ESTETIKA KERIS,


Estetika atau aesthetics, sebetulnya merupakan cabang dari filsafat yg menelaah dan membahas tentang seni dan keindahan serta tanggapan manusia terhadapnya. Jadi Estetika ini memuat tentang kepekaan manusia terhadap nilai2 seni dan keindahan. Dengan demikian, Estetika Keris adalah hal2 yang terkait dengan seni dan keindahan dari sebuah keris dan segala pelengkap yang melingkupinya. Bukan hanya Bilah keris semata, tetapi juga terkait dengan totalitas termasuk perabot dan wrangka yang digunakan. Keindahan atas semua komponen itu akan menghasilkan sebuah bentuk respon yang keterpukauan yang menyeluruh.
Seni dan Keindahan dalam kaitannya dengan bilah keris itu sendiri bisa berupa keindahan dari seni tempa yang menghasilkan kualitas besi serta pamor, yang kemudian menuju pada keutuhan bilah keris (jika itu adalah keris sepuh/tua), karena dengan kualitas tempa yang bagus, maka keris akan relatif bisa terjaga keutuhannya. Bukan saja keutuhan pada bilah, tetapi juga ricikan lainnya seperti Kembang Kacang, Greneng dan sebagainya. Selain itu juga keindahan garap atas bilah keris yang terkait dengan rancang bangun yang menghasilkan langgam atau gaya yang enak dipandang, ketegasan pembuatan yang menghasilkan karakter keris sehingga menghasilkan ke-khas-an atas tangguh dan sebagainya.
Sedangkan pada wrangka dan perabot yang digunakan, akan mampu menghasilkan respon bagi yang melihat mengingat wrangka ini adalah tampilan luar sebelum keris dilolos dari wrangkanya. Pemilihan gaya wrangka tentu perlu memperhatikan langgam dari keris itu sendiri. Keserasian diantara berbagai macam dapur dan tangguh keris dengan berbagai wanda dan gaya wrangka. Semisal keris tangguh Jogjakarta Hamengku Buwana akan sangat cocok jika disarungkan pada wrangka gaya Jogja. Keris2 tangguh Surakarta akan sesuai disematkan dalam wrangka gaya Surakarta. Demikian pula keris tangguh Sumenep tentu akan cocok jika menggunakan wrangka gaya Sumenep. Pembuat wrangka pada jaman dulu seolah telah memikirkan aspek teknis dan detail dari bilah yang akan dibuatkan wrangka. Hal ini bisa dilihat jika kita memiliki wrangka gaya Jogja atau Solo, maka akan wagu jika digunakan untuk keris2 gaya Madura. Mengapa demikian ? Karena umumnya lengkungan gonjo keris Madura tidak selengkung (nyebit rontal) keris2 gaya Mataram. Demikian pula sebaliknya. Ini bisa kita amati pada wrangka2 buatan lama dan jika kita juga terbiasa menset atau ngenjingke wrangka.
Material wrangka juga sangat menentukan aspek keindahan dan seni dalam budaya Tosan Aji. Semisal kita pilih kayu Timoho. Bukan lantas sekedar kayu Timoho saja yang kita gunakan. Tentu kita akan memilih kayu yang memiliki tekstur cukup bagus. Atau agar terkesan elegan atau mriyayeni, kayu Cendana wangi sepertinya akan lebih sesuai. Seperti halnya pusaka2 dari koleksi kraton, banyak diantaranya yang menggunakan kayu Cendana. Selain karena harum, kayu Cendana ini juga tidak mudah mulet/menyusut dan mudah untuk dibentuk. Segala aspek ternyata kayu Cendana ihi memang lebih bagus. Selebihnya adalah kayu Kemuning, Timoho, Trembalo dan lainnya. Pemilihan material ini, khususnya yang menghasilkan tekstur kayu, juga perlu disesuaikan dengan bilah keris itu sendiri. Semisal keris Kelengan atau yang pamornya sedikit, mungkin akan lebih cocok jika disematkan pada wrangka yang menggunakan kayu dengan tekstur yang ramai, misal pelet ngingrim, Sampir dan sebagainya. Sedangkan untuk keris berpamor gumebyar atau pamor Miring, akan lebih cocok jika menggunakan wrangka polos dari bahan kayu Cendana atau Kemuning. Dengan demikian terjadi keseimbangan antara bilah dan wrangka yang digunakan.
Oleh karena itu, pemilihan wrangka ini juga sangat berpengaruh pada nilai2 estetis atas sebuah pusaka yang kita miliki. Perabotpun juga demikian. Pemilihan pendok, deder, mendak dan selut juga akan sangat mempengaruhi keindahan totalitas atas sebilah keris. Misalnya jika kita menggunakan wrangka gaya Surakarta, tentu jejeran atau deder yang digunakan lebih besar dari deder gaya Jogja. Oleh karena itu, mendak Kendhit atau Parijatha akan lebih sesuai digunakan dibandingkan dengan mendak Meniran. Demikian pula jika kita menggunakan wrangka gaya Sumenep yang menggunakan deder gaya Donoriko dari bahan gading yang bagian bawahnya cukup lebar, tentu mendak Kendhit akan kurang sesuai karena diameternya terlelu kecil. Nah, detail teknis inilah yang perlu kita perhatikan dalam memperlakukan keris yang kita miliki agar memuat nilai estetis yang baik.
Memang, pandangan atas keserasian ini sebetulnya juga terkait dengan selera kita masing2. Tetapi ada kecenderungan penilaian umum atas sebuah keserasian dan nilai seni ini itu sendiri jika kita sudah cukup mengenailnya. Kembali lagi, pemahaman dan tingginya wawasan atas sebuah budaya cukup berperan dalam hal ini. Dan inilah yang akan diangkat oleh teman2 dari Paguyuban MERTIKARATA (Pemerhati Keris Jogjakarta) pada bulan September nanti dengan menyelenggarakan acara bertajuk "Lomba Estetika Keris" sekaligus didalamnya akan diadakan pameran, bursa serta Silaturahmi yang dikemas dalam acara Syawalan. Semoga acara tersebut bisa berjalan dengan baik dan lancar sesuai harapan. Sekaligus bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi masyarakat perkerisan Nusantara atas pentingnya nilai2 estetis dari sebuah Keris beserta seluruh perangkatnya. Nah, untuk itu dari sekarang, siapkanlah keris2 yang memiliki keindahan totalitas untuk diikutkan dalam acara besar berskala Nasional tersebut, yang akan memperebutkan trophy Sri Sultan Hamengku Buwana X.
Salut buat teman2 Mertikarta !!!!
Salaam,
kerisfotopic.net

Previous
Next Post »