NGGEGE MONGSO,

NGGEGE MONGSO,
Maknanya memiliki keinginan yang harus segera terlaksana. Tergesa2. Nggege Mongso ini muncul akibat keinginan yang tak terkontrol sehingga yang muncul adalah ketergesaan. Tanpa perhitungan & perencanaan yang matang. Ada perasaan seperti, "dia punya, kok aku gak punya ?", atau "dia bisa kok aku gak bisa ?". Bisa saja sifatnya derajat, semat atau materi, dimensi pamrih atau meri.
Nggege mongso atau ketergesaan dalam hal apapun akan menimbulkan hasil yang kurang baik. Bahkan cenderung akan menjadikan masalah baru dengan tanpa disadari. Misal dalam pembangunan, jika tanpa perencanaan matang, terkesan grusa-grusu, tergesa-gesa, tentu pelaksanaanya akan kurang baik. Dalam musyawarah... memang baik membicarakan sesuatu bersama orang banyak. Tetapi jika Ngege Mongso, dilakukan dalam ketergesaan, persiapan yang kurang matang, apalagi dengan muatan niatan2 yang sudah kurang baik, maka musyawarah bisa saja akan malah menimbulkan perpecahan dan permasalahan baru. Demikian pula dalam dunia Tosan Aji. Keinginan kuat untuk memiliki koleksi yang bagus, tanpa melihat potensi, kenyataan dan kemampuan (baik materi maupun pemahaman), maka yang didapat adalah Tosan Aji yang diluar harapan.
Mengkoleksi keris, harus dilakukan dengan sabar, santai diimbangi dengan peningkatan wawasan, pemahaman serta kemampuan. Keris yang memiliki kualitas tempa matang dan padat, garap bilah yang tegas berkarakter, atau jika berkinatah, garapnya halus dan memang orisinil semua, ataupun keris dengan ricikan yang masih utuh, jika harus jujur, jumlahnya tidak begitu banyak. Kalaupun ada, biasanya sudah disimpan para kolektor, keluarga dan orang2 yang memiliki pandangan bagus terhadap tosan aji atau karena ngugemi warisan keluarga sehingga pusaka itu tidak dikeluarkan. Keluar jika terpaksa harus keluar. Nah, disini perlunya kita benar2 sabar dalam menunggu. Tidak perlu nggege mongso. Nanti jatuhnya meri, iri dengki. Bisa saja ketika seseorang memiliki koleksi yang lebih bagus malah dirasani, bukannya malah belajar darinya. Atau bahkan difitnah sehingga dibilang kerisnya jelek, buatan baru yang dituakan dan sebagainya, bukannya malah kita berterima kasih ketika bisa melihat koleksi2 bagus tersebut dikeluarkan sebagai bahan pembelajaran.
Di atas langit masih ada langit, pemahaman ini harus diugemi, dipegang teguh agar tidak tergesa2 dalam mengkoleksi keris. Dipahami bahwa ilmu perlu diburu kepada siapa saja yang memiliki pemahaman lebih. Memang ada istilah "tidak ada yang ahli atau pakar" dalam dunia tosan aji, tetapi masih istilah "belum paham", "kurang paham", "paham" dan "lebih paham". Nah, tinggal kita pribadi yang bisa mengetahui kepada siapa kita belajar, bertanya dan menimba ilmu. Masing2 orang akan berbeda2 penilaiannya, tetapi seiring perjalanan waktu, wawasan dan pergaulan, semua itu akan mengerucut pada pemahaman lebih terhadap tosan aji. Dulu keris yang dipandang jelek akan menjadi bagus, dulu orang yang dipandang tidak paham, ternyata lebih paham, dulu keris dengan kinatah orisinil lama dituduh keris buatan baru ternyata baru diketahui bahwa kinatah itu adalah kinatah lama, atau dulu ketika ingin mengkoleksi keris dalam kuantitas banyak menjadi berkurang dengan mengumpulkan yang garap, dan sebagainya. Dan dengan peningkatan kapasitas itu, nggege mongso ketika ingin mengkoleksi bisa dihindari sehingga apa yang kita koleksi akan lebih bermakna.

(Foto : Keris Luk 13 dapur Naga Sasra Kinatah Wedana Sawelas Tangguh Mataram)

kerisfotopic.net
Previous
Next Post »