Besi Keris

BESI KERIS : Bagaimana mengetahui jenisnya jika sudah berupa keris ???
Pembuatan keris, terutama pada jaman dahulu, sungguh sangat sulit dan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Hal ini disebabkan kurangnya material yang sudah jadi, dalam hal ini besi. Untuk memperoleh besi, para mPu Keris ataupun mPu Pande harus mencarinya terlebih dahulu. Entah itu diperoleh dari barang2 yang sudah ada seperti kapak, pedang, tumbak ataupun hasil besi dari luar negeri (seperti Timur Tengah, China dan India), atau mereka harus mencarinya di alam yang masih berupa pasir dan batuan. Besi2 yang diestimasi sudah jadi dalam bentuk lantakan berasal dari luar negeri. Seperti besi dari Syria yang konon dipahami sebagai besi Purosani, Jenis besi Terate yang diestimasi didapat dari India, Besi Bale Lumur yang diprediksi berasal dari Campa atau China, juga besi Mangangkang yang merupakan campuran dari berbagai jenis besi. Atau yang didapat dari alam seperti besi Malela yang diperoleh dari pasir besi (sehingga muncul istilah Masir Malela = menyerupai pasir yang berkilap2/malela). Dalam perkembangannya, masing2 jenis besi tersebut dipercaya ada yang memiliki tuah yang baik dan buruk. Karena itu tidak sedikit, kita penikmat budaya tosan aji sering membicarakan keris2 yang ada, "Ini besinya Karangkijang..., besi Purosani, dan sebagainya sembari menanting keris kita dan melihat bilahnya serta mengatakan tuahnya begini...begitu..". Tapi apakah hal tersebut memang demikian adanya ? Dalam arti memang keris2 yang kita miliki itu menggunakan besi yang kita sebutkan tersebut ?
Dari situ saya sering bertanya2 dalam hati.... Misal jika besi keris tersebut diperoleh dari import, apakah mPu kita jaman dulu paham darimana besi tersebut dibuat dan dari bahan apa ? Dan jika bahan besi diperoleh dari alam, maka yang diperoleh adalah pasir dan batuan yang berbeda2 warnanya. Ada yang merah, hijau dan hitam serta abu2. Tidak bisa kita tanting agar tahu berat-ringannya. Bagaimana para mPu bisa mengetahui bahwa batuan yang mereka pilih adalah mineral yang mengandung besi ? Inilah hebatnya para mPu jaman dulu. Lantas dari situ mereka akan membedakan jenis besi yang diperoleh dengan penamaan atas dasar rona warna dan sebagainya termasuk juga energi yang dipancarkannya.
Setelah bahan besi diperoleh, mPu harus mengumpulkan berkarung2 bahan tersebut untuk dijadikan besi. Prosesnya, berkarung2 batuan dan pasir tersebut dimasukkan ke dalam tungku tanah liat ditumpuk arang/kayu secara berselingan. Tungku ini bagian bawahnya diberi pipa untuk menyalurkan udara peniup agar benar2 mendapatkan panas yang diinginkan. Dengan panas yang tinggi, batuan atau pasir tersebut akan mengelompok, besi akan bercampur dengan besi dan lainnya menjadi abu. Setelah proses lama, maka tungku tanah liat tersebut dibongkar. Didalamnya akan ada gumpalan besi yang masih belum murni, masih banyak kadar pengotornya. Menggumpal berwarna hitam keabu2an.
Setelah didapat besi sebagai bahan, lantas proses selanjutnya adalah penempaan. Di wasuh atau dimurnikan dengan cara tempa lipat, tarik, puntir dan sebagainya. Proses penempaan akan menghasilkan cipratan bunga api yang sangat banyak pada awalnya. Banyaknya bunga api yang keluar ini menunjukkan banyaknya kadar pengotor pada besi tersebut. Proses penempaan ini bisa dilakukan selama berbulan2, dari besi yang masih mentah-bahan, menjadi besi yang mendekati murni dengan kadar pengotor rendah. Cipratan bunga api adalah salah satu indikator, dimana ketika cipratan bunga api tersebut semakin sedikit, ini menunjukkan wasuhan atas besi tersebut sudah bagus...... Dan seterusnya proses dilakukan bertahap sampai pada akhirnya menjadi kodogan keris.
Nah, yang menjadi PERTANYAAN saya, ketika berbagai bahan dengan masing2 karakteristiknya tersebut ditempa, diwasuh dan menjadi kodogan dan bahkan sudah menjadi keris, lantas bagaimana kita bisa mengetahui bahwa keris yang kita miliki menggunakan bahan besi karang Kijang, Purosani, Mangkangkang, Balelumur dan sebagainya ? Apakah hanya dari rona warna serta serat besisnya saja kita sudah bisa membedakannya ? Apakah tidak mungkin ada kesalahan karena proses perawatan bilah juga bisa menimbulkan besi yang serat halus menjadi terkorosi kasar, atau karena pewarangan menyebabkan rona warna berbeda ? Untuk mengetahuinya apakah harus diwarangi ataukah ketika diputih/dibersihkan ? Mengapa ini saya pertanyakan ? Karena tidak jarang saya mendapat penawaran keris dari seseorang yang mengatakan bahwa kerisnya tersebut menggunakan besi karang kijang yang tuahnya begini begitu.. atau purosani dan sebagainya.... Logika teknjisnya gimana ? Ataukah orang tersebut memahami energi keris dan besinya ? Saya sih tidak begitu mikir keris itu pake besi apa, yang penting kerisnya garap, wutuh, guwaya, dan saya suka...hehehe.... Monggo berpendapat sebagai masukan kita bersama menambah wawasan.

(Foto : Sebagian proses pembuatan keris - sesi awal)

kerisfotopic.net
Previous
Next Post »