PANIMBAL (Jilid ke 2),


Panimbal, memiliki makna ketukan palu, tetapi dalam makna lain Panimbal berasal dari kata Tinimbalan dening... yang maknanya berarti dipanggil atau terpanggil.
Kembali kita akan menjadi yang dipanggil untuk melakukan ibadah Puasa di bulan Ramadhan (tinimbalan dening sasi Pasa). Memperbanyak amal ibadah dan berpuasa menahan hawa nafsu. Dan pada akhirnya nanti akan memasuki Syawal dimana masing2 orang yang merantau akan merasa terpanggil untuk kembali pada kampung halaman (mudik), yang berarti masih ingat akan sangkan paran. Terpanggil untuk bersilaturahmi, sungkem kepada orang tua dan handai taulan, kearabat serta tetangga.
Lebih jauh lagi, pada suatu saat, suka maupun benci, siap ataupun belum, mau ataupun tidak, manusia akan tinimbalan dening Gusti Kang Maha Agung, terpanggil untuk menghadap Shang Pemberi Hidup, Tuhan Yang Maha Kuasa. Ketika ruh dicabut dari jasad itulah manusia akan tidak membutuhkan apapun selain amal ibadah yang telah dijalaninya semasa hidup di dunia. Kembali ke pangkuan Ilahi Robbi. Segala pernak-pernik hidup, gemerlap harta, handai taulan, teman, kerabat akan kita tinggalkan tanpa bisa kita menggapai tangan mereka agar ruh kita tidak tercabut.
Dapur Panimbal ini mengingatkan kita bahwa suatu saat manusia akan menghadap kepada Tuhan YMK, oleh karena itu selagi kita masih diberi hidup oleh Tuhan, maka hendaknya benar2 menggunakan hidup ini dengan rasa tanggung jawab baik kepada Tuhan maupun kepada Sesama dan alam semesta. Bukan hanya untuk diri pribadi, dan semuanya itu diniatkan sebagai ibadah (...illa liya'budu).
Semoga semakin sedikit orang yang memandang Keris bukan lagi sebagai bagian dari urusan klenik, mistik apalagi musyrik, tetapi sebagai sebuah pelajaran hidup. Dari keris kita juga bisa belajar banyak tentang makna dalam kehidupan.
Salaam,

kerisfotopic.net
Foto : keris dapur Panimbal Pamor Wos Wutah Tangguh Mataram Senopaten
Previous
Next Post »