KESEIMBANGAN,


Terdapat salah satu dapur keris yang disebut SEPANG. Yaitu untuk menyebut keris yang bagian gonjo dan sor-soran relatif simetris antara depan dan belakang. Dapur ini cukup sederhana karena tanpa ada kembang kacang ataupun sogokan. Penekanan dapur ini ada pada bagian Sor-soran yang simetris, terkesan seimbang (balance). masing2 gonjo memiliki ujung yang lancip, tidak seperti pada umumnya keris.
"Keseimbangan", ini adalah kunci penekanan dari dapur Sepang. Jika melihat pada kondisi bumi yang kita pijak saat ini, siklus musim bergeser, bencana semakin kerap terjadi, satu sisi banyak yang kelaparan, di sisi lain banyak yang membuang2 makanan. Kejahatan semakin meraja lela dan kemaksiyatanpun semakin menggila... sungguh itu semua adalah kondisi yang sangat memperihatinkan. Dan jika hati kita sangat lembut serta ingat terhadap Sang Pencitpa, tentu bagi kita tiada hari tanpa tetesan air mata karena saking prihatinna atas segala kondisi tersebut. Sayang sekali tanpa kita sadari, kitapun terjebak dalam rutinitas keduniawian sehingga hati kita cukup kebal ketika membaca koran, melihat berita2 di TV dan atau melihat langsung kondisi di sekitar kita yang kian hari kian tak menentu.
Ketidakstabilan situasi baik alam, moral maupun berbagai hal yang ada dimuka bumi ini adalah karena tidak adanya lagi keseimbangan. Daya dukung ekosistem telah hancur. Hutan telah gundul, gunung sudah banyak dikeruk untuk urugan pemikuman, mineral telah ditambang tanpa memperhitungkan makhluk Bumi yang kian renta. Bahkan air sebagai salah satu sumber kehidupan telah dieksploitasi besar2an dan dihambur2kan. Akibatnya, gempa kian menggila, jalinan gunung berapi saling berlomba mengeluarkan lava pijar menunjukkan kekesalannya, cuauapun telah lelah dan airpun seolah meronta mengalir tak tentu arah. Bagaimanapun Bumi adalah makhluk yang bisa berkeluh kesah.
Segala keadaan itu berpulang kepada kita sebagai manusia yang telah ditunjuk sebagai Khalifah di bumi. Memimpin, mengarahkan dan mengayomi segala makhluk yang hidup di bumi. Manusia yang seharusnya bisa memayu hayuning bawana, ternyata malah menjadi mesin perusak paling dahsyat di alam semesta ini. Kembali, keseimbangan tidak dijaga. Apapun, ketika sesuatu tidak lagi seimbang, maka tentu kerusakan yang akan terjadi. Bagaikan mobil, jika salah satu roda tidak balance, tentu setir akan susah dikendalikan. Demikan juga emosi seseorang, ketika tidak seimbang, maka akan owah atau dianggap gila. Termasuk juga alam semesta, ketika kita terlalu mengeksploitasinya, tentu ketidakseimbangan akan berbuah malapetaka.
Maka disini dapur Sepang mengingatkan kita bahwa sesungguhnya kita manusia ini adalah Se-Pang (Sak Pang) satu dahan yang kita pijak, yaitu Bumi. Jika dahan yang kita pijak sendiri kita rusak, maka kehancuran yang akan terjadi. Oleh sebab itu sudah sepatutnya dari diri kita pribadi mulai menjaga keseimbangan dan menularkannya kepada lingkungan sekitar. Kembali menempatkan manusia agar bisa memayu hayuning bawana dalam arti seharusnya bisa membuat dunia terasa damai, tenteram, dan sejahtera.
(Foto : Sepang Hurubing Dilah pamor Pulo Tirto tangguh Majapahit)
Previous
Next Post »