CURIGA MANJING WARANGKA,

CURIGA MANJING WARANGKA,
Ada kalimat tersebut di atas yg jika dipanjangkan "Curiga Manjing Warangka, Warangka Manjing Curiga, Jumbuhing Kawula Gusti". Artinya "Keris tersarung dalam wrangka, wrangka menyatu dengan bilah keris, lambang kemanunggalan antara makhluk dengan Junjungannya". Monggo makna kalimat tersebut bisa didiskusikan sebagai penambah wawasan bersama.
Dengan demikian, keris bisa disebut Keris ketika dia berdiri sendiri. Dan wrangka sebagai pelengkap merupakan satu kesatuan yg tak dapat dipisahkan. Karena itu banyak sekali pilihan kayu untuk wrangka yang digunakan dan masing2 kayu diyakini memiliki manfaat yg berbeda2. Selain pemilihan material kayu, juga perlu melihat keserasian antara keris yang akan dibuatkan wrangka sampai pada pemilihan perabot. Ini membutuhkan pengetahuan tersendiri. Misalnya ketika kita setting keris dengan wrangka Jogja, maka pendok, deder (handle) dan mendak yang digunakan haruslah menggunakan gaya Jogja agar ada keselarasan & keserasian. Demikian juga jika kita setting keris dalam wrangka Jawa Timuran, pun harus serasi sampai pada pemilihan handle.
Ajining keris saka wrangka, salah satunya demikian. Ketika sudah ada wrangka dan dimasukkan ke dalamnya ada sebutan Curiga yang harus manjing Waranka. Lantas ketika sudah berada dalam wrangka dan kita selipkan di pinggang sebagai bagian dari pelengkap busana lengkap tradisional disebut Wangkingan. Karena itu perlu kiranya kita juga memperhatikan wrangka & perabot keris2 yg kita miliki agar tampak indah dan menyatu dengan bilah.
(Foto : Curiga Manjing Warangka)
Previous
Next Post »