Thank You, Sambal Mexico!


Keluarga Erin baru pindah ke Amerika dua minggu yang lalu. Tak heran bahasa Inggris Erin masih belum lancar. Hal ini membuat Erin sulit bergaul di sekolah. Sebagian besar anak sekolahnya tidak sabar mendengarkan omongan Erin yang sering sulit dimengerti.
Untungnya, Erin bertemu dengan Agatha. Agatha sangat sabar mendengarkan ocehan Erin. Dia juga mau mengajari dan mengoreksi setiap kali Erin salah ucap.
Suatu sore, Agatha mengajak Erin berkunjung ke apartemennya. Alangkah terkejutnya Erin waktu bertemu dengan Mommy Agatha. Mommy Agatha persis orang Indonesia! Mommy Agatha menyapa Erin dengan bahasa Indonesia yang lancar. Lalu, Mommy Agatha dan Agatha berbicara dalam bahasa Indonesia!
“Kok, kamu tidak pernah bilang kalau kamu bisa bahasa Indonesia?” Erin protes dalam bahasa Indonesia begitu tiba di kamar tidur Agatha.
Agatha tidak menjawab.
Sejak tahu Agatha bisa berbahasa Indonesia, Erin jadi lega sekali. Sepanjang waktu Erin mengajak Agatha mengobrol dalam bahasa Indonesia. Tapi, baru dua hari berlalu, Agatha berubah sikap. Agatha memusuhinya. Ia sama sekali tidak mau berbicara dengan Erin. Tentu saja Erin sedih sekali.
Saat istirahat makan siang, Erin melirik Agatha. Temannya itu sedang duduk di antara tiga anak bule sambil sibuk bercerita. Kira-kira tentang apa, ya? Erin bertanya-tanya dalam hati. Erin menunduk sedih. Dia ingin sekali bergabung... Erin menghela napas. Dia mengambil botol saus sambal di depannya. Lalu menuangkannya ke dalam roti isi, banyak sekali. Erin memang suka makanan pedas. Erin mengangkat roti isinya, lalu menggigitnya. Tapi…. Astaga! Bukan pedas yang terasa, melainkan asam yang luar biasa!
Buru-buru Erin menyambar tisu dan membuang roti yang sudah dilahapnya tadi. Lalu meneguk minumannya banyak-banyak.
Sambal apa, sih, ini? Kok, rasanya asam sekali? Erin menggerutu dalam hati. Dia menatap rotinya. Oh, tidak! Semuanya sudah berlumuran sambal asam itu!
Erin menggigit bibir. Dia belum sarapan, perutnya sangat keroncongan. Dia merogoh sakunya. Uangnya sudah habis, tinggal beberapa butir koin. Mana cukup untuk membeli makanan lagi? Dan mana mungkin dia berhutang? Ah, rasanya Erin ingin menangis.
Krucuk! Krucuk! Perut Erin mulai bernyanyi. Erin memegangi perutnya. Maaf ya, perut. Terpaksa kamu kosong sampai pulang sekolah. Batin Erin sedih.
“Nih!” tiba-tiba Agatha datang dan menyodorkan setengah bagian roti isi kepada Erin.
Erin kaget sekali. “Kamu sudah tidak marah padaku?” tanya Erin lirih.
Bukannya menjawab, Agatha malah berkata, “Itu sambal Mexico. Rasanya asam sekali. Biasanya orang menuangkan sedikit-sedikit, tidak pernah sebanyak kamu.” Agatha duduk di depan Erin.
“Ooh…”
“Sekali ini saja, ya, kita ngobrol pakai bahasa Indonesia,“ lanjut Agatha. “Kamu tahu tidak, kenapa aku tidak bilang padamu kalau aku bisa bahasa Indonesia?”
Erin menggeleng polos.
“Karena aku tahu, kamu tidak akan mau bicara dalam bahasa Inggris denganku lagi begitu kamu tahu aku bisa bahasa Indonesia!”
“Terus kenapa?”
“Kalau kamu tidak mau berlatih bicara dan mendengar, bagaimana kamu bisa memperbaiki bahasa Inggrismu?”
Erin tertegun mendengar penjelasan Agatha. Benar juga! Agatha teringat, Mama pernah berkata padanya, “Jika kau ingin cepat pintar belajar bahasa asing, kau harus rajin berbicara dalam bahasa tersebut.”
“Maafkan aku, ya, Tha,” gumam Erin akhirnya.
Agatha tersenyum, “Maafkan aku juga ya, Rin. Melihatmu sedih dan duduk sendirian seperti tadi itu membuat aku sadar. Harusnya aku terus terang membicarakan hal ini sejak awal.”
“Mulai sekarang aku tidak akan berbicara dalam bahasa Indonesia denganmu sampai bahasa Inggrisku lancar!” sahut Erin penuh semangat.
“Sungguh?”
“Sure! (Tentu!)” Erin mengangguk kuat-kuat.
“Good! (Bagus!)” sahut Agatha riang.
Erin melahap roti isi pemberian Agatha. Dia berkata, “I am very hungry. Thank you for sharing your sandwich. (Saya sangat lapar. Terima kasih kamu mau membagi roti isimu.)”
Agatha tersenyum. Dia melirik Erin dengan tatapan jahil. “Do you want this?(Kamu mau ini?)” Agatha mengangkat botol sambal Mexico itu.
Erin membelalak dan buru-buru menggeleng kuat-kuat. “No! No! Once is enough. (Tidak! Tidak! Cukup satu kali!)”
“Are you sure don’t want this? (Sungguh, kamu tidak mau ini?)” goda Agatha.
“Sure! But anyway, thank you, sambal Mexico! You bring back my best friend! (Tentu! Tapi bagaimanapun juga, terima kasih sambal Meksiko. Kau mengembalikan sahabat baikku!)” jawab Erin.
Mereka pun tertawa bersama.
Previous
Next Post »