Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah

Masih segar dalam ingatan kita tentang kepergian sebagian para ulama. Bukan untuk merobek luka lama yang baru
sembuh, bukan pula menjerumuskan diri ke dalam lembah dosa dengan cara meratapi yang telah pergi, tetapi adalah
sebagaimana yang sering diucapkan oleh sebagian mereka: Artinya: _Tirulah mereka, walaupun kamu tidak akan seperti
mereka, sesungguhnya meniru orang mulia itu adalah suatu kejayaan_. Di antara mereka, (wallahu a_lam) adalah salah
seorang imam kaum Muslimin yang meninggal beberapa tahun lalu; samaahatu as-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin
Baz rahimahullah ta_ala.
Muqaddimah
Allah ta_ala berfirman: Artinya: _Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah,
lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?_ (QS. Ar-Ra_du: 41)
Imam Athabari dengan sanadnya menyebutkan perkataan Ikrimah tentang ayat di atas dalam masalah lafadz _&lalu kami
kurangi&_, maksudnya adalah _kematian_. Kemudian dia (Ikrimah) melanjutkan, _Kalau sekiranya yang dikurangi itu adalah
bumi ini, niscaya kita tidak akan mendapatkan lagi tempat di atasnya._
Berkata Atha_ rahimahullah dari Ibnu Abbas radhiallahu _anhuma tentang makna firman Allah di atas, _Bahwa yang
dimaksud (oleh ayat itu) adalah kepergian para ulama, fuqaha dan orang-orang yang baik dari daerah tersebut._ (Lihat
Tafsir Imam Thabari pada surat Ar-Ra_du ayat 41)
Berkata Ibnu Abdilbar rahimahullah ketika mengomentari perkataan Atha_ di atas, _Penafsiran Atha_ terhadap ayat tersebut
sangat bagus, (dan) ahli ilmu telah sepakat untuk menerimanya._ (Lihat Imamul _Ashar hal.3 oleh Ma_had Imam Bukhari lis
Syari_ah Islamiyah Libanon)
Kematian ulama merupakan sebab dari ilmu syari_at yang mulia ini diangkat oleh Allah subhanahu wata'ala sebagaimana
yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu _alaihi wasallam: Artinya: _Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilimu
agama secara langsung dari para hamba, akan tetapi Dia mencabutnya dengan cara mewafatkan para ulama, sehingga
apabila tidak seorang ulama pun yang tersisa, maka manusia akan mengangkat pemimpin (tempat bertanya) dari
kalangan orang-orang bodoh; mereka pun ditanya dan (orang-orang bodoh itu) berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan
menyesatkan._ (HR. Shahih Bukhari, lihat Kitabul Ilmi bab: Kaifa Yuqbalu _Ilmu&)
Saat ini kita sedang menjadi saksi atas sebahagian kenyataan yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu _alaihi
wasallam tersebut, seolah-olah beliau duduk di antara kita mengatakan, _Bahwa sebagian tanda-tanda kiamat adalah
akan terjadinya peristiwa begini dan begini,&_. Hampir tiap waktu kita berhadapan dengan fatwa-fatwa yang
menyesatkan. Dimana fatwa tersebut menghardik keputusan Rasulullah shallallahu _alaihi wasallam, mencemooh orangorang
yang berjalan dengan bersuluhkan hidayah penguasa alam semesta, apalagi setelah beruntunnya kepergian
mereka yang telah disifatkan oleh Rasulullah shallallahu _alaihi wasallam dalam hadits di atas.
Di antara mereka, (wallahu a_lam) adalah salah seorang imam kaum Muslimin yang meninggal beberapa tahun lalu;
samaahatu as-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah ta_ala, wallahu hasiibuhu walaa nuzakki _alaihi ahada
(dan hanya Allahlah yang lebih berhak menilainya, kami tidak mendahului Allah dalam memberikan tazkiyah terhadap
seorang pun); dimana kalau tidak berlebihan (dan hanya Allah-lah yang mengetahui urusan bathin hamba-Nya) kita
mensifatinya sebagaimana perkataan seorang penyair:
Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang bijak,
Mereka telah mentalak dunia karena takut bencana fitnahnya,
Mereka memperhatikan dengan seksama kepadanya, tatkala mereka mengetahuiBahwasanya dunia itu bukanlah untuk bertempat tinggal bagi orang yang hidup,
Mereka menjadikan dunia itu sebagai sebuah palung laut yang sangat dalam, dan menjadikan amal shaleh sebagai
bahtera (agar selamat) dalam (mengarungi)nya.
Semoga Allah Yang Maha Mendengar munajat hamba-Nya dan memasukkan kita ke dalam barisan orang-orang yang
membela agama-Nya; para nabi, orang orang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shaleh. Allahumma jadikanlah
kami sebagai orang yang mencintai mereka dengan kecintaan yang benar, karena Nabi-Mu menyebutkan bahwa
seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya.
Nama beliau adalah: Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdul Aali Baz. (sebagaimana yang
diimlakkan oleh beliau sendiri. Lihat Imamul _Ashar hal. 9-14, oleh Dr. Nasir bin Musfir az-Zahrani)
Kelahiran beliau:
Bulan Dzulhijjah 1330 H.
Syaikh-syaikh tempat beliau belajar:
as-Syaikh Muhammad bin Abdullathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
rahimahullah, as-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
(qadhi Riyadh) rahimahullahas-Syaikh Sa_ad bin Hamd bin Faris bin _Athiq (qadhi Riyadh), as-Syaikh Hamd bin Faris
wakil Baitul Mal Riyadh), as-Syaikh Sa_ad Waqqash al-Bukhari (guru tajwid beliau pada tahun 1355 H), Samahatu as-
Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullathif Aalu as-Syaikh (tempat beliau menimba berbagai macam disiplin ilmu
Syari_at mulai tahun 1347-1357 H).
Jabatan yang pernah beliau laksanakan:
Qadhi di daerah al-Kharaj semenjak tahun 1357-1371 H, mengajar di Ma_had al _Ilmi di Riyadh pada tahun 1372 H dan
fakultas Syari_ah di Riyadh setelah dibentuknya fakultas tersebut pada tahun 1373 H (dalam mata pelajaran ilmu fiqh,
tauhid dan hadits, dan jabatan ini beliau tekuni sampai tahun 1380 H).
Pada tahun 1381 H beliau ditunjuk sebagai wakil Rektor Universitas Islam Madinah hingga tahun 1390 H, diangkat
menjadi Rektor Universitas tersebut pada tahun 1390 H setelah wafatnya as-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu as-
Syaikh rahimahullah pada bulan Ramadhan 1389 H, kemudian beliau tetap memegang jabatan tersebut sampai tahun
1395 H, dan terakhir pada tanggal 14-10-1395 H keluar Surat Keputusan Kerajaan untuk mengangkatnya sebagai
pimpinan umum untuk bagian Pembahasan Ilmiyah, Fatwa Dakwah dan Irsyad (kemudian tersebut berubah menjadi
Mufti Umum Kerajaan setelah dibentuknya Kementrian Urusan Islam, Waqaf, Dakwah dan Irsyad pada tahun 1414 H).
Kemudian beliau juga menyebutkan, bahwa di samping tugas tersebut di atas, beliau juga menjabat sebagai anggota
pada beberapa Majelis Islamiyah yang berskala inteasional, seperti:
- Anggota Perkumpulan Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi,
- Kepala Badan Tetap Pembahasan Ilmiyah dan Fatwa pada lembaga di atas,
- Anggota dan kepala majelis pendiri Rabithah Alam Islami,
- Kepala pada Majma_ al-Fiqhi al-Islami yang berpusat di Mekkah al-Mukarraamah yang merupakan bagian dari
Rabithah Alam Islami,
- Anggota pada majelis tertinggi di Universitas Islam Madinah,
- Anggota pada majelis tinggi Da_wah Islamiyah Kerajaan Arab Saudi.
Karangan-karangan beliau, sebagian kecilnya antara lain:
- Al-Fawaid al-Jalilah fi al-Mabahits al-Fardhiyah
- At-Tahdzir minal Bida_
- Al-_Aqidah ash-Shahihah wamaa Yudhaadhuha
- Al-Jihad fi Sabilillah
- Ad-Da_watu Ilallah wa Akhlaaqu ad-Du_at
- Al-Jawabul Mufid fi Hukmi at-Tashwiir
- Wujuubu Tahkiimi Syar_illahi wa Nabdzu maa Khaalafahu- Dll.
Wafatnya:
Beliau wafat pada subuh Kamis 27 Muharram 1420 H di kota Thaaif, dishalatkan pada hari Jumat (28 Muharram 1420 H)
di Masjid Haram, dan dimakamkan di pemakaman al-_Adl Makkah Mukarramah. Semoga Allah merahmatinya dengan
rahmat-Nya yang luas dan memasukkannya ke dalam surga. (Imamul _Ashar Dr. Nasir az-Zahrani)
Asy-Syaikh Bin Baz dan sifat dermawannya.
Dermawan adalah di antara sifat yang dimiliki oleh para nabi _alaihimussalam. Begitu pula halnya nabi kita yang mulia
shallallahu _alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan, makhluk yang paling memiliki sifat memberi, orang
yang paling agung pemberiannya, dan manusia yang paling sempa dalam memberi, sehingga Jabir radhiallahu_anhu
berkata:
Artinya: _Belum pernah Rasulullah shallallahu _alaihi wasallam dimintai sesuatu (kepadanya) kemudian beliau menjawab:
_Tidak_._
Dari Anas radhiallahu_anhu beliau berkata:
Artinya: _Sesungguhnya seorang laki-laki telah meminta kambing (yang jumlahnya) memenuhi (lembah) antara dua
gunung kepada Rasulullah shallallahu _alaihi wasallam, maka beliau memberikannya kepada orang tersebut, lalu laki-laki
itu datang menemui kaumnya dan berkata,_Wahai kaumku! Masuklah kamu sekalian ke dalam Islam, demi Allah!
Sesungguhnya Muhammad akan memberikan suatu pemberian (bila kamu sekalian masuk Islam) dan dia tidak pernah
takut miskin (karena memberi)_.
Shahih Muslim hadits no. 5975 [syarah Imam Nawawi cet. Dar al-Ma_rifah Beirut Tahun 1418 H/ 1997]
Disebutkan dalam _Imamul _Ashar ibnu Baz wa al-Albani_ hal. 13, bahwa pernah seorang mujahid diutus menemui beliau
(untuk meminta sumbangan), namun yang ada adalah sebuah benda yang sangat penting miliknya, maka beliau pun
menjual barang tersebut dan memberikan hasil penjualannya kepada mujahid itu untuk dimanfaatkan di jalan Allah _Azza
wa Jalla.
Beliau tidak mengizinkan bagi orang yang datang berkunjung kepadanya untuk permisi pergi, kecuali setelah makan
siang atau makan malam bersamanya, istimewa apabila yang berkunjung itu adalah musafir atau datang sengaja dari
daerah jauh. (Imamul _Ashar Dr. Nasir Zahrani hal. 99)
Berkata salah seorang sahabat karib as-Syaikh bin Baz yang beama Sa_ad bin Abdul Muhsin (orang ini lebih tua sepuluh
tahun dari as-Syaikh bin Baz), _Dahulu ketika masa mudanya, beliau (Bin Baz) belajar dengan as-Syaikh al-_Allaamah
Muhammad bin Ibrahim rahimahullah. Apabila pulang dari belajar dan di jalan bertemu dengan seseorang penuntut ilmu
atau orang yang merantau atau tamu ataupun tetangga, maka beliau berusaha sekuatnya untuk mengajak orang
tersebut masuk ke rumahnya untuk makan bersamanya, padahal beliau adalah seorang yang miskin dan kurang
persediaan makanan, hal ini terus-menerus berkelanjutan selama hidupnya, bahkan beliau merasa sedih apabila tidak
ada seorang tamu pun yang menyertainya makan_.
Tiga tahun sebelum wafatnya beliau, setelah safar ke Mekkah dan kembali ke kota Thaaif, seperti biasanya beliau
membuka pintu rumah dengan harapan agar orang-orang datang. Akan tetapi teyata tamu dan orang-orang fakir miskin
tidak ada yang datang ke rumahnya (untuk makan bersamanya) karena kebanyakan mereka tidak mengetahui beliau
telah kembali, serta-merta beliau pun berduka-cita sembari bertanya kepada orang-orang yang membantunya, _Apa hal
yang terjadi pada orang-orang sehingga mereka tidak datang? Apakah kamu sekalian katakan bahwa saya capek (baru
pulang), ataukah kamu sekalian pernah menutup pintu di hadapan mereka, atau adakah sebab lain?_ Mereka menjawab,
_Wahai Tuan Syaikh, kebanyakan mereka belum menetahui kalau Anda telah sampai dan sebagian yang lain ingin untuk
beristirahat pada hari-hari raya pertama ini_. Beliau berkata, _Pergi beritahukan masyarakat, para tetangga bahwa syaikh
mengundang kamu sekalian, dan rumahnya terbuka untuk anda sekalian_. (Imamul _Ashar Dr. Nasir Zahrani hal. 101)
Semua sejajar di sisinya:
Pernah suatu ketika sebagian orang datang menemui beliau dan berkata kepadanya, _Wahai Tuan Syaikh, ada sebagian
orang berpangkat berpendapat bahwa ketika beliau duduk bersama orang-orang ketika makan siang atau makan malam
dan lainnya, yang duduk menemui Tuan ada buruh, pegawai, ada Arab ada pula orang _ajam dan orang-orang miskin,
bahkan ada pula orang-orang hitam; hal seperti ini membuat kurang enak di hati para penziarah dan tamu-tamu besar.
Maksud kami bukanlah mengusulkan supaya Tuan tidak usah memberi orang-orang tersebut makan dan menutup pintu
bagi mereka, akan tetapi alangkah baiknya kalau bagi mereka disediakan tempat makan dan minum tersendirisedangkan Tuan dan orang-orang yang istimewa berada pada suatu tempat yang khusus pula_. Seketika itu muka syaikh
langsung berubah, (muka tidak senang) karena mendengar ucapan orang tersebut, dan beliau berkata,
_Miskin&miskin&(aduhai malangnya, aduhai malangnya), orang yang berpendapat seperti ini belum mengecap lezatnya
bergaul dengan orang-orang miskin dan makan bersama orang-orang fakir, saya tidak akan meninggalkan kebiasaan ini
dan saya tidak memiliki orang-orang istimewa. Bagi yang sanggup duduk bersama sya dengan ditemani oleh orangorang
fakir miskin itu silakan duduk, barangsiapa yang tidak betah, maka tidak ada paksaan_. (Imamul _Ashar Dr. Nasir
Zahrani hal. 93)
Ibnu Baz sebagai bapak bagi orang miskin
Seorang miskin dengan pakaian ala kadaya yang berasal dari Afrika datang menanyakan beliau pada musim haji yang
terakhir (musim haji sebelum beliau meninggal dunia). Orang tersebut bertanya, _Mana as-Syaikh Bin Baz?_, maka
dikatakan kepada orang tersebut, bahwa beliau tidak sanggup pergi haji. Orang negro itu balik ditanya, _Anda mau apa?_,
orang itu menjawab, _saya tidak menginginkan apa pun dari Anda, hanya saha saya adalah seorang miskin sedangkan
as-Syaikh adalah bapak bagi orang-orang miskin_. (Imamul _Ashar Dr. Nasir Zahrani hal. 190)
Sebagai penutup kami merasa perlu menyampaikan bahwa riwayat-riwayat ini mungkin hanya seperseribu riwayat yang
mengungkapkan tentang alangkah indahnya kehidupan beliau. Mudah-mudahan dalam kesempatan lain ada di antara
saudara kita bersedia menggoreskan tintanya tentang keilmuan, ketakwaan, amanah, santunnya beliau dan lain-lainnya.
Sehingga tersimpullah bagi kita yang pemula, _Kalau sekiranya Ibnu Baz seorang imam kaum Muslimin yang hidup seribu
lima ratus tahun setelah Rasulullah wafat, maka bagaimana halnya dengan orang yang menurunkan warisan semua ilmu
para ulama, yaitu Rasulullah shallallahu _alaihi wasallam?, semoga Allah Ta_ala mengaruniakan pemahaman yang benar
dan ketakwaan yang sempua kepada kita dan kepada seluruh kaum Muslimin, amin!
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallahu _alaihi wasallam, keluarga dan para
sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Maraji_:
- Al-Quraanul Karim dan terjemahnnya
- Shahih Imam Bukhari
- Shahih Muslim syarah Imam Nawawi
- Tafsir Thabari
- Imamul _Ashar [Dr. Nasir bin Musfir az-Zahrani]
- Imama al-_Ashar Ibnu Baz wa al-Albani [Ma_had Imam Bukhari lis-Syari_ah Islamiyah] Libanon.
Previous
Next Post »