SENI TEMPA & PAMOR UNIVERSAL,


Tahun kemarin saya pas ke Gramedia, lihat2 buku kok pas ada BEOWULF yg diterjemahkan oleh Seamus Heaney dari puisi ke bahasan mendalam. Diterbitkan oleh W.W. Norton & Company, New York.
Yang membuat saya tertarik untuk membeli buku ini adalah adanya ilustrasi & foto2 berbagai peninggalan Anglo-Saxon atau Inggris Kuno. Dari mulai artefak kayu, gelas2, perhiasan sampai pada senjata. Di halaman 16 dan 74, terdapat foto artefak tumbak dan pedang yg ditemukan, dimana tumbak tersebut dianalisis dibuat pada aal abad ke 3. Tumbak tersebut sudah dihiasi dengan perak (silver inlaid), seperti sinarasah dan menancap di besinya. Cukup sederhana tetapi terlihat sangat kokoh & cukup bagus untuk senjata tusuk. Sedangkan pedang2 yg ditemukan diestimasi dibuat pada Viking Age atau sekitar abad ke 10-11. Dikatakan bahwa pedang di Beowulf mengkilat/berkilau dengan alur (pamor) bergelombang (shine with wavy patterns) dan sangat variatif bentuk pamornya.
Jika kita melihat ke lain negara seperti Timur Tengah yg terkenal dengan damas iron, jepang yg membuat Katana, India dengan Kukri dsb, memang seni tempa ini adalah budaya universal. Jika kita menemukan keris tangguh Singosari dan Majapahit dengan pamor Lar Gangsir atau Blarak, di Eropa mereka juga telah membuat pedang dengan pamor seperti Lar Gangsir sangat rapat dan Kelabang Sayuta (lihat foto).
Yg menjadikan keris lebih menarik adalah kekhasan bentuknya yg a-simetris, memiliki condong leleh yg konsisten pada setiap tangguhnya. Demikian juga prosesi ritual, perpaduan antara teknik tempa & spiritual, menjadikan dia lebih meresap dalam hati kita. Legenda banyak dituliskan dalam tembang2 kuno. DI Dandang Gula, Sinom, Pangkur dsb telah dituliskan dengan bahasa kiasan puitis. Tak ubahnya seperti puisi2 Beowulf yg sarat makna. Filosofi dan simbolisme sejarah masarakat saat itu sangat tertancap dalam bilah keris. Ini sebetulnya yg menjadi tantangan kita semua untuk mengupasnya lebih mendalam.
Salaam,

kerisfotopic.net

Previous
Next Post »