MEGA REMENG,


Berbicara mengenai Kuda Jingkrak dengan sayap di lambang Kabupaten Sumenep, dan juga banyak diabadikan dalam bentuk ukiran khas Sumenep, tak bisa melepaskan sejarah dan legenda Joko Tole.
Jokotole yang memiliki saudara bernama Jokowedi, merupakan putra dari Adipoday dengan Dewi Saini alias Potre Koneng (Putri Kuning). Adipoday dan Potre Koneng ini tidak menikah secara fisik, tetapi secara batin. Mereka bertemu hanya di dalam mimpi. Kedua orang tua Jokotole ini sama-sama sakti karena suka bertapa.
Setelah Jokotole besar, Jokotole bertemu dengan pamannya yang bernama Adirasa. Dari pamannya inilah Jokotole mendapatkan hadiah seekor kuda hitam bersayap dan sebuah cemeti (pecut) milik dari Ayahnya (Adipoday).
Alkisah pada kurang lebih tahun 1415, suatu hari datanglah seorang panglima perang dari negeri Cina yang bernama SamPo Tua Lang (bahasa jawa menjadi Dempo Abang). Panglima ini bermaksud menaklukkan raja-raja yang ada di tanah Jawa dan Madura. Konon, Dempo Abang ini memiliki kesaktian yang luar biasa, bahkan kapal yang dinaiki saja bisa berlayar di lautan dan terbang di udara.
Jokotole yang saat itu menjadi raja dan bergela Pangeran Secodiningrat III, mencoba menghentikan sepak terjang si Dempo Abang. Dengan mengendarai kuda terbangnya, Jokotole menyerang kapal ‘terbang’ Dempo Abang. Saat tiba di dekat kapal tersebut, Jokotole menarik tali kekangnya hingga si Mega Remeng tersebut berjingkrak mengangkat kaki depannya. Gambaran inilah yang digunakan pada logo kuda jingkrak Kabupaten Sumenep. Akhirnya Jokotole dapat menghancurkan armada Dempo Abang dengan lecutan cemetu saktinya. Hingga saat ini, beberapa perguruan silat di Madura, menggunakan cemeti sebagai salah satu senjata andalan.
Gambar kuda terbang tersebut suah digunakan sejak lama. Bahkan di pintu gerbang yang dibuat oleh Jokotole, kuda terbang itu juga sudah digambarkan. Sedangkan di Asta Tinggi, gambar kuda terbang dapat ditemui pada cungkup (tutup) termasuk juga pada logo kerajaan yang saya foto dari musium Sumenep.
Demikian kisah mitologi dari penggunaan si Mega Remeng sebagai logo utama Kabupaten Sumenep. Dan sekarang banyak yg karena ketidaktahuannya, lambang MEGA REMENG dalam logi kabupaten Sumenep dan juga diabadikan dalam bentuk ukiran, termasuk di wrangka keris, disebut KUDA PANOLEH.
Penyebutan Kuda Panoleh ini sudah salah kaprah karena hanya melihat bentuk kuda yang sedang menoleh, lantas dengan gampangnya disebut Kuda Panoleh. Sama juga dengan Kidang Kencana pada kinatah keris Naga Sasra yang disebut Kidang Panoleh.

kerisfotopic.net

Previous
Next Post »