JARAN GUYANG,

07.27

Dalam budaya Tosan Aji, Jaran Guyang (atau yang sering disebut oleh umum sebagai Jaran Goyang), adalah penyebutan untuk dapur keris yang memiliki ricikan Luk 7, gandik polos dengan pijetan dan tikel alis, serta tingil di belakang gonjo. Sebetulnya ada juga penyebutan bahwa dapur Jaran Guyang memiliki Pijetan yang memanjang sampai atas seperti halnya Pulanggeni, tetapi Luk 7. Lepas dari itu, keris Jaran Guyang sering menjadi bahan pembicaraan karena dipercaya bahwa pemiliknya mudah untuk menggaet perempuan.
Dibanding penyebutan Jaran Goyang atau yang dalam bahasa Indonesianya bermakna Kuda yang sedang bergoyang atau menari, saya lebih suka menyebutnya Jaran Guyang atau yang artinya kurang lebih kuda yang diguyang atau dibasuh dengan air. Ini akan terkait dengan makna yang terkandung dalam bilah keris ini.
Jaran, atau kuda adalah sebuah lambang kejantanan, keperkasaan. Tidak sedikit kuda dijadikan sebagai icon. Apapun, dari mulai mobil (si Kuda Jingkrak - Ferarri), sampai pada simbol korp pasukan. Bahkan juga obat2 pembangkit vitalitas pria yang konotasinya adalah kejantanan laki2. Jaran juga melambangkan nafsu yang liar. Bergerak seiring dengan gejolak hasrat, seperti halnya kuda hitam, mustang, yang kesemuanya melambangkan sesuatu yang liar.
Dalam kondisi kekinian, banyak sekali media mendemonstrasikan bagaimana masyarakat telah mengumbar nafsunya. Apapun nafsu itu, seolah2 tidak terkontrol. Nafsu amarah yang tampak pada munculnya banyak kekerasan, nafsu sex sampai ada bapak memperkosa anak2nya, sex bebas, nafsu keduniawian dan keserakahan sehingga memunculkan adanya korupsi, perang, dan sekian banyak nafsu yang telah melingkupi diri manusia. Nafsu merupakan hal yang wajar menempel lekat dalam diri manusia. Hanya jika tidak terkontrol, maka nafsu tersebut akan menjadi sebuah senjata perusak yang sangat canggih dan efisien. Dengan sentilan sedikit nafsu yang melonjak, seseorang akan terjerumus pada keburukan, kenistaan bahkan kehancuran.
Dapur Jaran Guyang ini mengingatkan kita bahwa sudah seharusnya kita sebagai manusia mengguyang, membersihkan nafsu buruk yang melekat pada diri kita. Keserakahan, ambisi berlebihan, iri dengki, bahkan nafsu birahi yang berlebihan, perlu kita turunkan tensinya (lerem). Caranya dengan meningkatkan ibadah, introspeksi diri, meditasi, beramal shadaqah, mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Gusti Kang Akarya Jagad. Apapun caranya, kita masing2 yang lebih memahami, dengan tujuan ngeleremke nafsu. Dengan turunnya tensi atas nafsu, InsyaAllah dunia ini akan lebih trasa damai, tenteram, hidup bisa lebih nikmat dan dari diri sendirilah kita memulai sesuatu yang besar.

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

1 komentar