PAMOR TERSAMAR


Jika kita mengamati detail keris2 yang ada, kita akan mengetahui bahwa ada beberapa keris yang memiliki pamor tersamar. Hal ini memang sengaja disamarkan oleh sang mPu dan umumnya keris seperti itu lebih mementingkan aspek tempa & wasuhan besi yang matang dengan garap bilah yang presisi (garap) dan benar2 dilakukan secara teliti. Sepintas dari jauh keris seperti itu terkesan berpamor Kelengan atau tanpa pamor. Tetapi jika didekati akan terlihat guratan2 pamor yang memang samar. Walaupun berkali2 diwarangi, pamor tersebut tetap akan tersembunyi dan besi keris tidak bisa hitam legam, tetapi lebih pada abu2 semu kehijauan. Lantas untuk apa pamor tersebut disamarkan oleh sang mPu ?
Jika dikembalikan pada esensinya, pamor adalah sebuah tampilan kasat mata. Sebuah pencitraan yang bisa dengan jelas dilihat oleh si pemandang. Siapapun yang melihat sebilah keris akan sering bertanya, "ini ada gambaran apa ?" atau "ini pamornya apa ?". Inilah yang sering menjadi pertanyaan awal ketika seseorang melihat dan menggeluti budaya keris. Seperti halnya pakaian dan asesoris, Pamor merupakan kesan yang terlihat langsung dan sifatnya keduniawian.
Pada tataran mumpuni dengan keahlian seni tempa yang cukup dan tingkat spiritual tinggi, seorang mPu akan lebih mementingkan aspek garap besi dan bilah dibandingkan pamor. Hal ini bisa dilihat pada beberapa keris2 sepuh (tua) yang ketika menanggalkan pamor, dia akan lebih mengedepankan aspek garap. Kembali pada esensi keris itu sendiri sebagai Tosan Aji, dimana Tosan (besi), tingkat penghargaannya jauh lebih tinggi. Dengan demikian, aspek pemilihan besi, tempa, wasuhan, garap dan penyepuhan, menjadi aspek yang lebih utama dibandingkan dengan membentuk pamor yang gebyar dan berkesan keduniawian. Disini bukannya seorang mPu tidak ingin menerapkan pamor. Teknik pembuatan pamor itu sendiri cukup rumit, tetapi jika dipahami proses penempaan besi keris, maka membuat pamor yang tersamar akan jauh lebih sulit pengerjaannya. Sepertinya sang mPu ingin menunjukkan bahwa membuat pamor tersamar seolah2 dia lebih mengedepankan aspek batiniyah, bukan lagi lahiriyah. Menanggalkan segala hal2 yang sifatnya keduniawian.
Demikian juga pada kehidupan sehari2, dimana seseorang sudah pada tingkat spirituil yang tinggi, maka orang tersebut akan dengan ikhlas menanggalkan segala aspek keduniawian yang bersifat gumebyar. Lebih mengedepankan kehalusan budi pekerti, ketulusan hati dan keikhlasan jiwa dengan tujuan agar selalu bisa bermunajat, manembah dening gusti Kang Maha Agung. Tutur katanya lembut dan prilakunya menenangkan lingkungan sekitar. Bukan mengedepankan pangkat, jabatan, kekayaan dan segala pernak-pernik keduniawian lainnya. Dan ketika pada posisi tersebut, orang akan zuhud. Ingat bahwa dalam hidup sesungguhnya segala hal yang sifatnya duniawi bukanlah tujuan utama dari hidup.
(Pamor yang tersamar)
Previous
Next Post »