MACAM SENGKALAN

MACAM SENGKALAN
---------------------------
Secara etimologis sengkalan berasal dari kata sangkala + an vokal ganda pada akhir bentuk dasar dan awal sufiks mengalami delesi menjadi sengkalan. Kata Sangkala adalah nama orang, yaitu Ajisaka ketika masih muda. Sengkalan bisa juga berasal dari kata saka + kala yang berarti ‘taun Saka’ mendapat akhiran –an. Dengan demikian, sengkalan adalah sawijining angka taun kang dilambangak√© kanthi ukara, gambar utawa ornamen tinamtu ‘angka taun yang dilambangkan dengan kalimat, gambar atau ornamen tertentu.
Istilah lain sengkalan adalah cronogram yang berasal dari kata crono ‘waktu’ dan gram ‘tulisan/gambar’. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa sengkalan paling tidak memiliki tiga unsur, yaitu rangkaian kata (gambar, ornamen), angka, dan tahun. Gambar dan ornamen sengkalan biasa diujarkan dalam bentuk rangkaian kata untuk mendapatkan angka tahun. Rangkaian kata yang dimaksud selalu mengandung kata-kata yang memiliki nilai angka. Nilai angka tersebut ditata secara linear untuk mendapatkan angka tahun yang dikehendaki. Penataan kata tersebut disusun secara terbalik dengan penataan angka tahun yang dimaksud.
Terdapat beberapa jenis Sengkalan, antara lain :
SENGKALAN LAMBA : Sengkalan yang menggunakan rangkaian kata.
SENGKALAN MEMET : Sengkalan yang menggunakan bentuk lukisan dan atau ornament, salah satunya seperti yg terdapat pada kinatah di bilah keris
SENGKALAN SASTRA : Sengkalan yang menggunakan huruf Jawa dan sandangannya biasa digunakan pada ukir-ukiran, hiasan keris, dan lain sebagainya.
SURYA SENGKALA : Sengkalan yang menunjukkan angka tahun berdasarkan perputaran matahari. Suryasengkala digunakan pada masa pra-Islam dengan menggunakan tahun Saka. Namun saat ini Suryasengkala jarang digunakan, karena sengkalan yang dibuat tergantung pada kebutuhan, misalnya sengkalan dengan menggunakan tahun Masehi.
CANDRA SENGKALA : Sengkalan yang menunjukkan angka tahun berdasarkan peraturan bulan. Candrasengkala digunakan setelah masa Islam dengan memakai tahun Jawa. Tahun Jawa ditetapkan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma sejak 1 Suro 1555 Jawa, bertepatan 1 Muharam 1043 Hijriah, atau 1 Srawana 1555 Saka, atau 8 Juli 1633 Masehi. Tahun Jawa merupakan perpaduan antara Tahun Hijriah dengan tahun Saka. Pada zaman sekarang sengkalan dapat menggunakan tahun Jawa, Saka, Hijriah atau Masehi tergantung pada sengkalan yang diperlukannya


www.kerisfotopic.net

Previous
Next Post »