Keris dapur Naga Raja

Kata naga berasal dari bahasa Sanskerta nāgá, yaitu perwujudan ular Kobra raksasa yang ditemukan dalam kepercayaan Hindu, Budha dan Jain. Kata nāgá kadang juga digunakan untuk merujuk "ular" secara umum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia naga diartikan sebagai ular yang besar.
Naga Jawa digambarkan sebagai ular raksasa, kadang dengan kaki namun lebih umum tanpa kaki. Gambaran ini selaras dengan gambaran naga India yang menyerupai ular, dan bertolak belakang dengan naga Tiongkok dan naga Eropa yang berkaki. Berbeda dari keduanya pula, naga Jawa umumnya tidak digambarkan dapat terbang. Keunikan naga Jawa merupakan badhong atau makhota di atas kepalanya. Tidak ada ketentuan untuk rupa makhkota dan bentuknya dapat sangat beragam. Terkadang naga Jawa juga digambarkan memakai perhiasan dan kalung emas.
Naga Jawa juga ditemui di beberapa relief candi. Naga di candi ini dinamakan Naga Taksaka yang bertugas menjaga candi. Umumnya ular naga dijadikan pola hias bentuk makara yaitu pipi tangga di kanan dan kiri tangga naik ke bangunan candi yang dibentuk sebagai badan dan kepala naga: mulut naga digambarkan terbuka lebar dan lidahnya menjulur keluar dalam wujud untaian manik-manik ataupun bentuk makara dengan naga yang menganga dengan seekor singa di dalam mulutnya. Hiasan semacam ini umum didapati di candi-candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Sering pula wujud naga dipahat di bawah cerat yoni karena yoni selalu dipahat menonjol keluar dari bingkai bujur sangar sehingga perlu penyangga di bawahnya. Fungsi naga pada bangunan candi atau pada yoni tampaknya erat kaitannya dengan tugas penjagaan atau perlindungan terhadap sebuah bangunan.
Dalam perwatakan Sengkalan, Naga mewakili angka 8
Salam budaya & Selamat berlibur akhir tahun..... :)
(Foto : Keris dapur Naga Raja)

www.kerisfotopic.net

Previous
Next Post »