Tanda Tangan

Kantin itu terletak di belakang sekolah. Bangunannya sederhana, tapi cukup bersih dan sehat. aka setiap jam istirahat, kantin itu dipenuhi anak-anak.
Aku dan Lina duduk di sudut ruangan. Di situ ada meja gantung dilengkapi kursi panjang menghadap tembok. Cukup untuk duduk bertiga. Lina minum es cendol dan aku es jeruk. “Wah, sedang asyik, nih?” tanya Erni yang baru datang. Ia menengok ke kanan kiri mencari tempat kosong.
“Nih, duduk di sini, masih muat!” ajakku.
“Makanya, jangan suka terlambat ke sini, Er!” sergah Lina.
“Ngg, soalnya aku harus ke perpustakaan, pinjam buku,” jawab Erni.
Erni sepertinya terpaksa duduk di dekatku. Ia memang tidak biasa bermain dengan aku dan Lina. Selanjutnya, kami lebih banyak diam. Tapi aku penasaran. Erni tidak suka membaca. Jadi, aneh rasanya kalau tadi dia ke perpustakaan.
“Hayo, semua harus bayar ya!” kata Mbok Darun ramah.
Pemilik kantin itu bernama Mbok Darun. Setiap jam istirahat, ia sibuk melayani pembeli. Semua berebut minta didahulukan, sehingga suasana jadi sembrawut. Kalau sudah begitu, Mbok Darun pasti ngomel-ngomel. Sebab ada beberapa siswa yang tidak membayar. Hanya saja ia tidak tahu siapa orangnya. Tapi, tiga hari ini, Mbok Darun tidak marah-marah lagi. Ada apa, ya? Apakah siswa yang sering tidak bayar itu sudah insaf?
“Es jeruk satu, kue kukus dua. Berapa?” tanya Lina pada Mbok Darun.
“Sebentar!” potongku. “Hari ini giliranmu jadi bos. Artinya, es cendolku juga mesti kau hitung,” lanjutku.
“Okey, aku seribu. Kamu habis berapa? Ayo, hitung yang benar biar Mbok Darun tidak marah-marah! Iya kan, Mbok?” Lina melirik Mbok Darun. Tapi tiba-tiba, “Aduh, uangku tertinggal di tas. Tolong, bayari punyaku juga, It! Nanti kuganti, deh,” seru Lina sambil berlari.
“Huu…” keluhku sambil menyodorkan uang yang kuterima dari Lina kemarin.
Akhir-akhir ini Lina memang agak aneh. Sudah tiga kali ini ia tidak mentraktirku, dan meminjam uangku. Walaupun keesokan harinya ia pasti mengganti uangku. Alasannya, uang hilang. Masa iya, hilang terus-terusan?
“Uang, kok, dicorat-coret sembarangan,” keluh Mbok Darun sambil menerima uangku.
“Itu namanya tanda tangan, Mbok,” aku menjelaskan coretan itu. Lina memang punya kebiasaan buruk, menandatangani uangnya.
Kembali dari kantin, kulihat Lina tampak bingung di luar kelas.
“Kenapa kamu, Lin?”
“Maaf, It! Aku tadi hanya bercanda. Dan aku tahu, hari ini memang giliranku mentraktirmu,” katanya terbata-bata. “Sebenarnya tadi aku memang mau mengambil uang di tasku. Tapi, uangku hilang lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya,” suara Lina lirih.
Hari-hari yang lalu, Mbok Darun marah karena ada anak yang tidak bayar. Sekarang ganti Lina yang kehilangan uang jajan. Peristiwa pertama selesai, walau pelakunya tidak tertangkap. Tapi muncul masalah baru. Ah, jangan-jangan kedua peristiwa itu saling berkaitan.
“Kamu kenapa tidak lebih hati-hati? Kok kecurian sampai tiga kali?” aku jadi agak curiga pada Lina.
“Ya, aku menyesal sekali tidak hati-hati. Soalnya…, pencuri itu hanya mengambil separuh uang jajanku. Cuma seribu rupiah.”
Wah-wah, pencurinya hanya mencuri sesuai kebutuhannya mungkin.
“Mana sisanya?” tanyaku.
“Ini!” Lina mengulurkan uang yang diambil dari dompetnya.
“Pasti pencuri itu mau bilang, ‘Sisa ini untuk Ita’,” kucoba berkelekar.
“Aku sedang serius, It,” sergahnya.
Kuterima selembar uang ribuan. Tidak ada yang menarik. Kertasnya sudah lusuh. Banyak lipatan disana-sini. Di sudut atas ada tanda tangan bertinta hitam. Tanda tangan. Ah, tanda tangan itu mengingatkan aku pada kantin Mbok Darun. Maka, uang itu langsung kukantongi. Dan buru-buru meninggalkan Lina.
“Lo, kamu mau kemana lagi, Ita?”
“Mau beli es lagi pakai uang sisa pencuri.”
“Hei, itu uangku, It!” teriak Lina yang tidak kugubris. Waktu istirahat hampir habis. Aku terus berlari menuju kantin. Di sana masih ada beberapa teman yang belum beranjak dari kursinya. Ada Tuti, Erni, Budi, dan juga Roni. Mereka sedang menghabiskan minuman dan makanan mereka.
“Kenapa balik lagi, It?” tanya Roni.
“Anu, tadi ada yang tertinggal,” jawabku sekenanya.
Tampak Erni tidak menyukai kedatanganku. Ia buru-buru berpamitan pada Tuti. Lalu membayar pada Mbok Darun. “Sudah, Mbok! Es campur tambah kacang. Berapa?” katanya sambil mengacungkan selembar uang seribuan.
Kulihat uang yang diulurkan Erni. Aku jadi terbelalak. Tanda tangan. Ya, di sudut atas uang Erni itu tertera tanda tangan. Sama dengan tanda tangan di uang Lina. Maka secepat kilat tangan Erni itu kupegang.
“Lihat, tanda tangan ini! Sama persis. Ini tanda tangan Lina!” ucapku sambil menunjukkan uang yang tadi kukantongi. Lalu aku melirik Mbok Darun. “Mbok, jangan suka marah-marah pada semua pembeli. Marahlah pada Erni!” kataku mantap.
Mbok Darun bingung tertegun, dan Erni pucat pasi.
Hem, hilangnya uang Lina, ternyata berkaitan dengan hilangnya marah-marah Mbok Darun.
Previous
Next Post »