Keris SINGA BARONG,

Keris SINGA BARONG,
Terdapat salah satu dapur keris yang diberi nama SINGO BARONG, yaitu untuk menyebut keris yang pada bagian gandik (depan-bawah) terdapat stylisasi Singa yang duduk dengan kaki belakang. Entah semenjak kapan penamaan ini dimunculkan mengingat umumnya nama2 dapur keris lainnya menggunakan bahasa Jawa kuno, sedangkan Singo Barong menggunakan bahasa jawa yang umum sekarang ini. Bentuk pada bagian gandik adalah singa dalam posisi duduk di kaki belakang. Posisi ini seperti yang terdapat pada pintu/gapura Candi. Ikonografi di Borobudur menampilkan patung singa-pengawal dengan sikap duduk seperti itu. Itulah sikap santai, tenang, dan anggun tetapi penuh kewaspadaan tanpa menampilkan sikap mengancam. Dengan sikap duduk seperti itu, Singa dapat langsung berdiri dengan sekali gerakan lompat.
Singa tidak saja dikenal di Afrika, tetapi di China, Eropa, Nusantara dan berbagai negara lainnya mengenal dan memaknai Singa ini dengan beragam arti. Di masyarakat China, singa merupakan binatang yang memiliki arti penting. Sepasang patung singa, jantan dan betina sering terlihat di depan gerbang bangunan-bangunan tradisional bangsa Tiongkok. Singa dianggap sebagai raja dari para binatang yang melambangkan kekuatan dan pengaruh. Patung singa juga digunakan untuk menunjukkan peringkat atau kedudukan seorang pejabat negara di China dengan melihat jumlah gundukan yang diperlihatkan oleh rambut keriting pada kepala singa. Rumah dari pejabat tingkat satu memiliki 13 gundukan dan jumlah itu menurun satu gundukan setiap turun satu peringkat. Pejabat dibawah tingkat tujuh tidak diperbolehkan memiliki patung singa di depan rumah mereka.
Yang sangat menarik adalah singa bukanlah binatang asli dari negeri Tiongkok. Ketika Kaisar Zhang dari Han Timur memerintah pada A.D. 87, Raja Parthia mempersembahkan singa kepada sang kaisar. Singa lainnya dipersembahkan oleh sebuah negara di daerah tengah asia pada tahun berikutnya. Patung singa pertama kali dibuat pada permulaan Dinasti Han Timur. Adanya patung singa pada jembatan juga merupakan sebuah hal yang umum. Sebuah jembatan terkenal, Lugouqiao, dibangun dari 1189 M, sampai 1192 M., memiliki patung-patung singa yang berjumlah sekitar 498 sampai 501. Sebuah pepatah terkenal berbunyi "Singa dari Lugouqiao tidak terhitung banyaknya".
Penggunaan kata singa ini juga dipengaruhi agama Budha yang memperkenalkan patung singa pengawal seperti tampak di pelataran Candi Borobudur (abad ke 9 M.). Singa adalah lambang Sidharta Gautama yang sebelum menjalani kehidupan sebagai Budha menjadi pahlawan bangsanya dengan gelar Ksatria Sakyasimha (Singa bangsa Sakya atau Simha).
Pada kerajaan Mataram era pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, konon para telik sandi (intelejen negara yang merupakan orang2 kepercayaan Sultan Agung, diberi kelengkapan keris berdapur Singa Barong. Hal ini seakan merupakan sebuah perlambang bahwa para telik sandi harus kuat, gagah, selalu waspada dan setia (loyal) kepada Raja.
.....dan tentunya, dalam sebilah keris dapur Singo Barong juga memuat berbagai makna lebih dalam selain yang telah tersebut di atas. 

Previous
Next Post »