SEBUAH IRONI,


Cuplikan dari serat Centhini Jilid I Pupuh 25
"Gathuk Muwus lah apa bener bethekku yen damel curiga punappi nggih den ukuri panjangipun punapa sakarsa-karsa ?
Myang Landeyan Waos punapa ngukur napa manut bakal ?
Ki Kapalang hanauri, Dhuwung miwah landeyan wonten ukuranya
Watonipun kalamun adamel dhuwung panjangipun ganja ingkang kaukur rumiyin, lajeng kangge ngukur panjanging Curiga...."
.
Jika kita sebagai masyarakat perkerisan sampai saat ini masih mengakui bahwa Serat Centhini adalah salah satu rujukan utama dari kaweruh padhuwungan, dan jika kita sudah membacanya, maka kita akan memahami bahwa sebetulnya pembuatan Keris (Dhuwung) itu terdapat kaidah2, aturan2 arsitektur/rancang bangun, panjang bilah-lebar bilah dsb...
Sungguh sangat ironi jika ada yg karena mungkin ternyata belum banyak membaca, kurangnya pemahaman, karena ketiakmauan mengakui keterbatasan, waton bedo (asal tampil beda), ingin bereksperimen dengan keris kontemporer, lantas menyangkal bahwa dalam pembuatan keris itu tidak ada kaidah2 rancang bangun. Silahkan bereksperimen tetapi jangan menyangkal sejarah. Jangan sampai berkeinginan untuk membutakan mata orang yg ingin belajar. Bereksperimen adalah kegiatan yg sangat dibutuhkan dan makin menambah khazanah budaya adiluhung. Tetapi menyangkal sejarah adalah hal yg bodoh.
Sebetulnya masih banyak serat2 tentang keris yg belum terungkap, karena itu jangan lantas menghakimi bahwa dalam pembuatan keris tidak ada kaidah2 yg perlu dianut.
Karena itu, studi literatur dalam pengembangan kaweruh padhuwungan (pra kerisologi) perlu terus di kaji. Di sini nanti pada muaranya kita akan menemukan benang merah antara sisi tradisi dan aspek keilmiahan dari sebuah karya seni-budaya bangsa, dalam hal ini KERIS.
Semoga kita bisa lebih bijak menyikapi sebuah pandangan...
kerisfotopic.net

Previous
Next Post »