GARAP NJERO VS NJOBO,

Entah dipahami atau tidak ketika seseorang menyebut istilah tersebut, tetapi menurut saya istilah ini umumnya digunakan untuk menyebut apakah sebilah keris tersebut dikerjakan oleh mPu dari dalam lingkungan kraton (mPu Kraton) yang berarti Garap Njero (dalam) ataukah mPu dari luar kraton (mPu Dusun) yang berarti Garap Njobo (luar).
Memang terdapat beberapa mPu yang diangkat oleh Raja menjadi mPu Kraton, dan dicukupilah semua kebutuhan hidupnya. Bahkan mendapat gelar kehormatan serta tanah perdikan (tanah atau wilayah kecil yang dibebaskan dari pembayaran pajak/upeti kepada kota raja). Seperti misalnya mPu Supo Mandrangi yang lantas mendapat gelar Pangeran Sedayu dan mendapat tanah perdikan di wilayah Sedayu. Juga para mPu Pakelun di era pemerintahan Sultan Agung Hanyakra Kusuma, sampai pada mPu era pemerintahan Susuhunan Paku Buwana seperti mPu Brajaguna, Brajasetika, Djojosukadga dan Singowidjojo telah diangkat menjadi mPu kraton. Dari sini akhirnya menstimulus para mPu Dusun untuk semakin menyempurnakan kualitas garap kerisnya agar mereka bisa diangkat menjadi mPu Kraton dan tercukupi kebutuhan hidupnya serta meningkat derajad/status sosialnya.
Nah, ini adalah mPu2 jaman dulu dimana kita belum lahir dan tidak bisa secara pasti mengetahui apakah sebilah keris yang saat ini kita pegang adalah garap dari mPu A, B atau C dan seterusnya. Kita hanya bisa mengira2, menerka2 tanpa ada kepastian. Jangankan keris2 tua, keris2 Kamardhikan atau keris buatan baru yang dikerjakan tahun 2000an saja misalnya, kita sudah susah menerka siapa si penggarap keris bilamana keris tersebut tidak dilambari oleh sertifikat atau sejarah dari si pemilik. Yang kita pahami adalah karakter garap dari masing2 mPu lantas dikatakan ini karakternya seperti garap mPu Djojosukadga, mPu Supadriya, mPu Ki Nom dan sebagainya. Itupun juga belumlah pasti.
Karena ketidakpastian itulah lantas apakah masih penting kita menyebut sebilah keris dengan garap Njobo ataupun Njero, garap mPu Kraton atau mPu Dusun ? Kita jujur saja kepada diri sendiri, apakah kita memiliki keyakinan bahwa sebilah keris yang kita pegang adalah garap dari seorang mPu Kraton ?
Pendikotomian mPu Njero/Kraton dan mPu Njobo/Dusun ini akhirnya hanya menjadi peluru yang cukup efektif bagi para penjual keris. Bahan obrolan untuk menjajakan keris agar nilainya naik sekiat digit, tanpa diketahui secara pasti apakah keris tersebut benar2 dikerjakan oleh mPu Kraton. Apalagi jika dikembalikan keris yang dikatakan garap mPu Kraton itu tidaklah terlalu bagus dari aspek garap baik langgam, bilah, penerapan pamor maupun tempa besinya. Nah, keris2 yang banyak dijumpai di lapangan, karena ingin mendapat pengakuan, akhirnya dikatakan sebagai keris garap mPu Kraton. Sungguh ironis.
Bagi saya pribadi, saya tidak mau terjebak dalam istilah tersebut. Saya akan lebih serius melihat pada si keris itu sendiri. Garap bilah, ricikan detail, pamor sampai pada penempaan besinya. Saya akan menutup telinga rapat2 jika ada yang mengatakan bahwa keris yang akan saya beli adalah garap mPu Kraton. Bagi saya "Pusaka Kanda". Garap dari Keris itu sendiri yang akan menunjukkan darimana dia berasal. Dengan demikian, kita tidak mudah terkontaminasi oleh bahasa marketingan si penjual karena kita lebih mementingkan untuk melihat bilah keris itu sendiri dengan kualitasnya yang benar2 bagus.
Seperti halnya 3 (tiga) keris pada foto di atas ini, pun saya tidak pernah memikirkan apakah itu dikerjakan oleh mPu dari dalam Kraton ataukah mPu Dusun. Tidak penting bagi saya karena yang utama adalah garap keris itu sendiri. Presisi, ada guwaya, pakem, wutuh, besi dan tempa serta penerapan pamor bagus, ya saya suka dan saya koleksi. Nah, silahkan anda sendiri bagaimana menyikapinya. Masihkah akan tetap terjebak dalam dikotomi tersebut ? Sumonggo...
Salaam,
Previous
Next Post »