Di Hari Ulang Tahun

Mita menutup buku yang baru selesai dibacanya. Jam dinding di kamar menunjuk pukul empat sore.
“Mengapa mereka belum datang juga?” Mita bertanya-tanya. Ia menghela nafasnya karena merasa kesepian. Diarahkan pandangannya menembus jendela kamar.
“Heh, siapa itu yang bermain-main di tamanku?” Mita kaget melihat seorang gadis sebayanya sedang menari-nari di taman bunga miliknya.
Bergegas Mita menjalankan kursi rodanya ke pintu belakang rumah. Mita kemudian mengarahkan kursi rodanya ke taman bunganya.
“Selamat sore!” sapa Mita ketika mendekati gadis kecil yang tidak menyadari kehadirannya itu.
“Oh…eh…ada orang…..”
“Ya, aku pemilik taman bunga ini. Dan kau?”
“Aku…aku tamu di taman ini. Kupikir taman bunga yang indah ini tidak ada yang punya. Apakah kau marah karena aku bermain di tamanmu ini?”
Mita tersenyum. “Tidak, kalau kau mau berteman denganku. Namaku Mita,” ucap Mita sambil mengulurkan tangannya.
Gadis itu menjabat tangan Mita. “Namaku Zephytra,” balasnya.
Mita mengangga sebentar. “Namamu seperti bukan orang sini,” kata Mita.
“Ya, aku memang bukan orang sini. Hmmm, maksudku, aku orang bumi hanya saja… Ngg, kau mau menyimpan rahasiaku? Ya, aku datang dari masa duaratus tahun yang akan datang,” kata Zephytra.
“Dua…duaratus…kau pasti sedang bercanda.”
“Bercanda?”
“Bagaimana bisa kau datang ke sini? Bagaimana caranya? Dan mengapa pakaianmu tidak seperti orang-orang di masa yang akan datang….”
“Aku dapat membuktikannya,” kilah Zephytra. Ia kemudian memutar cincin di jari manisnya. “Untuk membuktikan bahwa aku datang dari masa depan yang serba canggih. Aku akan menyembuhkan kakimu yang lumpuh itu.”
Zephytra mengusap mata cincinnya pada kedua dengkul kaki Mita. Ada getaran gelombang elektromagnetik yang dirasakan Mita.
“Nah, sekarang berdirilah,” pinta Zephytra.
Mita masih setengah percaya. Ia kemudian berusaha berdiri. Dan…benar-benar luar biasa. Mita tidak hanya bisa berdiri, tapi ia bisa melangkah.
Zephytra malah mengajaknya menari-nari di taman bunga. Mita sampai lupa berterimakasih.
“Nah, sekarng ceritakan bagaimana kau bisa datang ke tempat ini,” kata Mita setelah letih bermain.
“Di masaku nanti, aetiap anak yang berulang tahun mendapatkan hadiah untuk bermain di masa lampau selama empat jam. Tubuh kami lalu dipasangkan alat. Lalu kami masuk ke kapsul waktu yang akan membawa kami ke masa lampau.”
“Lalu mengapa kau memilih tempat dan waktu kini?”
“Aku memiliki beberapa benda peninggalan nenek moyangku. Salah satunya adalah buku harian milikmu. Jadi, kau adalah nenek moyangku. Menurut buku harianmu, kau memiliki taman bunga yang indah. Makanya aku ingin sekali ke mari. Di masa yang akan datang nanti, kami tidak punya lagi kebun bunga seperti ini,” kata Zephytra sedih.
“Sudahlah, jangan sedih. Kau kan sudah puas bermain. Kau pun bisa membawa beberapa tangkai bunga yang kau sukai untuk oleh-oleh.”
“Benarkah? Oh, terima kasih….”
Zephytra kemudian bercerita, bahwa di masanya tidak lagi ada pepohonan.
“Kelak lapisan ozon sudah mulai hilang akibat ulah manusia. Belum lagi radioaktif akibat perang dan juga limba-limbah industri. Lama-lama tumbuhan punah, begitu juga hewan. Bahkan manusia yang hidup di masa yang akan datang hanya sedikit jumlahnya,” cerita Zephytra lagi.
“Kalau begitu aku akan merawat taman bunga ini semampuku. Sebelum masa itu datang,” janji Mita.
Zephytra mengangguk. Ia kemudian terdiam sebentar karena merasakan sinyal di kepalanya. “Ah, waktuku sudah habis. Aku harus kembali ke masaku. Oh, iya terima kasih atas bunga-bunganya,” pamit Zephytra.
“Aku juga berterima kasih karena kau telah menyembuhkan kakiku. Selamat ulang tahun. Jangan lupa untuk mengunjungiku tahun depan,” salam Mita.
Zephytra tersenyum. Buzzzzssshhh! Tiba-tiba ia menghilang.
Mita kembali ke rumah sambil mendorong kursi rodanya. Tak lama kemudian ia mendengar mobil Ayah memasuki garasi. Buru-buru Mita duduk di atas kursi rodanya.
“Selamat sore, Mita!” sapa Ayah dan Ibu.
“Lihat, apa yang kami belikan untuk pesta ulang tahunmu minggu depan,” kata Ibu sambil membuka bungkusan yang dibawanya.
Mita ternganga melihatnya. Sebuah baju yang model, ukuran dan warnanya sama persisi dengan yang dipakai… Zephytra tadi. Berarti Zephytra tadi memakai baju peninggalanku juga, pikir Mita dalam hati.
“Terima kasih, Bu. Mita juga punya kejutan untuk Ayah dan Ibu. Tapi Ayah dan Ibu harus memejamkan mata dulu. Pada hitungan ketiga, baru Ayah dan Ibu membuka mata,” pinta Mita.
Ayah dan Ibu menuruti. “Satu…dua…tiga!”
Keduanya tersentak kaget melihat Mita berdiri. Bahkan mereka masih tidak percaya ketika Mita berjalan ke arah mereka dan memeluk mereka.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Ibu heran.
Mita tersenyum.
Menurut kalian, Mita akan menceritakannya atau tidak?
Previous
Next Post »