Sahabatku Ayu

Minggu agak mendung. Dengan enggan Ruri melangkah ke warung. Ibu menyuruh membeli tomat. Ketika berbelok ke jalan Merak, Ruri tertegun. Rumah nomor 2 dari ujung kanan tampak sibuk. Agaknya ada penghuni baru yang akan menempati rumah berpagar kuning itu.
Sambil lalu Ruri memperhatikan orang-orang yang sibuk mengangkut barang. Seorang gadis berkepang dua muncul dari pintu samping. Ia membawa kardus coklat. Ruri terpana. Rasa-rasanya ia mengenali gadis itu. Bukankah itu Ayu?
“Ayu!” pekik Ruri girang.
Mendengar seseorang menyebut namanya gadis itu terkejut.
“Ruri! Baru saja aku mau cari rumahmu. Ini ada titipan dari kakekmu,” ujar Ayu seraya mengangsurkan kardus.
“Kau akan tinggal di rumah ini?”
“Ya.”
“Kenapa tidak cerita padaku waktu aku mengunjungi Kakek minggu lalu?” tanya Ruri kecewa. Ayu, sahabatnya itu tinggal di sebelah rumah Kakek.
“Maaf. Aku sengaja merahasiakan ini karena ingin membuat kejutan untukmu. Nah, sekarang aku menjadi tetanggamu. Besok aku menjadi teman sekelasmu.”
“Kau? Idih jahat!” teriak Ruri seraya mencubit Ayu gemas.
Sejak itu persahabatan Ruri dan Ayu semakin erat. Setiap sore Ayu belajar di rumah Ruri. Banyak materi pelajaran yang belum diberikan di sekolah Ayu sebelumnya. Jadi ia harus belajar lebih keras agar tidak tertinggal dari teman-temannya. Ruri dengan senang hati mengajari Ayu.
Ruri pun tidak segan-segan menemani Ayu ke mana-mana. Ayu belum mengenal sudut-sudut kota ini. Jadi Ruri siap memberikan pertolongan bila Ayu membutuhkan.
Pagi itu Ruri sedang menyisir rambut ketika Ayu mengetuk pintu.
“Ri, tolong dong. Aku belum mengerjakan PR IPA. Semalam aku capai sekali. Pinjam pekerjaanmu, ya.”
Ruri tersentak mendengar permintaan Ayu. Rasanya ia ingin marah. Ruri paling tidak suka pada teman yang mencontek PR-nya.
“Tolong aku, Ri! Sekali ini saja. Janji deh!” Ayu memohon.
Dengan menahan kecewa Ruri menyerahkan buku PR-nya.
“Ah, Ayu kan berjanji hanya untuk kali ini,” hibur Ruri terhadap dirinya sendiri. Ia berusaha menghibur kekecewaaannya dalam-dalam.
Sebulan telah berlalu. Ruri sudah melupakan peristiwa itu. Namun kembali Ayu mengecewakan Ruri. Ia tidak membawa kertas lipat ketika pelajaran ketrampilan. Padahal semingu sebelumnya Bu Ani sudah meminta para siswa mencatat peralatan yang harus dibawa saat pelajaran ketrampilan.
“Kenapa kau tidak membawa sendiri?” tanya Ruri sengit.
“Aku lupa belum beli. Aku pikir minta kamu dulu kan tidak apa-apa. Nanti aku ganti,” jawab Ayu enteng.
Ruri kesal sekali. Ternyata kesediannya membantu Ayu selama ini telah menyebabkan Ayu bergantung kepadanya. Ruri memang senang membantu. Namun bila kemudian menjadi tempat bergantung, tentu saja ia tidak suka. Aku harus berterus terang pada Ayu, tekad Ruri. Tapi kalau Ayu marah bagaimana?
“Huh!” dengus Ruri kesal.
“Kenapa, Ri?” tanya Ayu.
Tanpa sengaja Ruri mendengus terlalu keras agaknya.
“Ah, tidak apa-apa,” jawab Ruri menutupi.
“Kamu kesal aku minta kertasmu, ya? Nanti aku ganti, Ri. Berapa harganya sih?”
Ruri menatap Ayu. Dengan ragu ia pun berkata pelan.
“Harga kertas itu tidak seberapa, Yu. Tapi….”
“Lalu apa?”
“Aku tidak suka kau selalu bergantung padaku. Sampai-sampai PR pun kau mencontek pekerjaanku. Itu akan merugikan dirimu sendiri.”
Ayu terbelalak. Ucapan Ruri betul-betul menghujam hatinya. Tapi, itu semua karena Ruri memperhatikannya. Ayu malu sekali.
“Maafkan aku, Ri! Mulai saat ini aku akan berusaha untuk tidak selalu mengharapkan pertolonganmu,” ujar Ayu lirih.
Ruri tersenyum. Ia menepuk pundak Ayu. Betapa leganya Ruri. Ternyata berterus terang pada saat yang tepat itu lebih baik daripada menyimpan masalah.
Previous
Next Post »