Asal-usul Keris Jawa, Dipengaruhi Budaya Tiongkok?

Perkerisan ternyata tak hanya disukai oleh masyarakat Jawa semata. Masyarakat keturunan Tionghoa juga banyak yang menyukai keris. Bahkan jika dirunut dari sejarahnya, keris banyak dipengaruhi oleh budaya Tionghoa.

Satu di antara kolektor keris keturunan Tionghoa adalah Hengki Joyopurnomo. Pria berbadan tambun ini sehari-hari melakukan aktivitas di bidang perkerisan di Rawabening, Jatinegara, JakartaTimur.

Sejak usia SD, Hengki Joyo Purnomo mengaku mengenal keris dari sang ayah. Maklum, keluarga Hengki termasuk pecinta benda kuno. Dia sering diperlihatkan benda aneh muncul dari keris, sehingga ia percaya bahwa keris akan membawa keberuntungan bagi pemiliknya.

Hengki menceritakan, dia mendapatkan keris dari Jawa, Banten, dan luar Jawa. Ada kejadian aneh yang tidak masuk akal, yakni ketika dirinya didatangi ibu-ibu pakaian lusuh, lantas memberinya keris. Sejak itulah dia sering mendapatkan hoki atau keberuntungan.

“Saya memiliki koleksi keris 400 buah, 20 tombak, dan pedang,” ujarnya ketika ditemui di acara Pameran Keris dan Hulu Keris di Bentara Budaya, Jaksel, beberapa waktu lalu.

Menurut Hengki, mencintai keris sama halnya menghormati leluhur, dan memelihara tradisi kakek nenek yang menghormati benda pusaka. Benda pusaka seperti keris membutuhkan pengetahuan khusus, baik secara fisik, keindahan, tangguh, dan kekuatan gaib dalam keris.

“Perkerisan adalah budaya asli dari Jawa. Keris juga dipengaruhi oleh budaya Tionghoa,” kata Hengki.

Dia menjelaskan, sejarah menyebutkan bahwa sebelum abad 13 masuk ke Indonesia, dunia keris lebih dulu dikenal di daratan Tiongkok. Kala itu, keris disebut ershiwu shi, yang artinya benda khusus.

Orang-orang dari daratan Tiongkok sering keliling benua untuk berdagang sambil membawa keris sebagai alat budaya. Sepanjang pantai negara-negara Asia Tenggara atau laut selatan dipenuhi oleh para pedagang dari berbagai negara, di sana transaksi perdagangan dilakukan, termasuk pertukaran budaya.

Mereka berdagang sembari menetap di daratan sebagai tempat tinggal sementara, dari situlah mereka mulai mengenal keris sebagai alat budaya dan dagang. Bahkan laut Indonesia juga sering menjadi rujukan pedagang dari Tiongkok untuk memperkenalkan keris kepada masyarakat setempat.

Pada abad ke 15, ada seorang pedagang Tionghoa bernama Admiral Zheng He yang berlayar ke Indonesia dengan menggunakan tujuh kapal laut sembari memperkenalkan budaya Tionghoa. Para pelayar ini akhirnya mendarat di daratan Sumatera dan pantai Utara Jawa sembari menggelar perdagangan.

Masyarakat Jawa memberi nama pelaut tersebut dengan sebutan Cheng Ho, karena bernama tuan Zheng He. Pelaut-pelaut dari Tionghoa tersebut ada yang menetap di Indonesia. Mereka budaya Tionghoa memperkenalkan budaya keris kepada masyarakat lokal.

Menurut Hengki, pengaruh budaya Tionghoa dapat dilihat dari keris dapur Singabarong dan keris dapur Naga . Didapati keris dapur singa yang kinatah emas di gonjo-nya berukur kilin. Diduga seni menatah emas pada keris karena pengaruh budaya cina.


Keris dapur Singabarong sangat disukai oleh para penggemar keris karena sisi eksoterisnya sangat gagah dan indah. Gandik keris itu berbentuk binatang mirip singa, dengan kedua kaki depan tegak di tanah. Kaki belakang ditekuk, dengan tubuh belakang dalam posisi duduk. Matanya merah berkilauan, dengan mulut menganga seperti menelan bulatan emas atau batu mulia. Emas atau batu mulia di dalam mulut singa untuk mengurangi kegalakan tuah keris.

“Keris dengan dapur Singabarong selalu tampak perkasa baik yang luk maupun lurus. Ini dipercaya akan menambah kewibawaan pemiliknya,” katanya.

Keyakinan dapur singa barong karena pengaruh budaya China diperkuat dengan kenyataan bahwa singa tidak dikenal dalam dunia fauna Indonesia. Bentuk singa dalam gendik keris itu lebih menyerupai binatang kilin yang hanya berada dalam mitos negeri cina. Kilin China memang mirip dengan singa.

“Dalam mitologi cina binatang kilin adalah simbol kejantanan. Maka kilin dalam gandik adalah sejenis binatang berjenis singa yang berkelamin jantan,” katanya.

Diduga sejak hubungan Tiongkok dan penguasa Jawa mencapai masa keemasan pada jaman Laksamana Cheng Ho yang singgah di tuban pada tahun 1406. Sejak kehadiran utusan kaisar Ming itu, interaksi budaya secara alamiah berjalan mulus. Barang -barang Tiongkok seperti porselin, tembikar, tekstil, senjata masuk ke Jawa.
Previous
Next Post »