Kanada, Ingris dan di tingkat internasional.
  


KATEGORI CYBERCRIME
Adapun kategori dari cybercrime, dalam buku ini secara keseluruhan dibagi menjadi 4 (empat) kategori, yaitu pertama Computer as target, kedua Fraud and related offences, ketiga Content-related offences, keempat Offences against the person.

Computer as target
Kategori pertama dari cybercrime adalah menjadikan komputer sebagai terget kejahatan. Maksud dari komputer dijadikan sebagai target kejahatan adalah melakukan hal-hal yang terangkum dalam perilaku berikut :
  1. Mengakses tanpa izin ke sebuah system komputer dengan tujuan
    1. mencuri informasi dari komputer target
    2. memodifikasi data yang terdapat dalam komputer terget
    3. menggunakan komputer target tanpa seizin.
  2. Menyebarkan atau menanamkan perangkat lunak berbahaya seperti malware, malware dikategorikan sebagai :
    1. Firus dan worms
    2. Trojans
    3. bots (remote software untuk kejahatan)
    4. Spayware.
  3. Menyerang sistem komputer target dengan serangan DoS atau DdoS, yaitu membanjiri sebuah sistem komputer atau server target dengan mengirimkan data secara bertubi-tubi sehingga mengakibatkan sistem komputer atau server mangalami kemacetan atau down.
Fraud and related offences
Kategori kedua adalah Fraud and related offences atau penipuan dan segala pelanggaran yang barkaitan dengan penipuan. Panulis buku ini secara ringkas mengumpulkan beberapa kejahatan penipuan dan yang pelanggaran yang terkait dengan penipuan yaitu menjadi 3 (tiga) yaitu
  1. Fraud / Penipuan, dalam katergori penipuan terdapat beberapa contoh penipuan :
    1. Penipuan Online, seperti meminta uang muka agar barang yang ditawarkan online dapat dikirim ke pembeli, setelah uang ditranfer kemudian pera kriminal menghilang atau beralih ke target lainnya.
    2. Penipuan Kartu indentitas, yaitu menggunakan kartu identitas yang dipalsukan untuk melakukan transaksi online dan kepentingan kejahatan lainya.
  2. Pelanggaran Hak cipta,
Pelanggaran hak cipta merupakan kejahatan tidak secara langsung dikatakan sebagai penipuan dalam arti yang sebenarnya tapi merupakan pelanggaran yang terkait dengan penipuan seperti menggunakan secara tidak sah hak milik atau hak cipta orang lain.
  1. Spam,
Spam adalah Pesan tanpa arti atau tidak pantas dikirim ke Internet pada sejumlah newsgroup atau pengguna. Kadang spam digunakan untuk mendistribusikan sesuatu seperti malware, trojan dan yang sejenisnya, atau untuk kepentingan komersial yaitu iklan-iklan liar yang dikirimkan secara acak ke pengguna internet, atau untuk kepentingan menyebarkan pornografi dalam spam tersebut, dan kepentingan-kepentingan lainnya.

Content-Related Offences
Kategori ketiga adalah Content-related offences, yaitu pelanggaran yang terkait dengan konten, maksudnya adalah konten-konten yang berkaitan tindak pidana atau pelanggaran hukum, seperti pornografi, cybersex dan pornografi anak.

Offences against the person
Kategori keempat adalah Offences against the person, yaitu pelanggaran atau serangan terhadap personal atau individu. Jenis pelanggaran ini adalah para pelaku kejahatan mengincar atau memburu target yang terdiri dari pera pengguna internet yang masih hijau dan lugu untuk dijadikan mangsanya dalam masalah seksual. Beberapa kategori kejahatan ini adalah
  1. Grooming
Kejahatan ini adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan aktivitas seksual berupa hasrat ataupun fantasi seksual dengan anak-anak kecil melalui pendekatan, biasanya diawali dengan kenalan lewat media sosial, chating dan lain sebagainya untuk menangkap atau menjebak targetnya. Bahkan terkadang melibatkan anak dibawah umur.
  1. Cyberstalking
Cyberstalking adalah penggunaan teknologi jaringan komputer atau internet untuk melecehkan seseorang, sekelompok orang, atau organisasi. Ini mungkin termasuk tuduhan palsu, pemantauan, membuat ancaman, pencurian identitas, kerusakan pada data atau peralatan, pelecehan terhadap anak-anak untuk seks, atau mengumpulkan informasi dalam rangka untuk melecehkan terhadap pribadinya.
  1. Voyeurism
Mengintip atau Voyeurism termasuk dalam psychosexual disorder atau perilaku seks menyimpang, yaitu senang mengintip orang lain yang sedang tidak berpakaian atau mengintip perilaku seksual orang lain sehingga hasrat seksnya terpenuhi.
pelanggaran ini temasuk kedalam kategori cyberporn, dimana pelaku voyeurisme melakukan kegiatannya dengan mengintip orang yang tanpa pakaian setelah dipengaruhi dengan perantara internet untuk memenuhi hasrat seksual para pelakunya.

EMPAT KATEGORI CYBERCRIME DALAM UU ITE
Setelah membahas keempat kategori cybercrime, berikut adalah usaha untuk menemukan kaitan antara keempat kategori dan sub-sub kategori cybercrime tersebut dengan Undang-Undang ITE Tahun 2008, untuk lebih memudahkan berikut dibuat list tentang pelanggaran dan pasal-pasal yang berhubungan dengan cybercrime yang terkait.

No
Kategori Cybercrime
UU ITE
1.
Mengakses tanpa izin
Pasal 30
2.
Menanamkan Perangkat Lunak Berbahaya
Pasal 33, Pasal 32, Pasal 34
3.
Menyerang Sistem Komputer
Pasal 33,
4.
Fraud
Pasal 28
5.
Hak Cipta
Pasal 25, Pasal 32
6.
Spam
Pasal 26, Pasal 27
7.
Content-Related Offences
Pasal 27
8.
Offences against the person
Pasal 27

CONTOH KASUS CYBERCRIME

Seorang warga negara Indonesia diduga terlibat kasus penipuan terhadap seorang warga negara Amerika Serikat melalui penjualan online. Kasus ini terungkap setelah Markas Besar Kepolisian mendapat laporan dari Biro Penyelidik Amerika Serikat. “FBI menginformasikan tentang adanya penipuan terhadap seorang warga negara Amerika yang berinisial JJ, yang diduga dilakukan oleh seorang yang berasal dari Indonesia,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Kamis 11 Oktober 2012. Boy mengatakan seorang warga Indonesia itu menggunakan nama HB untuk membeli sebuah alat elektronik melalui pembelian online. “Jadi ini transaksi melalui online, tetapi lintas negara. Jadi transaksinya dengan pedagang yang ada di luar negeri, khususnya Amerika,” kata Boy. Dalam kasus ini, kata Boy, Mabes Polri telah menetapkan satu tersangka berinisial MWR. Dia memanfaatkan website http://www.audiogone.com yang memuat iklan penjualan barang. Kemudian, kata Boy, MWR menghubungi JJ melalui email untuk membeli barang yang ditawarkan dalan website itu. “Selanjutnya kedua belah pihak sepakat untuk melakukan transakasi jual beli online. Pembayaran dilakukan dengan cara transfer dana menggunakan kartu kredit di salah satu bank Amerika,” kata dia. Setelah MWR mengirimkan barang bukti pembayaran melalui kartu kredit, maka barang yang dipesan MWR dikirimkan oleh JJ ke Indonesia. Kemudian, pada saat JJ melakukan klaim pembayaran di Citibank Amerika, tapi pihak bank tidak dapat mencairkan pembayaran karena nomor kartu kredit yang digunakan tersangka bukan milik MWR atau Haryo Brahmastyo. “Jadi korban JJ merasa tertipu, dan dirugikan oleh tersangka MWR,” kata Boy. Dari hasil penyelidikan, MWR menggunakan identitas palsu yaitu menggunakan KTP dan NPWP orang lain. Sementara barang bukti yang disita adalah laptop, PC, lima handphone, KTP, NPWP, beberapa kartu kredit, paspor, alat scanner, dan rekening salah satu bank atas nama MWRSD. Atas perbuatannya, tersangka dikenai Pasal 378 atau Pasal 45 ayat 2 junto Pasal 28 Undang-Undang nomor 11 tentang Informasi Transaksi Elektronik. Selain itu, polri juga menerapkan Pasal 3 Undang-Undang nomor 8 tahun 2010 tentang Pencucian Uang. Selain itu, juga dikenakan pasal pemalsuan yaitu Pasal 378 dan beberapa pasal tambahan Pasal 4 ayat 5, dan pasal 5 UU no 8 tahun 2010. (www.news.viva.co.id).
KESIMPULAN
Secara keseluruhan kejahatan dunia cyber yang dipaparkan oleh Jonathan Clough adalah kejahatan yang jika disimpulkan menjadi dua kategori utama dari empat kategi yang dipaparkan diatas, yaiut kategori pelanggaran atau kejahatan yang pada dasarnya menggunakan teknologi komputer atau jaringan komputer yaitu internet untuk dijadikan sebagai basik dimana pelaku kriminal melakukan kejahatannya, dan kategori lainya adalah pelanggaran atau kejahatan dimana teknologi jaringan komputer yaitu internet hanya dijadikan sebagai media untuk melakukan kejahatannya, hal ini mungkin tepatnya kesimpulan dari dua point terakhir dari empat point kategori kejahatan komputer.
Terkait bergagai kategori dan sub-kategori kejahatan yang diampaikan oleh Jonathan Clough, secara keseluruhan sudah terkover dalam uu ite, hal itu terlihat pada point hubungan keempat kategori dengan uu ite sebagaimana yang sudah di perlihatkan pada tabel diatas.
Pada contoh kasus cybercrime, disampaikan tentang pelanggaran yang ada dalam kasus tersebut adalah pelanggaran terhadap pasal 28 dalam UU No.11 ITE, yaitu pelanggaran berupa penipuan online.
DAFTAR PUSTAKA
CLOUGH, J. (2010). PRINCIPLES OF CYBERCRIME. CAMBRIDGE UNIVERSITY PRESS 2010. http://doi.org/10.1007/s13398-014-0173-7.2
Previous
Next Post »