MPU (Empu) - DALAM PERSPEKTIF KEKINIAN YANG KIAN TERDEGRADASI,

 MPU (Empu) - DALAM PERSPEKTIF KEKINIAN YANG KIAN TERDEGRADASI,
Mungkin dalam bahasa Inggris diartikan Master. Dalam bahasa Indonesia kurang lebih sebuah gelar kehormatan kepada orang yang sangat ahli atau memiliki keahlian cukup tinggi. Orang akan memiliki gelar mPu atau Empu bilamana ia memiliki kesaktian, kepandaian atau kemampuan olah batin dan spiritual jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dan juga menghasilkan berbagai karya agung atau masterpiece. Dalam bahasa Indonesia, jika seseorang memiliki keahlian lebih terhadap sesuatu, maka di sebut "muMPUni", mungkin kata awalnya berasal dari kata "mPu" (?). Demikian Pujangga, yang berawal dari paduan kata mPu & Janggan.
Dengan demikian, gelar mPu diberikan kepada mereka2 yang telah mempelajari secara totalitas atas sesuatu hal sehingga dia bisa melakukan sesuatu itu dari awal sampai akhir dengan keahlian tingkat tinggi sehingga apa yang dihasilkan bisa menjadi maha karya atau karya agung yang diakui oleh banyak orang. Bisa saja gelar ini diberikan secara tidak langsung, dalam arti seseorang akan memiliki gelar mPu jika lingkungan menyebutnya demikian karena keahliannya tersebut dalam karya apa saja, bisa syair, lukisan, keahlian spirituil & olah rasa dan sebagainya. Salah satu diantaranya dalam budaya keris.
Dalam budaya keris, kata mPu (Empu) ini sungguh lekat di telinga masyarakat perkerisan. Gelar mPu diberikan kepada orang yang bertanggung jawab langsung dan menyeluruh dalam pembuatan bilah keris. Dia adalah orang yang memilih bahan baku. Mana2 jenis besi yang sesuai dengan harapan nantinya keris jadi, material pamor apa yang sekiranya bisa ditempa sesuai dengan pamor yang direncanakan nanti. Juga menentukan saat dimulainya pekerjaan, mengolah bahan pembuatan keris, merekayasa pola pamor, mengerjakan dapur, ricikan sampai pada ubo rampe (sesaji) hingga penyepuhan dan sampai akhirnya keris tersebut jadi secara total. Karena proses pembuatan keris itu sangat rumit dan mensyaratkan keahlian totalitas, juga sebagian memandangnya berbahaya, maka seorang mPu itu juga dipandang memiliki kapasitas ilmu kanuragan & spirituil yang tinggi.
Dari rasa percaya secara sukarela oleh masyarakat luas terhadap seseorang yang dipandang memiliki kemampuan linuwih itu dan lantas menyebutnya sebagai mPu tersebut, maka si mPu akan terus berkarya dan menghasilkan karya2 agung yang spektakuler. Sampai pada akhirnya pihak Kraton (Kerajaan) pada jaman dulu dipanggil ke kota raja dan dijadikan sebagai salah satu mPu Kraton. Di sana, segala kebutuhan hidupnya akan dipenuhi, bahkan diberi gelar dan hadiah berupa tanah ataupun hasil upeti lainnya. Diharap si mPu tadi mampu terus menghasilkan karya agung bagi kerajaan. Dari sini legitimasi kerajaan sebagai pusat kekuasaan semakin memperkuat dan meneguhkan posisi seseorang yang disebut sebagai mPu sehingga semakin dikenal dan diakui keberadaannya secara formal.
Tidak perlu jauh2 menarik ke belakang untuk contoh seorang mPu keris. Sebut saja mPu Djeno Harumbrojo (almarhum), salah seorang yang sudah diakui oleh banyak kalangan sebagai mPu Keris, memiliki karakter yang kalem bahkan cenderung pendiam, rendah hati, tidak menonjolkan diri, dan penampilannya selalu bersahaja. Beliau sangat paham memilih besi dan bahan pamor yang bagus digunakan untuk membuat keris. Bagaimana mewasuh besi agar mencapai tingkat kemurnian tinggi, dari awal memulai karyanya telah melalui sebuah proses evolusi sampai pada karyanya menjadi berkarakter. Dan walaupun kalangan Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menyebutnya sebagai seorang mPu keris, tetapi beliau tetap saja bersahaja. Tidak pernah menyebut dirinya sendiri dengan sebutan mPu. Lebih berusaha untuk menghasilkan karya2 yang berkarakter dengan wasuhan besi yang bisa dikata untuk saat ini, istimewa. Demikian pula dengan Jejeneng mPu seperti Tumenggung Ruyokusumo yang dikenal sebagai lurah mPu di bangsal Sri Manganti Jogjakarta. Melakukan tugas2 sebagai suprvisor atas pengerjaan sebilah keris yang lantas sekarang muncul istilah keris Tangguh Jogjakarta Srimanganti. Sebagai supervisor atau luar mPu, beliau telah menguasai seni olah tempa dan kanuragan yang mumpuni sehinga Sultan Jogjakarta, Hamengku Buwana V memberikan kepercayaan kepadanya. Jadi sebagai lurah mPu, dia memberikan arahan2 karena dia telah memahami proses pembuatan bilah keris dari awal sampai akhir. Bukan tanpa sebab dia diangkat menjadi lurah mPu.
Nah, jika dikaitkan dengan kondisi yang terjadi saat ini, cukup banyak orang yang mengangkat dirinya sendiri sebagai mPu. Ketika ada kesempatan dan atau ada peluang sedikit saja, maka tidak ada rasa malu sedikitpun untuk mencantumkan titel mPu di depan namanya. Entah hanya karena telah membuat desain keris, cukup dengan memberikan bahan2 kepada seorang Pande, atau bahkan sekedar menjadi inisiator saja atas sebilah keris. Titel tersebut dicantumkan dengan tanpa mengambil pusing apakah masyarakat luas telah mengakuinya sebagai mPu atau belum, apakah dirinya secara pribadi telah menguasai keahlian teknis & spirituil dalam pembuatan keris dari hulu sampai hilir atau tidak, sudah memahami nilai2 yang terkandung dalam bilah2 keris atau belum, sudahkah prilakunya patut disebut panutan atau tidak... semua itu seolah tidak dipikir panjang dan tidak digubris hanya karena egoisme tanpa pikir panjang atau karena keinginan agar segera menjadi tokoh berpengaruh atau bahkan hanya agar diakui keberadaannya demi popularitas dan merapup pundi2 rupiah semata.
Sebetulnya gelar mPu ini, karena tidak formal, maka silahkan saja bebas merdeka bagi masing2 orang untuk menyebut dirinya sebagai seorang mPu. Belum ada institusi resmi yang mengeluarkan gelar mPu seperti halnya gelar Doktor, Doktorandus, Insinyur, dan berbagai gelar kesarjanaan formal lainnya. Hanya saja, kita kembalikan kepada diri kita pribadi. mengaca, mawas diri, merenung secara lebih dalam dan jujur kepada sanubari, sudahkah kita pantas disebut sebagai seorang mPu yang benar2 memahami sesuatu secara totalitas dan dilandasi tingkat spiritualitas tinggi ? Alasan2 apa yang lantas membuat diri kita ingin disebut sebagai seorang mPu ? Terpenting yang perlu dipahami adalah bahwa gelar, apapun akan selalu memuat konsekuensi2 logis yang cukup beragam dan banyak. Seorang profesor akan diakui gelarnya jika tingkat keilmuannya memang benar2 manfaat. Akan tidak dipandang jika lantas prilakunya menyimpang, bahkan akan cenderung menjadi cibiran bilamana analisis2 keilmuannya malah menjadikan malapetaka dan berakhir di penjara. Banyak yang bisa menjadi contoh untuk hal ini. Ini bukan tuduhan, tetapi sekedar sebagai refleksi untuk kembali mengaca kepada diri pribadi masing2.
Untuk itu, saya berharap pada suatu saat nanti, ada sebuah institusi formal, entah apapun bentuknya, yang mulai memikirkan hal ini. Gelar mPu bisa saja diberikan kepada seseorang setelah melalui tahap2 pengujian atau semacam akreditasi, dan atau karena memang kapasitas seseorang yang telah teruji dan sudah diakui oleh masyarakat luas dalam hal keahliannya membuat keris serta kedalaman pengetahuannya bab tosan aji.
......Atau, apakah kita sebagai generasi penerus budaya perkerisan ini memang berkeinginan untuk mendegradasi, men-down grade istilah mPu Keris agar lebih memudahkan kita untuk dianggap telah melestarikan budaya keris dengan pemberian gelar mPu kepada seseorang. Atau gelar mPu yang tidak diberikan oleh siapa2, tetapi diberikan dari dan kepada dirinya sendiri oleh mereka2 yang memiliki ambisi dan segala kepentingan pribadi untuk disebut sebagai mPu keris masa kini ? Ya sumonggo saja..... Bukankah jaman itu selalu mengalami perubahan ? Ada kalanya muncul jaman keemasan yang benar2 mampu menjunjung tinggi budaya lokal, tapi ada kalanya malah membuat kemunduran dengan menempatkan budaya sebagai sebuah komoditas murahan..... Sekedar untuk kita renungkan bersama.
Previous
Next Post »