PUTRAN,


Berasal dari kata Putra (Jawa) yang berarti anak, maka Putran adalah anakan atau duplikasi. Dalam dunia perkerisan terdapat istilah Keris Putran, yang berarti keris duplikat (anakan) dari sebilah keris yang telah ada sebelumnya. Melakukan kegiatan untuk menduplikasi sebilah keris yang telah ada disebut Mutrani.
Mutrani sebilah keris tidaklah mudah. Keinginan untuk menduplikasi yang mirip dengan keris yang ada sebelumnya harus memahami berbagai kaidah2 pembuatan keris, dari mulai pemilihan bahan baku, teknik & pola penempaan, langgam atau gaya dari bilah sampai detail pengerjaan semua ricikan. Dengan memahami aspek terdetail itulah maka seseoran akan bisa membuat duplikat atau putran atas sebilah keris yang sudah ada.
Beberapa kali saya menemukan keris Putran yang benar2 memenuhi kaidah2 pembuatan keris sebelumnya. Salah satu contoh adalah Kanjeng Kyai Taman Sari yang sampai sekarang masih disimpan oleh pak Haryono Guritno. Ketika bertandang ke rumah beliau bersama beberapa teman, bercakap2 santai, kami disuguhi sebilah keris dengan kinatah yang sangat lembut & halus. Ternyata keris tersebut bergelar Kanjeng Kyai Taman Sari tangguh Mataram. Tidak biasanya beliau berkenan mengeluarkan salah satu koleksi kesayangannya tersebut. Dan untung bagi kami ketika itu bisa melihat dan menimangnya langsung. Tak selang beberapa lama setelah melihat2 keris tersebut, lantas beliau masuk lagi dan mengeluarkan sebilah tangguh Majapahit. Ketika disodorkan kepada saya dan melihat detailnya, ternyata keris tersebut benar2 sangat mirip dengan Kanjeng Kyai Taman Sari. Hanya saja satunya tangguh Majapahit dengan kinatah yang bisa dikata sudah habis, tetapi masih tergores alur yang memang adalah kinatah taman sari. Sedangkan satunya lagi yang kinatahnya masih utuh adalah tangguh Mataram.
Dari pengalaman ini menunjukkan bahwa sesungguhnya memutrani keris bukanlah pekerjaan mudah. Mutrani dalam arti sebenarnya, berusaha menduplikasi tanpa ada keinginan jahat atau niatan buruk atas hasil putran tersebut. Bagi yang bisa memahami kaidah2 tersebut, maka akan bisa dengan mudah membedakan mana keris yang aslinya (buatan sebelumnya) dengan yang putran (buatan setelahnya).

Tetapi saat ini, banyak sekali beredar keris putran yang dibuat dengan tujuan untuk memalsukan sebuah karya dan lantas keris putran tersebut diakui atau dipublikasikan sebagai keris asilnya. pada perkembangannya, hal inilah yang akhirnya menjadikan orang2 yang memiliki keris2 bagus enggan untuk mempublikasikan koleksinya karena kekhawatiran untuk diputrani dan digunakan untuk tujuan yang kurang baik. Padahal masih sangat banyak keris2 yang kita belum ketahui sebelumnya masih tersimpan rapi di almari para kolektor.
Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri dan patut diberi penghormatan jika seorang kolektor keris bersedia mempublikasikan koleksi kelas wahidnya kepada publik tanpa ada rasa takut untuk diputrani. Kita harusnya sangat bersyukur dan merasa sangat beruntung masih bisa melihat koleksi2 bagus dari foto2, apalagi bisa memegangnya langsung.
Kembali ke persoalan putran, sungguh saat ini sudah banyak bergeser dari tujuan terdahulu. Dan ini akan berdampak sangat luas, bahkan sampai menimbulkan keengganan seseorang yang sebelumnya berkeinginan mengkoleksi keris, tetapi lantas merasa tertipu -- atau istilah umumnya "keblondrok" -- dengan membeli keris putran yang dikatakan sebagai keris aslinya. Dengan semakin berkurangnya keinginan orang yang mengkoleksi keris akibat keblondrok , tentu hal ini akan pula berdampak pada penjualan keris2 itu sendiri dan pada akhirnya akan merugikan pedagang keris. Efek domino yang panjang ini haruslah dipahami bersama agar semua bisa menjaga kelangsungan budaya ini baik bendanya, ilmu, penikmat, pecinta, pedagangnya sampai pada pasar. Jika tidak, maka semakin hari akan semakin berkurang pecinta budaya keris. ....... Sekedar untuk kita renungkan bersama.

(Foto : Keris Buatan Baru (kiri) yang mutrani bentuk Keris tangguh Jogjakarta HB VIII (kanan))
Previous
Next Post »