KERIS dan PAKEM,


Keris, adalah sebuah karya luhur budi daya para pendahulu kita di Nusantara. Dari awalnya yang merupakan senjata tikam, telah mengalami perkembangan sampai akhirnya keris menjadi sebuah benda yang memuat atribut2 budaya dengan berbagai makna simbolis dan filosofis, benda seni, benda yang dipandang memiliki daya magis, dan menjadi sebuah pusaka yang diugemi secara turun temurun. Di sini, keris telah menjadi sebuah benda tradisi. Kehadirannya tidak lepas dari berbagai kegiatan2 tradisional dari semenjak dulu dalam pembangunan candi, rumah, berbagai acara sakral dan prosesi ritual kebudayaan lainnya. Ketika menjadi sebuah benda tradisi, maka Keris tidak akan bisa dilepaskan dari adanya sebuah paugeran mengenai keris itu sendiri atau yang lebih sering kita sebut "Pakem". Paugeran adalah sebuah aturan tradisi yang tidak tertulis. Diugemi, dipahami dan dipegang erat sebagai sebuah aturan yg harus ditaati dengan sungguh2 dengan sukarela.
Pakem pada budaya Keris bisa bersifat bendawi ataupun non bendawi. Bersifat bendawi jika terkait dengan proses penempaan, misal harus ada material yang terdiri dari besi dan bahan pamor. Keris tidak bisa dibuat dari plastik atau aspal. Yang dinamakan keris adalah terbuat dari besi. Dalam penempaan harus ada api, ada penempa, dan sebagainya. Keris memiliki ricikan, condong leleh, pesi, gonjo, dan sebagainya. Tanpa Condong Leleh makan akan menjadi Kadga atau Dagger. Tidak ada pesi, maka dimana gagang ditempatkan ? Gonjo, baik yang pisah maupun yang iras merupakan bentuk dari adanya penyatuan Lingga-Yoni. Pada struktur atau rancang bangun bilah keris, juga ada perhitungan2 teknis yg rumit. Bersifat Non bendawi jika terkait dengan filosofi ataupun dengan simbolisme tradisi. Seperti Keris Sajen digunakan untuk ritual bersih desa atau sedekah bumi, Jika kita memiliki anak perempuan yang menikah lantas menantu diberi keris Cunduk Ukel dan sebagainya.. ini merupakan paugeran yg telah dipahami oleh masyarakat tradisi. Dengan demikian, melestarikan keris sama dengan melestarikan tradisi.
Tetapi, keris juga merupakan benda seni karena merupakan olah seni baik tempa maupun bentuk. Ketika kita membicarakan keris sebagai benda seni inilah, maka berbagai paugeran yang kita sebut Pakem tadi menjadi kurang penting. Keris, seperti Rumah, Lukisan, Batik, Wayang dan sebagainya. Masing2 adalah benda tradisi yang juga benda seni. Membangun rumah Joglo, itu ada pakemnya. Misal membuat limasan, umpak, kesesuaian gaya rumah dengan motif ukiran, saka atau tiang penyangga utama dan sebagainya... ternyata jika didalami, detailnya memuat aturan2 yang sarat makna..... Lukisan walaupun lebih merupakan benda seni daripada benda tradisi, tetapi toh Lukisan tetap harus ada frame, dibuat dalam media kanvas, kain atau apapun, ditorehkan dengan menggunakan cat air, cat minyak atau lainnya, bahkan lumpur, arang... untuk apa ? Agar apa yg kita ingin mengejawantahkan itu bisa dilihat dan dinikmati. Kalau orang melukis tanpa ada gambarnya seperti orang berpantomim, apa itu disebut lukisan ? Dengan demikian, sesungguhnya, Pakem atau aturan2 adalam sebuah karya seni apalagi benda tradisi itu akan selalu lekat. Sesungguhnya hidup ini juga ada pakemnya. Seorang ibu akan dibuahi oleh suaminya, mengandung sekian bulan, melahirkan anak. Anak tersebut tumbuh besar dan akhirnya menua dan mati... Pakem. Jelas perjalanan hidup seseorang seperti itu. Tinggal kita memahami Pakem itu seperti apa ?
Jika Pakem hanya dikaitkan dengan bentuk dan ricikan, maka berarti kita memahami pakem secara sempit dan dangkal. Seolah2 ingin menciptakan sesuatu yang baru, padahal ternyata jika dicermati dan dipahami lebih jujur, ternyata kita tidak bisa melepaskan dari paugeran yang disebut Pakem itu tadi. Jika hanya ingin membuat sesuatu yang berbeda itu adalah sah dan boleh2 saja. Jika ingin dianggap sebagai pembaharu, itu adalah hak. Seperti membuat keris dengan greneng sampai atas, membuat keris dengan 2 atau 3 gonjo, membuat keris yang bentuknya seperti pedang.. dan lainnya. Tapi toh didalamnya tetap menunjukkan bahwa keris tersebut dibuat dengan condong leleh, dari bahan besi dan ditempa serta menggunakan ricikan2 yg ada pada keris umumnya. Jika ingin mengatakan keris tidak perlu pakem, coba saja membuat keris dari tanah liat atau plastik. Jangan dari besi. Itupun bentuknya jangan berupa keris, tapi seperti pipa atau pohon... nah, apakah orang2 akan mengatakan itu keris ? Tentu tidak. Mungkin Keris2an iya smile emotikon Oleh sebab itu, pakem dalam perkerisan itu ternyata telah melekat sedemikian lekatnya dengan keris itu sendiri sebagai sebuah benda tradisi. Tidak bisa dipisahkan....... Oleh karena itu, marilah kita semua lebih cerdas dalam menyikapi perkembangan2 yg terkait dengan keris, mengingat keris bukan saja sebagai benda seni tetapi juga benda tradisi. Bukan waton atau asal beda dan mengatakan bahwa di budaya keris itu tidak ada Pakem.
Mari mendiskusikan apa itu Pakem, dan apakah keris bisa meninggalkan Pakem ? Apakah keris dapur sedikit beda saja sudah termasuk tidak Pakem ?
Salaam,

kerisfotopic.net

Previous
Next Post »