Hikmah di Balik Kisah Barirah




Adalah
ia seorang budak wanita (amah) yang dibeli dan dimerdekakan Aisyah radhiyallahu
anha. Setelah merdeka Barirah memilih hidup sendiri yaitu bercerai dari suaminya
Mughits seorang budak hitam milik bani Fulan.Bekas suaminya mughits selalu
menguntitnya dimanapun barirah berjalan digang-gang kota Madinah.Kisah cinta
mughits yang mendalam kepada Barirah sebaliknya kebencian yang dimiliki Barirah
kepada suaminya terkenal di kota Madinah.Kisahnya terangkai dengan indah dalam
hadits yang mulia dari berbagai jalan dan para ulamapun menuangkannya dalam
kitab-kitab mereka.Ketaatan barirah kepada Rasulullah nampak dalam hadits ini,
suatu hikmah yang harus diteladani kita semua dimana kebencian hati Barirah
kepada Mughits akan ia kesampingkan jikalau Rasulullah memerintahkan ia rujuk
kembali kepada suaminya.
Ya, suatu ketaatan yang ia dahulukan dan yang ia utamakan dihadapan Nabinya walau ketaatan itu sungguh
bertentangan dengan hati nuraninya. Ia tahu bahwa dengan taat kepada Nabinya yang ia cintai maka akan
mengantarkannya kepada keridhaan Rabbnya. Suatu pengorbanan yang sangat mahal karena ia harus melawan hawa
nafsunya, melawan kebenciannya kepada bekas suaminya, jika memang ia adalah benar-benar perintah maka ia akan
taat untuk kembali kepada bekas suaminya.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwasanya suami Barirah adalah seorang hamba yang bernama Mughits, seolaholah
saya melihatnya berkeliling dibelakangnya sambil menangis dan air matanya mengalir hingga membasahi
jenggotnya. Lalu Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda kepada Abbas:
"Wahai Abbas tidakkah kamu takjub terhadap kecintaan Mughits kepada Barirah dan dan kebencian Barirah kepada
Mughits?" Lalu Nabi bersabda: "Seandainya kamu kembali (rujuk) kepadanya". Ia (Barirah) berkata:"Wahai Rasulullah,
apakah engkau memerintahkanku untuk rujuk?" Beliau bersabda: "Aku hanya memberi syafa'at (pertolongan). Ia
menjawab: " Saya tidak lagi membutuhkan dirinya (Mughits)" (HR. Bukhari no.5026, Fathul Bari juz 10 hadits no.5283)
Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas katanya:"Itu adalah Mughits seorang hamba Bani Fulan yakni suami Barirah, seolah-olah
saya melihatnya mengikuti Barirah di gang-gang Madinah menangisinya" (HR. Bukhari no.5024, Fathul Bari 10/5281)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu katanya: "Suami Barirah adalah seorang budak hitam yang bernama Mughits
seorang budak milik Bani Fulan seolah-olah saya melihatnya berkeliling dibelakang Barirah digang-gang Madinah" (HR.
Bukhari no.5025, Fathul Bari 10/5282).
Imam Ibnu Hajar Al Asqalani menambahkan dalam riwayat Ibnu Majah dengan kata-kata: Andaikan saja engkau mau
rujuk kembali dengannya karena ia adalah Bapak dari anakmu" Dari makna ini dapat difahami bahwa Barirah memiliki
anak dari hasil perkawinannya dengan Mughits (Fathul Bari 10/514).
Penulis mengutip sebagian perkataan Ibnu Hajar Asqalani dalam beberapa point yang penting pada hadits diatas yaitu
pada hadits no.5283 secara ringkas *Kemudian beliau menjelaskan pada kalimat A ta'muruuni? artinya Apakah engkau
menyuruhku? yaitu apakah Engkau (Rasulullah )menginginkan dengan kata-kata beliau yaitu Law Raja'tihi artinya "Jika
saja engkau mau kembali (rujuk) dengannya " merupakan suatu perkara yang menjadi wajib atasku?. Maka jawaban
beliau shalallahu alaihi wassalam adalah "Tidak " dari jalan Ibnu Mas'ud secara mursal dengan sanad yang shahih
Kemudian kalimat innama ana asyfa'u yaitu artinya aku hanya memberi syafa'at. Maknanya adalah aku (beliau
shalallahu alaihi wassalam) mengatakan perkataan tersebut atas sebab ingin menolong bukan ingin menjadikan
perkataaanku menjadi wajib atasmu (atas diri Barirah).
Maka Jawaban Barirah adalah Fala hajata li fihi artinya Saya tidak membutuhkan dirinya lagi, maknanya adalah jika
Engkau tidak mewajibkan hal itu atas diriku maka aku akan memilih untuk tidak kembali padanya.(Fathul Bari 10/514)
Dengan sangat mudah kita bisa memahami ketaatan barirah pada hadits diatas jika memang beliau tidak
memerintahnya maka ia memilih untuk hidup sendiri tidak kembali kepada bekas suaminya. Dan, bisa kita lihat
bagaimana kemuliaan akhlak Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang tidak menggunakan kedudukannya sebagaiNabi untuk menyuruh Barirah rujuk, ia hanyalah sebuah anjuran atau saran saja bukan suatu kewajiban yang harus
ditaati. Masya Allah. Betapa indahnya perilaku Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan betapa tingginya ketaatan
Barirah kepada beliau.
Ya ukhti,....akan tetapi pada masa kita banyak kita temui saudara atau saudari kita yang mengorbankan ketaatannya
kepada Allah dan rasul-Nya dengan menuruti hawa nafsu mereka.Mereka tidak mampu menentang hawa
nafsunya.Berapa banyak saudari kita yang rela menikah dengan laki-laki kafir karena rasa cinta mereka yang besar,
cinta buta yang menyesatkan??dan saudari kita yang masih ragu untuk berhijab karena berbagai alasan dan kendala,
dan masih banyak lagi contoh lainnya. Tidakkah kita lihat pada diri Barirah bahwa pada masa itu ia hanyalah seorang
bekas budak?? tapi lihatlah keimanannya.Ia memahami dengan benar, bahwa sekiranya Rasulullah memerintahkannya
maka tiada yang bisa ia lakukan melainkan taat pada perintahnya walau hatinya diliputi kebencian ketidak sukaan yang
mendalam tapi ia akan patuh dan taat pada perintah Nabinya. Tidakkah engkau mengambil pelajaran??.Semoga dari
kisah Barirah diatas dapat menjadi penyemangat bagi hati kita untuk semakin taat pada perintah Nabi kita, mengikuti
dan mencintai sunnahnya dan berusaha mengaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Wallahu 'alam bisshowwab.
Previous
Next Post »