Ular, satwa peliharaan populer di Amerika

Ada berita mengejutkan tentang kecenderungan memelihara klangenan atau hewan kesayangan di mancanegara. Dalam acara planet satwa yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta disebutkan bahwa di Amerika Serikat hewan kesayangan paling populer saat ini adalah ular. Bahkan di sana USA yang mestinya merupakan singkatan United States of America dipelesetkan menjadi United Snakes of America atau persatuan ular se Amerika, ada-ada saja!

Menurut tayangan televisi tersebut masyarakat pecinta satwa di AS kini lebih suka jalan-jalan dengan mengalungkan seekor ular di lehernya dari pada menuntun seekor anjing pudel yang cantik. Mereka yang menyukai ular tak terbatas hanya laki-laki dewasa untuk memperlihatkan keberaniannya saja, tapi bahkan juga para remaja putri yang mestinya hanya menyukai binatang lembut semacam kucing anggora.

Pemandangan seorang remaja putri berpakaian minim yang pusarnya mengintip keluar sedang berjalan-jalan di pusat keramaian dengan seekor ular sebesar lengan melilit lehernya adalah hal yang biasa di sana. Si remaja yang menjadi pusat perhatian tersebut nampak bangga karenanya.

Masyarakat AS yang rata-rata kaya dan modern itu nampaknya mulai bosan dengan hal-hal yang konvensional, termasuk dalam hal memelihara hewan kesayangan. Mereka mungkin sudah jenuh dengan berbagai jenis anjing dan kucing yang mahal-mahal dan ingin memelihara satwa yang sensasional. Dan itu bisa mereka dapatkan dengan memelihara ular.

Tidak Jahat

Selama ini dalam benak sebagian besar orang, ular adalah hewan yang menjijikkan dan jahat. Reptil bersisik ini nampak menjijikkan terutama saat melilit, dan dianggap jahat karena dalam Kitab Suci digambarkan sebagai penjelmaan iblis yang menggoda manusia sehingga jatuh dalam dosa.

Karena dianggap jahat ular sekaligus juga dipandang sebagai hewan berbahaya. Karena itulah seekor ular yang kesasar masuk rumah atau halaman rumah pasti diuber-uber dan dibunuh. Tapi benarkah ular berbahaya?

Menurut para ahli ribuan spesies ular yang berkeliaran di muka bumi ini hanya sekitar 5 persen saja yang berbisa. Ular berbisa ini pun kalau tidak terinjak kaki tidak akan menggigit manusia. Jadi salah besar kalau orang mengira ular bisa mendatangi rumah untuk menggigit manusia penghuninya.

Karena itu para penggemar ular protes keras jika orang menganggap ular adalah binatang jahat dan berbahaya. Sebaliknya bagi mereka ular merupakan binatang yang manis dan bisa bersahabat dengan manusia. Seekor phyton sepanjang 6 meter di Sumatera seperti dalam tayangan televisi beberapa waktu lalu bahkan sering tidur bersama anak-anak pemiliknya karena ular tersebut dipelihara sejak kecil.

Ular yang banyak dipelihara di AS adalah dari jenis-jenis berkulit menarik seperti milksnake, kingsnake dan cornsnake. Ketiga ular tak berbisa yang panjang maksimalnya 1,5 meter ini memiliki kulit berwarna cerah yang merupakan gabungan warna merah, kuning, putih dan jingga yang membentuk pola-pola melingkar seperti gelang.

Ular besar seperti phyton dan boa juga digemari masyarakat di AS, terlebih jika ularnya albino sehingga tampak unik. Ular-ular berbisa kuat semacam kobra dan derik tidak disukai sebab disamping resikonya besar kulitnya juga memiliki warna kusam sehingga kurang menarik.

Di Indonesia

Lalu bagaimana dengan kebiasaan memelihara ular di Indonesia? Meski tidak seheboh di AS masyarakat penggemar hewan di sini juga mulai suka memelihara ular. Ini terlihat dari beberapa petshop yang sejak sepuluh tahun terakhir menyediakan ular-ular sebagai salah satu dagangannya disamping reptil lain seperti iguana, kura-kura dan chameleon.

Di Indonesia penggemar ular masih terbatas jumlahnya. Pemandangan seseorang berjalan-jalan di pusat keramaian dengan seekor ular melilit lehernya belum umum di sini. Para penggemar ular di Indonesia cukup puas dengan menaruh ularnya di dalam terarium dan menjaganya agar tidak kemana-mana.

Kebanyak ular yang dipelihara habiis di Indonesia merupakan ular impor baik dari AS maupun Afrika. Sungguh ironis sebab Indonesia sebagai negara tropis sebenarnya memiliki cukup banyak spesies ular, baik yang berbisa maupun tidak berbisa dengan warna-warna menarik.

Ular pelangi (Xenopeltis unicolor) dan ular lare angon (Natrix vitata) misalnya, memiliki kulit yang merupakan gabungan beberapa warna cerah sehingga nampak menarik. Indonesia juga memiliki ular sanca kembang dan sanca batik yang motifnya tak bakal kalah dari kingsnake yang ngetop di Amerika sana.

Memelihara ular sebagai hewan klangenan bukan pekerjaan sulit. Yang perlu disiapkan pertama kali adalah kandangnya. Kandang ular bisa menggunakan tetarium, yaitu semacam miniatur alam di dalam bejana kaca. Di dalamnya selain terdapat bebatuan, kerikil, bongkol kayu dan air bersih untuk minumnya juga ditanami tetumbuhan sehingga ular merasa seperti berada di habitatnya.

Tetarium untuk ular ini bagian atas harus diberi tutup dari anyaman kawat sehingga ular tidak bisa keluar dan berkeliaran ke mana-mana. Jika yang dipelihara adalah ular jenis pemanjat maka ke dalam tetarium perlu diberi dahan atau ranting agar ular bisa memanjat sesukanya.

Ular adalah binatang carnivora atau pemakan daging, dan hanya mau menyantap mangsa yang masih hidup. Pakan ular bermacam-macam mulai dari cicak, ikan, katak, tikus, marmut, ayam dan anak kambing. Mangsa yang diberikan harus disesuaikan dengan ukuran ular yang dipelihara.

Seekor ular berukuran satu meter cukup diberi pakan seekor tikus putih seminggu sekali. Untuk menjaga kesehatannya ular cukup dikeluarkan dari kandang empat hari sekali di bawah sinar matahari pagi agar kulitnya tidak terserang parasit berbahaya. Beberapa minyak oles tertentu kini banyak tersedia di petshop untuk menjaga kecemerlangan kulit ular. Nah Anda tertarik memeliharanya?
Previous
Next Post »