PENDITA SEMEDI,

PENDITA SEMEDI,
Salah satu dapur keris terdapat nama Pendita Semedi. Berbeda dengan Puthut, dapur Pendita Semedi menggambarkan seorang Pendita dengan mahkota kependitaan seperti pada ritual2 keagamaan Hindu di Bali dimana sang Pendita menggunakan mahkota. Sedangkan Puthut membentuk kepala manusia tanpa mahkota, hanya menggunakan rambut digelung konde dengan tataran di bawah seorang Pendita atau Brahmana.
Di sini seolah sang mPu ingin menunjukkan bahwa budaya keris sebagai pusaka sangat lekat dengan aspek spirituil. Budaya keris tidak bisa dilepaskan dari pemahaman spirituil..., apapun semenjak jaman Hindu sampai Islam berada di tanah Jawa, Keris sebagai pusaka akan lekat dengan aspek spirituil bergantung pada kemampuan membuka diri terhadap budaya oleh masing2 orang dan bagaimana menyikapinya.
Di sini dapur Pendita Semedi ini seolah mengejawantahkan sebuah permohonan, harapan, doa, atas manusia kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Upaya mendekatkan diri kepada Sang Maha Agung dengan selalu bermunajat. Mengingatkan bahwa manusia hidup ini, walaupun dalam tataran kapandhitan atau sudah mumpuni dalam segi ilmu agama, tetap berada dalam kendali Sang Pencipta karena hanya kepada Tuhanlah segalanya berhulu dan akan bermuara. Ora kerana Keris, ora kerana pangkat utawa kesaktian, uga ora kerana donya... Semua itu hanya karena kedekatan insan dengan Khaliq sehingga kita bisa mendapatkan ridhoNya.
Pencarian atas jati diri, pemahaman atas siapa diri kita sesungguhnya, bahwa sesungguhnya perjalanan hidup manusia bisa menjadi Pusaka bagi anak cucunya kelak jikalau seseorang bisa menempatkan diri dalam hubungannya dengan Sang Pencipta Alam dan mengimplementasikan kapasitas spirituilnya itu dalam kehidupan nyata. Kapasitas spirituil bisa berbeda2 satu dengan yg lain. Terpenting adalah konsistensi dan konsekuen atas apa yg dipelajari, disampaikan, dan yg dilakukan dengan tetap menjalankan "aturan2" yg ada yg diyakini. Segala upaya pencapaian harkat, usaha memahami jati diri, aktivitas mempelajari ilmu dan perjuangan mencapai kesejatian tidaklah berguna jika tidak dilaksanakan dalam kehidupan sehari2 yg manfaat. Bukankah perjuangan itu adalah pelaksanaan kata2 ?
Akan tetapi ketika seseorang terlalu asyik dalam tafakkur bersemedi, bermunajat, dan berharap bisa mencapai tataran "lebih", keasyikan itu bisa saja akan menyeret pada kesendirian. Bukan kesejatian. Atau bahkan menduakanNya dengan tanpa disadari...........
.....sepi howo.. awas loroning Atunggil.
(Foto : Keris Dapur Pendita Semedi Tangguh Pajajaran)
Previous
Next Post »