Tentang WARANGKA ORISINIL (Bawaan lama dari keris),


Dulu ketika awal aku mengkoleksi keris tidaklah terlalu memikirkan wrangka apa yang digunakan oleh si Keris yang aku ambil. Pun juga tidak terlalu memperhatikan detail perabot yang digunakan. Asal ada wrangka, mendak, deder dan pendok pun sudah cukup puas. Apalagi keris yang aku beli menggunakan wrangka buatan baru yang terkesan mewah walaupun terbuat dari kayu biasa dan dengan pendok serta selut tembaga yang disepuh emas atau terlihat kuning menyala padahal harganya tidak terlalu mahal..... Ditambah ada selut yang tertancap di deder membuat keris makin terkesan gagah penampilannya.., menurut ku saat itu.
Tetapi seiring perjalanan waktu dalam memahami keris, urusan wrangka dan perabot ini menjadi kian menggoda untuk diperhatikan. Aku tidak lagi suka dengan wrangka dan perabot yang gumebyar terkesan mewah. Juga akan lebih memperhatikan bentuk & langgam bilah ketika harus memilihkan wrangka yang tepat menurut ku. Misal jika keris itu ramping kecil, maka aku cenderung memilihkan wrangka gaya Jogjakarta yang sederhana tapi bersahaja. Tetapi jika kerisnya besar gagah, akan aku pasang pada wrangka gaya Solo yang juga terkesan gagah. Apabila aku dapat keris tangguh Sumenep, maka aku akan cenderung memilihkan wrangka gaya Sumenep, atau Jawa Timuran... dan sebagainya....
Ternyata memang kesesuaian antara wrangka dengan bilah keris ini akan bisa memunculkan kesan dan karakter tersendiri bagi si keris dan tampilan luarnya. Keris akan semakin mrabawani (berwibawa), bersahaja, wingit dan sebagainya... juga ada kaitannya dengan tampilan wrangka yang digunakan. Sekaligus jika keris menggunakan wrangka sesuai daerahnya, maka keris akan lebih tampak keotentikannya sesuai wilayah. Ke-khas-an atas daerah yang dimunculkan dari seni wrangka keris akan semakin menunjukkan kearifan budaya lokal dan memperkaya khazanah budaya Nusantara.
Lantas kini, ketika aku sudah sekian tahun berkutat dengan budaya Keris, aku semakin selektif dalam memilih keris berikut dengan perabot dan wrangkanya. Sebagai contoh, jika aku akan mengakuisisi keris tangguh Jogjakarta Hamengku Buwana (HB) misalnya, aku cenderung akan mencari keris yang menggunakan wrangka orisinil atau bawaan lama. Bukan keris tangguh jogjakarta HB yang menggunakan wrangka baru. Atau jika mencari keris tangguh Surakarta Paku Buwana (PB), aku juga cenderung mencari keris yang diikuti dengan wrangka serta perabot bawaannya lama atau orisinil. Mengapa ? Karena era kedua tangguh tersebut terbilang masih baru saja (150-100 tahun). Saya beraumsi bahwa di usia seperti itu wrangka dari kayu akan tetap terawat, apalagi jika dikaitkan bahwa pada jaman itu keris sungguh diugemi (diyakini) memiliki nilai lebih sehingga urusan perabotpun akan diperhatikan dan dirawat oleh si empunya keris. Dan lebih dari itu, ke-otentik-an keris bahwa itu adalah tangguh HB ataupun PB bisa diperoleh. Bukan keris buatan baru atau putran. Selain itu nanti jika kita akan memidahtangankan keris tersebut, nilainya pun akan lebih bagus karena semuanya masih orisinil.
Misal lainnya, jika mendapat tawaran keris tangguh Mataram atau Majapahit atau tangguh sepuh lainnya, aku juga lebih suka jika keris tersebut diikuti dengan wrangka bawaan lama. Mendapatkan keris dengan Wrangka buatan lama menurutku lebih menyenangkan. Sekali lagi menurut ku, karena pembuatan wrangka lama lebih ada penjiwaan dari si mranggi sehingga hasilnya pun terkesan lebih luwes. Selain itu pemilihan materialnyapun juga lebih diperhatikan, apalagi mungkin ketika itu kayu sebagai bahan utama wrangka masih lebih mudah diperoleh. Semisal kayu Cendana wangi, Timoho dengan pelet ngingrim, Kemuning dan Trembalo, semua masih lebih mudah ditemui daripada saat ini. Demikian pula dengan ukiran, pendok dan mendak, kesannya luwes dan enak dilihat. Apalagi jika dikaitkan bahwa keris adalah salah satu benda antik, akan lebih baik jika ditunjang oleh pemilihan wrangka dan perabot yang antik (lama) pula. Dan dari situlah aku mulai sering mengumpulkan wrangka2 dan perabot buatan lama walaupun tidak ada keris yang akan disetting didalamnya, tetapi tetap aku kumpulkan saja sampai pada saatnya nanti ada keris yang datang dan sesuai dengan wrangka tersebut. Ternyata mengumpulkan wrangka dan perabot buatan lama mengasyikkan juga, ada seni tersendiri sama dengan ketika kita akan mengumpulkan bilah keris.
Tetapi walau aku suka dengan wrangka dan perabot buatan lama, bukan berarti aku anti dengan wrangka dan perabot buatan baru. Ada beberapa pengerajin wrangka (mranggi) dan tukang pembuat perabot seperti mendak dan pendok yang bertalenta sehingga hasil kerjanya juga memuaskan. Beberapa keris buatan baru dan atau keris lama yang memang sulit menemukan settingan pas dengan wrangka lama, tentu aku akan pesankan pada pengerajin wrangka saat ini. Apalagi jika keris tersebut berdapur Bethok atau Jalak Budho yang memang perlu disettingkan dengan wrangka Sandang Walikat dan dipercantik dengan ukiran halus, tentu perlu ke mranggi dan tukang ukir untuk membuatkan wrangkanya.
Sekedar sharing....
(Foto: Wrangka Branggah dengan perabot buatan lama gaya Jogjakarta)
kerisfotopic.net

Previous
Next Post »