Keris Sabuk Inten

".......Keris pusaka inilah yang malam ini akan dibawa adi ke Pajang, dikembalikan kepada pemiliknya, Kanjeng Sultan Hadiwijoyo," jelas Rekyana Patih.
"Malam ini ?" tanya Pamedung terkesan heran.
"Ya, malam ini. Agar tidak seorangpun tahu kepergian si adi. Ini demi keselamatan desa ini, termasuk paman Darpo sekeluarga. Bagaimanapun nama si adi pasti sudah diperhitungkan oleh mereka yang berkepentingan dengan kemelut yang terjadi di kademangan ini.
"Maksud Rekyana Patih memberikan kesan seolah-olah hamba masih ada di desa ini, begitu ?" Rekyana Patih mengangguk seraya memasukkan kembali keris pusaka itu ke dalam warangkanya. Pemedung termenung sejenak......."
Kalimat di atas adalah cuplikan dari sekian banyak dialog yang tertulis dalam buku yang berjudul "Dendam di Bumi Mangir" karya Antonius Darmasto, yang diterbitkan oleh Penerbit NARASI, Jogjakarta, 2010.
Berkisah tentang ontran2 yg terjadi di bumi Mangir, diawali oleh pertentangan antara Kadipaten Jipang Panolan dengan Kasultanan Pajang. Perbedaan pandangan yang terjadi menahun dan tak kunjung didapat kata temu. Tuntutan atas hak untuk menduduki tahta Kasultanan Pajang oleh Arya Penangsang. Keterlibatan Sunan Kudus sampai munculnya Jaka Tingkir. Sampai pada masa kejayaan Kasultanan Pajang yang ingin mewujudkan kerajaan besar yg bisa ambeg adil parama harta. Muncul di dalamnya banyak tokoh, dari Sultan Trenggono, Ki Ageng Mangir, Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Martani... dengan dialog yg tampak hidup.
Juga mengulas beberapa pusaka di era Pajang dan termasuk beberapa keris pusaka yang dibuat oleh mPu Supa Gati yang digunakan sebagai tetenger, pusaka dengan kekancingan untuk menunjukkan jabatan, pangkat seseorang dan ungkapan kepercayaan seorang raja .
(foto: Keris dapur Sabuk Inten Kinatah Wedana Pitu tangguh Pajang).

Previous
Next Post »