Bullying in Cyberspace

Bullying in Cyberspace

Definisi 

Bullying in Cyberspace atau Cyber bullying merupakan segala sesuatu dalam bentuk kekerasan yang dialami oleh semua kalangan terutama yang sering terjadi pada remaja dan dilakukan teman seusia melalui dunia internet atau dengan bantuan teknologi. Cyber bullying merupakan kejadian manakala seorang anak atau remaja diejek, dihina, diintimidasi atau dipermalukan oleh anak atau remaja lain melalui media internet atau teknologi digital.
Seiring dengan perkembangan zaman, perkembangan teknologi pun semakin canggih. Anak-anak dan remaja sekarang sudah kerap menggunakan teknologi dan mengakses internet. Sosial media saat ini sedang digunakan oleh semua kalangan terutama oleh remaja. Dengan aktif di sosial media seorang anak bisa dinilai ‘gaul’ oleh anak lainnya. Emosi remaja masih tergolong labil, sehingga kerap mengekspresikan diri dan tidak dapat mengontrol dirinya, sampai bertindak bully melalui media sosial terhadap temannya sendiri. Termasuk dalam melakukan ancaman melalui surat elektronik (email), mengunggah photo yang di sengaja untuk mempermalukan korban, membuat situs web untuk menyebar fitnah dan mengolok-olok korban, hingga mengakses akun jejaring sosial orang lain untuk mengancam korban dan membuat masalah.
Motivasi pelaku cyber bullying juga beragam. Ada yang melakukannya karena alasan marah dan ingin balas dendam, frustasi, atau ingin mencari perhatian, atau ada juga yang melakukannya hanya untuk iseng. Tidak jarang motivasinya terkadang hanya bercanda. Pelaku atau tindakan cyber bullying tentu saja tidak pantas untuk ditiru. Dengan mengenal istilah cyber bullying dan bentuk kejahatannya.
Anak-anak atau remaja yang melakukan cyber bullying terhadap temannya terkadang tidak memikirkan apa dampak buruknya. Orang yang ia ejek tersebut bisa kecewa, sedih, hingga merasa tertekan, dan bisa menarik diri dari lingkungannya karena tidak punya rasa percaya terhadap dirinya sendiri. Hal ini sangat merugikan dan membuat orang lain mendapatkan efek negatif atas perbuatan cyber bullying. Untuk itu, peran orangtua sangatlah penting dalam pencegahan terjadinya cyber bullying.

Ilustrasi 

www.kerisfotopic.net

Real case:

Siapa yang tidak kenal Sonya Depari? Remaja perempuan asal Medan ini sempat membuat heboh dunia Internet Indonesia karena sebuah video yang merekam dirinya sedang marah-marah pada seorang polwan pada hari pengumuman kelulusan ujian nasional. Sonya sempat menjadi bulan-bulanan para netizen atau pengguna internet di Indonesia akibat perilakunya yang bagi banyak orang tidak pantas.
Dalam kaitannya dengan kasus Sonya, masyarakat Indonesia modern kini amat erat kaitan dan kesehariannya dengan Internet. Sebagai contohnya, Jakarta adalah kota yang paling aktif dalam menggunakan Twitter di dunia. 92.9% populasi internet di Indonesia juga menggunakan jejaring sosial Facebook. (Carter-Lau, 2013) Hal ini kemudian menciptakan interaktivitas (interactivity), yaitu sebuah kondisi dimana komunikan harus selalu aktif melakukan kegiatan seperti mengunggah, meninggalkan komentar, mengunduh, dan lain sebagainya. (Steuer, 1995) Semua hal ini terjadi di dunia maya dan menghasilkan kultur maya (cyber culture) yang memiliki berbagai macam dampak.
Cyber culture atau budaya maya, menurut American Heritage Dictionary (2000) adalah sebuah budaya yang muncul karena penggunaan komputer dengan jaringan (computer networks), untuk hal- hal seperti komunikasi, hiburan, pekerjaan, dan bisnis. Sedangkan, cyber space adalah ruang tempat budaya itu terjadi. Cyber space bisa merupakan ruang chatting maya, jejaring media sosial, ataupun website. Sedangkan cyber bullying adalah tindakan bully atau penindasan yang terjadi di dunia maya.
Cyber bullying mulai terjadi pada Sonya setelah videonya tersebar di dunia maya. Dalam video ini, Sonya yang diberhentikan oleh seorang polisi wanita (polwan) bernama Ipda Perida Panjaitan saat sedang konvoi dalam mobil Honda Brio BK1428IO dalam rangka merayakan kelulusan Ujian Nasional (UN). Kejadian di Jalan Hang Tuah, Medan, Provinsi Sumatra Utara ini terjadi pada tanggal 6 Maret 2016.
Kisahnya, Sonya menolak ditilang oleh Ipda Perida dan mengatakan bahwa ia adalah anaknya jendral, lebih tepatnya, Irjen Arman Depari dari Badan Narkotika Nasional (BNN). Sonya juga mengancam sang polwan untuk "ditandai" dan bahkan berpura-pura menelpon sang jendral.
Seseorang merekam kejadian ini dan nama Sonya Depari pun meledak di dunia maya di Indonesia. Netizen atau para penghuni dunia maya pun mengecam Sonya dan menyerbu jejaring sosial sang siswa, seperti Instagramnya. Berita ini pun meluas hingga masuk televisi. Bahkan, kabarnya, ayah Sonya yang sedang rawat inap di rumah sakit sangat kaget hingga meninggal

Upaya pencegahan cyberbullying:


  1. Jangan merespon. Para pelaku bullying selalu menunggu-nunggu reaksi korban. Untuk itu, jangan terpancing untuk merespon aksi pelaku agar mereka tidak lantas merasa diperhatikan.
  2. Jangan membalas aksi pelaku. Membalas apa yang dilakukan pelaku cyberbullying akan membuat Anda ikut menjadi pelaku dan makin menyuburkan aksi tak menyenangkan ini.
  3. Adukan pada orang yang dipercaya. Jika anak-anak yang menjadi korban, mereka harus melapor pada orang tua, guru, atau tenaga konseling di sekolah. Selain mengamankan korban, tindakan ini akan membantu memperbaiki sikap mental pelaku.
  4. Simpan semua bukti. Oleh karena aksi ini berlangsung di media digital, korban akan lebih mudah meng-capture, lalu menyimpan pesan, gambar atau materi pengganggu lainnya yang dikirim pelaku, untuk kemudian menjadikannya sebagai barang bukti saat melapor ke pihak-pihak yang bisa membantu.
  5. Segera blokir aksi pelaku. Jika materi-materi pengganggu muncul dalam bentuk pesan instan, teks, atau komentar profil, gunakan tool preferences/privasi untuk memblok pelaku. Jika terjadi saat chatting, segera tinggalkan chatroom.
  6. Selalu berperilaku sopan di dunia maya. Perilaku buruk yang dilakukan, seperti membicarakan orang lain, bergosip, atau memfitnah, akan meningkatkan risiko seseorang menjadi korban cyberbullying.
  7. Jadilah teman, jangan hanya diam. Ikut meneruskan pesan fitnah atau hanya diam dan tidak berbuat apa-apa akan menyuburkan aksi bullying dan menyakiti perasaan korban. Suruh pelaku menghentikan aksinya, atau jika pelaku tidak diketahui bantu korban menenangkan diri dan laporkan kasus tersebut ke pihak berwenang.

Previous
Next Post »