SENDIKA DAWUH,


Dalam pranata sosial masyarakat Jawa dikenal ada kalimat "Sendika Dawuh". Kalimat ini umumnya diucapkan oleh seorang bawahan kepada atasan. Apa saja namanya, dari mulai kacung, jongos, batur atau abdi dalem kepada majikan atau orang yang menjadi atasannya. Arti Sendika Dawuh itu sendiri kurang lebih "siap melaksanakan perintah". Atau singkatnya "siap, laksanakan".
Dulu, Sendika Dawuh ini diucapkan seorang abdi dalem kepada raja karena mendapat titah atau perintah. Dengan demikian, Sendika dawuh ini meluncur dari sebuah rasa kepatuhan mutlak karena mendapat titah yang dipandang sebagai sebuah kehormatan untuk bisa melaksanakannya dengan sebaik mungkin. Itu dulu....... karena merupakan sebuah kehormatan jika seseorang bisa mengabdi dengan sepenuh hati dan tulus ikhlas kepada seseorang yang dipandang benar-benar layak untuk dihormati dan dijunjung tinggi tanpa pamrih. Kepatuhan mutlak... Taat atas sebuah titah yg wajib hukumnya untuk dilaksanakan.
Dibalik itu semua, Sendika Dawuh juga memuat aspek psikologis dari sebuah ketidakmampuan, ketidakberdayaan atas sebuah status sebagai andahan untuk melakukan bergaining position. Itu semua karena berangkatnya sendika dawuh ini berasal dari adanya strata sosial. Tetapi dalam perkembangan, Sendika Dawuh ini juga menjadikan seseorang dalam posisi aman sebagai bawahan yang memiliki kepentingan-kepentingan pribadi atau karena ketergantungan baik kekuasaan, akses maupun materi. Ketidakmandirian karena eksistensi yang masih lemah, juga menjadikan seseorang untuk lebih baik ber-sendika dawuh kepada orang yang berada di atasnya (superior) daripada harus bersikap. Bersembunyi dibalik kebesaran sang majikan atau juragan untuk mendapat sejumput nasi, itu memang lebih mudah.
Sendika Dawuh juga bisa menjadikan seorang batur atau jongos membela mati-matian sang juragan, walau entah itu benar ataukah salah. Tidak mampu lagi berfikir obyektif..., membutakan mata dan hati.... Sedikit saja orang ngerasani sang majikan, maka dia akan maju lebih dahulu seolah-olah hanya sang majikan yang benar dan dia adalah sang pembela. Setelah membela, biasanya orang yang sendika dawuh akan melaporkan apa yang dilakukannya kepada sang majikan... tentunya dengan bumbu-bumbu yang bombastis seolah-olah dia sungguh sangat berjasa sehingga layak mendapat apresiasi dari sang majikan. Dengan demikian, karena seseorang bisa mengatakan "sendika dawuh" maka dia bisa menyelamatkan posisinya sendiri di mata sang majikan. Sungguh, para penjilat menjadi bersuka cita dengan adanya kalimat ini. Seperti ketika di masa Orde Baru, orang-orang dekat Pak Harto yang kebanyakan penjilat, hanya bisa sendika dawuh saja sambil menyuguhkan tarian-tarian yang menina-bobokkan, hingga tanpa terasa sang penguasa itu terhempas oleh gelombang reformasi. Tak perlu menengok ke belakang di masa lalu siapa-siapa yang telah berjasa besar demi tegaknya republik ini, saat itu yang ada hanyalah dia yang berjasa.
Aku sendiri......, tahun 2006 telah keluar dari kantor dimana sudah bertahun-tahun aku bekerja di sana hanya karena tidak mau untuk sendika dawuh kepada kanjeng boss yang meminta ku agar mengikuti permintaan seorang bupati dalam pengaturan proyek. Memang berat karena aku dari awal ikut cawe-cawe mendesign berdirinya kantor tersebut sampai team benar2 running well, bisa menghidupi beberapa keluarga selama beberapa tahun... Tetapi dalam benak, tak sedikitpun ada keinginan untuk mengabdikan diri berlebihan sehingga hanya bisa "sendika dawuh" saja tanpa harus bersikap.
Dan, ketika para sendika-dawuhers itu serempak untuk koor : "menerima...!!!", "setuju....!!!", "sepakat..!!!" ....., maka diwaktu itu juga aku merasa harus melangkahkan kaki keluar ...... Melihat dari kejauhan rasanya sudah cukup, sambil nanti sesekali aku menyirami tunas-tunas yang mulai tumbuh dan sedang mencari jati diri.... Berusaha memahami apa yang harus dipahami dengan tanpa harus turut sendika dawuh. Ini lebih bermakna bagi ku pribadi sehingga leluasa untuk mengejawantahkan pemikiran-pemikiran dan angan-angan yang terpendam selama ini....... Sembari aku berdoa, semoga para kanjeng dan juragan-juragan yang di atas sana tidak terlena oleh sendika dawuhnya para bawahan.... Semoga segala tugas bisa terlaksana dengan baik sesuai harapan dan rencana yang sudah ada di angan-angan mereka... aminnnn...
kerisfotopic.net

Previous
Next Post »