MEMILIH dan MEMILAH KERIS SEPUH,


Memang, cukup sulit jika kita ingin mengkoleksi keris. Selain jumlahnya yang sangat banyak, juga kondisi lapangan yang membuat kita agak susah menentukan arah bagaimana sebaiknya kita memilih keris untuk dikoleksi. Dari berbagai hal, ada aspek yang sifatnya fisik, dimana penilaian ini dilandaskan pada bilah keris baik itu kualitas tempa, kualitas material, pamor dan lainnya sampai pada wrangka yang digunakan. Tetapi ada pula penilaian keris dari aspek non fisik atau yang biasa disebut Tuah keris. Orang memilih aspek non fisik ini karena berbagai alasan. Tetapi bagi saya pribadi, akan lebih mementingkan aspek fisik, sedangkan aspek non fisik bagi saya adalah semacam Bonus. Ibarat jika di depan saya ada mobil Jaguar, Panther, bahkan Colt Diesel, maka saya akan cenderung memilih Jaguar. Selain dibuat detail, mesin kapasitas besar, walaupun matic, tetapi ada settingan sport dan ketika pedal gas ditancap, maka mobil akan melejit kencang. Bahkan shock bisa di setting manual sehingga terasa nyaman dengan interior yang menunjang. Akan berbeda dengan Panther atau bahkan Colt Diesel. Dari keahlian mengetahui aspek fisik rancang bangun mobil, maka kita akan mendapatkan kenyamanan & keamanan mengemudi. Masalahnya, Jaguar tentu lebih tinggi harganya dibandingkan dengan Panther. Namun ini hanya sebuah ibarat saja, walaupun sesungguhnya keris tidak bisa diibaratkan semacam itu. Tetapi yang jelas, untuk aspek fisik akan lebih mudah dipahami.
Ada banyak kriteria yang telah dibuat oleh banyak orang, beberapa diantaranya adalah :
WUTUH, yang menunjukkan pada kriteria keutuhan bilah keris dan ricikan yang ada, seperti Kembang Kacang, Greneng, Bilah dan sebagainya. Keris sepuh, karena sudah melewati masa yang cukup panjang, tentu akan terdapat korosi pada bilahnya. Tetapi tingkat keutuhan seberapa yang bisa kita toleransi ? Kita kembalikan pada diri kita masing2. Misal, Kembang Kacang keris tangguh Segaluh, umumnya sudah aus karena tipis, lantas kita menoleransi keausan tersebut, ini adalah hak masing2 pribadi. Terpenting, bilah keris masih utuh, tentu akan lebih enak dipandang.
WESI (Besi), lebih merujuk pada material besi yang digunakan serta garap besi yang dihasilkan. Misal, terdapat keris yang memiliki besi lumer atau padat seolah tanpa serat saking padatnya, atau besi keris yang luluh dan terkesan licin (tanpa mengalami sangling atau besutan / dipadatkan secara sengaja), tentu akan lenbih bagus dibandingkan keris yang besinya terkesan nggerosok berbintik2 keras seolah kurang wasuhan. Untuk beberapa tangguh keris memang sulit diperoleh besi yang lumer atau padat. Misal keris tangguh Sumenep, Tuban, Madiun bahkan Singosari. Tetapi beberapa kali saya temui koleksi teman dari tangguh tersebut yang besinya benar2 bagus tidak seperti umumnya keris yang ada. Sulit memang, jadi kita kembalikan pada diri kita sendiri seberapa besar variabel Wesi ini menjadi penting dalam pemilihan keris.
GARAP, menunjukkan aspek Garap atau pengerjaan bilah keris. Garap ini juga merujuk pada rancang bangun sebilah keris. Misal, keserasian antara panjang bilah dengan panjang gonjo. Condong Leleh, Bentuk kembang Kacang dengan gandik, presisi penggarapan kruwingan, sogokan dan sraweyan. Trep Gonjo dengan wilah, dan berbabai aspek teknis lainnya. Keris sebetulnya memiliki rancang bangun yang cukup rumit. Asumsinya, orang jaman dulu membuat rumah saja harus dihitung, blandar, limasan, soko dan sebagainya.... lha ini adalah pusaka. Maka tentu hitungan2 teknis juga akan dimasukkan didalamnya. Kerumitan ini yang menimbulkan keengganan kita untuk mempelajari. Begitu beragamnya dapur keris juga menjadi penyebab kerumitan ini. Keris yang enak dipandang, tentu memiliki semacam disiplin perhitungan antara satu dengan lainnya. Disihilah misteri penggarapan keris sehingga enak dilihat dan pas.
SEPUH (Tua), dimana aspek ini menunjukkan pada ke-tua-an sebilah keris. Jika kita ingin mendapatkan keris tua, harus benar2 memahami apakah keris yang kita koleksi tersebut adalah keris tua, bukan keris baru yang dituakan. Ini sangat rumit karena terkait dengan seni menuakan keris yang semakin hari semakin canggih. Juga bentuk ragam keris yang sangat bervariasi. Hal yang sering saya sarankan, jika kita masih pemula, sederhanakan pemilihan keris pada keris2 umum, misal Sengkelat, Kebo Lajer, Sabuk Inten dll. Ini akan meminimalisir resiko. Jangan lantas karena yang terkenal adalah Naga Sasra, Singo Barong, Puthut Kembar dan keris Ganan lainnya lantas kita mengkoleksi keris2 tersebut yang sebetulnya jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan keris umumnya. Demikian pula dengan keris tangguh Kediri, SIngosari dan Majapahit yang jumlahnya di lapangan sudah mulai sedikit karena sudah banyak disimpan oleh teman2 kolektor. Kriteria Sepuh ini membuat kita harus benar2 bisa memahami mana2 besi keris yang benar2 sepuh dari indikator serat besi, alur pamor, korosi natural..., dan mana2 keris buatan baru yang dituakan, menggunakan bahan dari keris atau tumbak2 tua yang lantas dituakan. Hal ini memang menjadi momok bagi para pengkoleksi keris karena banyak yang telah salah pilih. Awalnya ingin membeli keris tua, ternyata koleksi yang dikumpulkan adalah keris2 buatan baru.
PAMOR, juga menjadi salah satu variabel pemilihan keris. Pamor disini terkait dengan material pamor dan kualitas tempa pamor. Pandhes atau penancapan pada besi saton. Juga terkait dengan keutuhan pamor. Terutama pada pamor2 Rekan seperti Ron Genduru, Blarak, Udan Mas dan sebagainya. Material Pamor Meteorite akan cenderung terdapat gradasi dari mulai putih kilap sampai pada keabu-abuan gelap. Gradasi ini yang memunculkan keindahan tersendiri. Pamor yang hanya mengkilat saja malah bukan meteorite, tetap lebih ke Nikel. Sedangkan teknik penempaan, pamor harus pandhes menancap di besi keris. Tidak ngambang dan seolah2 kurang menempel pada bilah keris.
WAJA (Baja), pada bilah keris terdapat pada slorok atau aten. Ini terlihat pada keris sepuh dan beberapa keris baru, dimana terdapat perbedaan warna antara sisi tepi bilah keris dengan bagian tengahnya. Dimana bagian sisi samping akan cenderung lebih muda warnanya, dari mulai hitam ke abu2an, abu2 gelap sampai pada kehijauan. Teknik wasuhan Besi sampai pada tingkat pengotor rendah yang lantas disebut Baja ini cukup berat dilakukan dalam proses penempaan keris. Dengan wasuhan yang bagus, maka bilah keris akan cenderung lebih utuh karena besi yang dihasilkan mendekati murni. Wasuhan pada besi dengan kadar pengotor rendah ini juga menunjukkan kepiawaian sang mPu yang membuatnya.
WANGUN, ini terkait juga dengan segi Garap di atas. Keserasian komposisi bilah, keserasian panjang lebar, keserasian greneng dan sebagainya. Sampai pada keserasian antara bilah (Curiga) dengan Wrangka (Dalam hal ini, wrangka baik garap maupun materialnya juga perlu menjadi perhatian). Jika kita menemui keris yang seolah2 panjang gonjo kurang sebanding dengan panjang bilah, maka lihatlah dengan seksama, apakah bilah keris tersebut pernah dikepras atau bahkan di gonjonya. Perbandingan ini juga terkait dengan tangguh masing2 keris. Misal, tangguh Sumenep, tentu terkesan gonjonya lebih pendek dari bilahnya. Jadi pemahaman keris juga holistik, tidak sepenggal2.
GUWAYA, lebih bersifat kesan pribadi atas sebilah keris. Misal seseorang menyebut sebuah keris dengan karakter Berwibawa, bisa saja orang yang lain menyebut Wingit. Tetapi yang jelas, Guwaya lebih ditekankan pada karakter sebilah keris. Totalitas garap atas sebilah keris akan menghasilkan penampakan karakter yang cukup terlihat, apapun pandangannya. Dan Guwaya inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dari sebilah keris ketika dilepas dari wrangka dan dipandang.

Sebetulnya masih ada beberapa kriteria yang lain dalam usaha memilih keris yang bagus. Tetapi beberapa aspek dari variabel fisik ini bagi saya sudah cukup menunjukkan bagaimana keris tersebut dibuat, siapa yang membuat dan sampai pada tingkat spirituil si pembuatnya. Dari situ andai saja keris yang saya koleksi menampakkan hal2 yang sifatnya tidak rasional atau bisa dikata memunculkan energi tersendiri, maka hal tersebut saya anggap sebagai bonus karena saya telah memilih keris2 yang menunjukkan kapasitas garap. Hal ini memang sulit dan ketika kita menggunakan kriteria di atas secara saklek, maka kita agak kesulitan mencari keris tersebut. Kalaupun ada, biasanya nilai maharnya sudah tinggi. Oleh karena itu, kita kembalikan pada diri kita masing2 seberapa besar tingkat toleransi kita pada keutuhan, garap dsb. Terpenting kita memahami kriteria pemilihan keris sehingga ketika kita akan membelanjakan uang yang tidak sedikit untuk membeli keris, kita bisa lebih bersabar, berhati2 dan tidak terlalu terburu waktu. Perjalanan masih panjang... kita nikmati saja sebagai sebuah proses agar tidak gampang bosan.
Foto :
Keris dapur Sengkelat pamor Wos Wutah tangguh Pajang
Wrangka Ladrang bahan Cendana Wangi Lamen
Pendok Bunton Solo Swasa Lamen
Selut Jeruk Keprok Solo Mata Berlian Lamen
Deder Nunggak Semi Solo kayu Tayuman Lamen
Panjang Keris 39,5 Cm.
kerisfotopic.net
Previous
Next Post »