Tolong, Bebaskan Aku…

Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Teman-temanku berhamburan keluar kelas. Dengan langkah gontai alu pun meninggalkan kelas. Hari ini aku malas pulang ke rumah. Aku teringat omelan Mama tadi pagi. Mama marah karena aku kemarin membeli tas ransel trendi tanpa ijin Mama. Padahal aku membeli dengan uang tabunganku sendiri. Apalagi teman-temanku sudah banyak yang memakai tas ransel itu. Uh!
Aku memutuskan untuk pergi ke rumah Tante Mo saja. Jaraknya memang agak jauh, di pinggiran kota. Tapi hari ini aku tidak mau pulang. Biar saja Bik Narti pusing menunggu aku makan siang. Biar saja Mama kebingungan mencariku. Hup! Aku melompat ke sebuah bus besar jurusan rumah Tante Mo. Aku sudah hapal jalannya. Sebab, aku sudah beberapa kali datang ke rumah Tante Mo.
Sesampai di rumah Tante Mo, suasana sepi meyambutku. Tentu saja, tante Mo belum pulang dari kantornya. Tante Mo bekerja di kantor majalah anak-anak terkenal. Tante Mo juga seorang pengarang. Semua pintu dan jendela rumah Tante Mo terkunci. Rumah besar dan tua itu terasa hening. Aku tahu dari Mama kalau rumah itu peninggalan jaman Belanda. Mama menyuruh Tante Mo menempatinya setelah Nenek meninggal.
Aku tahu kedatanganku tidak tepat. Tapi untuk pulang ke rumah! uh, maaf saja! Biar kutunggu sampai Tante Mo pulang. Ah, tiba-tiba aku ingat pintu gudang yang tidak terkunci rapat. Tante Mo selalu lupa untuk memperbaiki kuncinya yang rusak. Mudah-mudahan keadaaannya masih demikian. Jadi aku bisa menunggu Tante Mo di gudang saja.
Ternyata harapanku terkabul. Setelah menggoyang-goyangkan pintunya beberapa kali, akhirnya pintu gudang terbuka. Udara sedikit pengap. Aku membuka jendela kecil. Udara segar masuk dan keadaan dalam gudang lumayan terang.
Di sudut gudang terdapat tumpukan kardus yang entah apa isinya. Di pojok ada kursi-kursi tua rusak, seperangkat sofa usang, meja belajar yang ditumpuk rapi. Di sisi lain terdapat sebuah lemari besar tua. Aku bergegas ke sana. Membuka kedua pintunya lebar-lebar. Jejeran buku-buku yang tersusun rapi menyambutku. Ini yang aku cari. Jadi aku bisa membaca sambil menunggu Tante Mo pulang.
Semua buku-buku itu koleksi Tante Mo. Tentu Tante Mo tidak akan tega meloak buku-buku lama itu. Aku mengambil sebuah buku cerita petualangan. Kemudian duduk di sofa. Debu beterbangan. Aku menutup hidung dan bersin. Setelah itu aku hanyut ke dalam kisah petualangan dalam buku itu. Dan tanpa sadar aku pun tertidur.
Aku terbangun ketika hari menjelang senja. Cahaya matahari redup masuk gudang. Terhalang pepohonan.
“Sudah bangun rupanya,” ujar seseorang. Membuat aku terperanjat. Seorang anak perempuan tengah menatapku sambil tersenyum ramah. Ditangannya ada sebuah buku cerita . Siapa dia? Aku merasa heran karena di rumah Tante Mo tidak ada anak kecil.
“Siapa kamu?” tanyaku heran. Anak itu tersenyum sebelum menjawab.
“Nina, pemilik gudang ini. Dan kamu memasukinya tanpa ijin!” katanya sambil merapikan rambutnya yang ikal tidak beraturan. Aku melongo. Bukankah gudang yang aku masuki ini punya Tante Mo? Kenapa anak itui berani mengatakan miliknya?
“Gudang ini punya Tante Mo. Aku bebas masuk sambil menunggu Tante Mo pulang!” ujarku ketus.
“Kamu anak yang keras kepala, ternyata. Kamu kabur, ya?” Aku melotot menatap anak asing itu. “Buktinya kamu masih pakai seragam sekolah,” lanjutnya lagi.
“Ya, aku sedang marah pada Mama,” jawabku pendek.
“Tidak baik ngambek sampai kabur segala. Nanti kamu akan menyesal seperti aku.”
“Apa urusanmu?’ kataku marah.
“Dulu aku pun pernah marah pada Mama. Mama melupakan ulang tahunku. Aku pura-pura kabur dengan bersembunyi di gudang ini. Aku tahu gudang ini mempunyai ruang bawah tanah. Aku masuk ke dalamnya dengan membawa buku harian. Aku menguncinya dari dalam. Aku senang membayangkan Mama akan kelimpungan mencariku. Tapi lama-lama aku menyesal bila ingat Mama mengkhawatirkan aku. Aku ingin keluar. Tapi aku tidak bisa keluar, sebab aku lupa membawa kuncinya. Aku terkurung di ruang bawah tanah karena ulahku sendiri. Selama bertahun-tahun. Aku perlu bantuanmu, tolong bebaskan aku….”
Aku menatap Nina dengan ngeri. Matanya menjadi sendu. Wajahnya terlihat pucat. Nina terus mentapku aneh. Aku pun menghambur keluar gudang ketakutan. Ternyata Nina itu…..
Di halaman aku melihat mobil Tante Mo berhenti. Ufh, syukurlah, Tante Mo pulang.
“Tante, antarkan Karin pulang,” ujarku memeluk Tante Mo.
“Aduh, Karin, kamu bikin Mama kamu sedih dan cemas. Mama menyuruh Tante Mo mencari kamu. Mama kamu menangis terus,” cerocos Tante Mo.
“Iya, antarkan Karin pulang. Karin mau minta maaf,” kataku sungguh-sungguh. “Tante Mo, tadi di gudang Karin bertemu Nina. Dia terkurung di ruang bawah tanah selama bertahun-tahun. Jadi Nina sudah jadi hantu. Tapi dia minta dibebaskan,” ceritaku kemudian. Tante Mo malah tertawa.
“O, jadi karena itu kamu minta pulang? Nina berhasil membuat kamu takut. Si bandel itu memang tukang kibul. Dia anak Pak Jamal, tetangga Tante,” jelas Tante Mo sambil terus tertawa.
Mobil Tante Mo mulai berjalan untuk diparkir. Aku menoleh ke belakang. Di bawah pohon rambutan aku melihat Nina melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum. Uh, sebal!


Previous
Next Post »