KERIS & PERJALANAN SEJARAH BANGSA

KERIS & PERJALANAN SEJARAH BANGSA, Apakah masih demikian adanya ?

Dalam perjalanan sejarah Kerajaan2 di Nusantara, Keris selalu muncul menyertai berbagai kejadian ataupun kegiatan baik pemerintahan maupun sosial masyarakat. Sebut saja keris buatan mPu Gandring yang dipesan oleh Ken Angrok ketika akan menjadi raja, yang lantas melalui cerita tutur bergulir menjadi legenda besar sejarah Singosari dan diyakini sampai saat ini. Keris Sengkelat pusaka kerajaan Majapahit yang sempat hilang atau dicuri atas titah raja Blambangan. Dan kemudian raja Majapahit memerintahkan mPu Supo Mandrangi untuk mencari dan mengambil pusaka tersebutu dan memboyongnya ke kota raja Majapahit. Adapula legenda Kyai Condong Campur yang melesat lantas menjadi Lintang Kemukus dan bersumpah akan terjadi ontran2 (prahara) besar di tanah Jawa.
Pejalanan sejarah Kerajaan2 dan kejadian besar itu terus berjalan, dan disana pula terdapat cerita Keris yang mengiringi. Seperti halnya Mahapatih Gajah Mada ketika mengumandangkan Sumpah Amukti Palapa, dia juga mengangkat tangannya sembari menggenggam sebilah keris pusaka. Di sini keris benar2 melambangkan simbol Tunggal lan Manunggal. Keris menjadi bagian dari Wawasan Nusantara. Karena itu dalam Sengkalan memet, keris dimaknani Tunggal atau Satu.
Pada awal pemerintahan kerajaan Demak, konon Sunan Kalijaga pun telah memesan keris kepada mPu Supo dan diperuntukkan bagi raja Demak, yaitu Raden Patah sebagai raja pertama di sana. Keris tersebut berdapur Jalak Ngore dengan pamor Lar Gangsir yang lantas diberi nama Kyai Kopek. Keris ini sekarang menjadi salah satu pusaka Keraton Kasultanan Jogjakarta Hadiningrat.
Demikian pula pada era pemerintahan Sultan Agung yang banyak menghadiahkan keris kepada raja2 sahabat sebagai tali asih atau hubungan persaudaraan dan memuat pesan2 tersirat seperti adanya keris Si Ginje yang sekarang ada di Musium Nasional di Jakarta. Kraton Jogjakarta juga masih menyimpan Kyai Joko Piturun dimana keris ini dipegang oleh penerus dan pewaris tahta Kasultanan Jogja sampai sekarang.
Selain pemerintahan kerajaan, keris juga menjadi semacam icon dan digunakan untuk piyandel atau pusaka para pejuang2 bangsa. Sebut saja Pangeran Diponegoro, Panglima Besar Jendral Sudirman, Bung Tomo dan lainnya... Mereka semua nyengkelit (menyelipkan kris di pinggang) dalam setiap gerak lakunya. .... Dan masih banyak lagi perjalanan sejarah kerajaan dan pemerintahan di Nusantara yang selalu melibatkan keris dalam setiap kegiatan2 sakral maupun simbolisme kekuasaan.
Lantas, apakah sekarang Keris masih dipandang penting oleh penerus kerajaan2 Nusantara yang sekarang disatukan dan diberi nama Republik Indonesia ini ? Masihkah pemimpin2 negri ini melihat keris sebagai sebuah aset Nasional yang memiliki sejarah panjang mengiringi perjalanan sejarah perjuangan bangsa ? Jika saja pinisepuh perkerisan tidak membuat proposal dan diajukan kepada UNESCO.., dan jika UNESCO tidak memberikan piagam penghargaan terhadap Keris sebagai Warisan Budaya, saya rasa pemerintah kita tidak akan menghiraukan perkembangan budaya keris.
Pemerintah kita sekarang seolah menafikkan keberadaan Keris sebagai salah satu benda budaya yang dari jaman dulu selalu mengiringi perjalanan sejarah & kekuasaan.
Bahkan ketika Piagam UNESCO tersebut sudah dipegang oleh bangsa ini, Pemerintahpun sangat kurang perhatian dengan budaya yang satu ini. Buat apa memikirkan budaya keris ? Masih banyak masalah2 pelik kenegaraan yang harus dipikirkan... dan mungkin keris tidak menghasilkan uang buat mengisi pundi2 pribadi para pejabat... mungkin ini yang dipikirkan di benak mereka... Hal ini semakin diperparah oleh ketakutan para pekeris ketika membawa keris dalam tas dan akan berangkat sarasehan, pameran atau ketika akan menjualnya...lantas di tengah jalan ada operasi Polisi... banyak terjadi mereka yang membawa keris ditahan dengan tuduhan membawa senjata tajam. Padahal sudah jelas tertuang dalam Undang Undang Darurat nomor 12 tahun 1951, keris sebagai benda antik atau benda yang dianggap bertuah tidak termasuk dalam kategori senjata tajam walaupun dia adalah benda tajam.
Dari kondisi tersebut... walaupun sudah bukan lagi bersifat Monarchi atau Kerajaan, pemerintahan kita tidak begitu menganggap keris sebagai benda budaya yang patut didukung perkembangannya. Keris tidak lagi menyertai perjalanan sejarah Republik Indonesia... tetapi kekuasaan, jabatan dan uang korupsilah yang terus menyertai sejarah Republik ini.
Harapan kita sebagai pekeris hanya menyandarkan pada upaya mandiri dari pemerhati budaya, sejarawan dan pekeris itu sendiri untuk terus nguri2 (melestarikan) budaya Keris. Sembari mencoba merangkul media untuk terus memberitakan hal ini agar semakin dipahami masyarakat luas bahwa keris bukanlah mistis belaka. Keris bukan semata2 terkait dengan perdukunan ataupun kegiatan2 ritual yang dianggap penyebar kemusyrikan, memiliki isi, khodam dan sebagainya sehingga layak untuk ditakuti. Keris adalah Keris yang merupakan warisan budaya bangsa.
Hidup Keris !!!
Previous
Next Post »

1 komentar:

Click here for komentar