Darma Dan Zainal


Darma gembira ketika Ayah mengajaknya liburan ke kota Medan. Ini hadiah untuk Darma karena ia naik ke kelas empat.
Rumah paman Darma terletak di Padang Bulan. Dekat sebuah sungai. Setiap sore Darma pergi ke sungai itu dan bermain dengan Zainal, Andir dan Pipiet, tetangga sebelah. Ada satu lagi yang membuat Padang Bulan berbeda dengan Pakkat, desa Darma. Di Pakkat, Darma cuma bisa melihat pesawat di langit yang tinggi. Besarnya cuma sepenggaris ukuran 30 cm. Sedangkan di rumah pamannya ini, jangan ditanya! Pesawat terbang yang melintas di atas Padang Bulan, tampak sebesar mobil angkutan kota di atas kepala. Setiap 10 menit dari pagi sampai magrib, terdengar deru pesawat terbang yang melintas di atas rumah-rumah. Baik ketika pesawat itu mendarat atau ketika akan lepas landas.
Hal itu membuat Darma ingin melihat pesawat terbang lebih dekat lagi. Bahkan ingin memegang pesawat itu kalau bisa. Menurut penduduk setempat, Bandara Udara Polonia itu dekat. Jalan kaki saja sudah sampai.
Suatu ketika, Darma dan Zainal sepakat ingin melihat pesawat terbang dari dekat. Sebetulnya mereka juga mengajak anak-anak lain. Tetapi mereka tidak mau. Kedua anak ini pun pergi tanpa pamit kepada orangtua mereka. Mereka melangkah terus menyusuri kampung-kampung. Akhirnya di depan mata mereka tampak terhampar sebagian kecil dari landasan pesawat udara. Di kejauhan tampak juga tulisan Polonia. Betapa gembira hati Darma dan Zainal.
Ada beberapa pesawat sedang parkir di situ. Sesaat kemudian sebuah pesawat dari atas mulai turun dan siap menyentuh landasan. Akhirnya roda pesawat itu menyentuh aspal hitam dan mengeluarkan suara ngiuk-ngiuk. Lalu pesawat itu berjalan seperti sebuah mobil.
Saking semangatnya ingin melihat pesawat lebih dekat, mereka menerobos pagar besi yang keropos. Mereka melangkahi rumput-rumput yang jaraknya cuma dua puluh meter dari landasan pesawat. Ketika sedang terpesona, seorang kakek penyabit rumput menegur mereka.
"Nak, mau ke mana kalian?"
"Mau melihat pesawat, Kek. Kami orang desa, Kek. Sedang libur sekolah," kata Darma terus terang.
"Kalau mau lihat pesawat, dari sini saja. Tak usah ke dalam landasan. Setiap saat ada pesawat yang naik dan turun. Berbahaya kalau terlalu dekat," kata si kakek sambil memasukkan rumput ke dalam karung goni.
Rupanya Darma dan Zainal tidak puas hanya melihat dari kejauhan. Mereka terus berjalan menyusuri landasan. Mereka ingin melihat dari dekat pesawat yang baru mendarat. Mereka tidak peduli peringatan si Kakek. Tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju kencang ke arah mereka. Mereka petugas keamanan bandara. Di leher salah satu dari mereka tergantung teropong. Pria yang dibonceng mengepal tinjunya seolah-olah mengancam Darma dan Zainal. Melihat sikap petugas itu, kedua anak itu segera berlari.
"Hei, mau ke mana kalian? Jangan masuk ke landasan," larang mereka.
Darma dan Zainal tidak menjawab. Malah berlari semakin kencang. Kedua petugas itu terus mengejar mereka dengan sepeda motor. Darma dan Zainal akhirnya tidak mampu lagi berlari. Petugas yang dibonceng pun segera turun. Badannya gemuk. Tangannya langsung memegang kerah baju Darma.
"Kamu nakal ya. Diperingatkan, malah lari. Mau apa di sini? Mau curi kebel ya?"
"Bukan Pak. Bukan," teriak Darma.
"Sini kalian berdua," kata petugas satunya lagi yang bertubuh kekar. "Kalian tahu, ini landasan pesawat udara! Tidak boleh sembarangan masuk ke sini. Kalian bisa tertabrak pesawat!" Darma dan Zainal diam ketakutan.
"Pak Gendut, kita apakan kedua anak ini?" tanya lelaki kekar itu pada temannya.
"Kita tahan saja dulu. Lalu rendam kepala mereka di air es selama satu jam. Biar mereka jera," jawab petugas gemuk itu.
"Ampun Pak. Maafkan kami. Kami datang ke sini hanya ingin melihat pesawat," kata Darma sambil menangis sejadi-jadinya.
"Maaf Pak. Kami memang hanya ingin lihat pesawat," kata Zainal pula. Tangannya menyembah-nyembah kedua petugas itu. Dia juga menangis.
Rupanya sejak tadi, Kakek penyabit rumput itu sudah memperhatikan kelakuan mereka. Ia berlari-lari menemui kedua petugas itu. Pak Gendut pun menerangkan pada kakek itu tentang apa yang terjadi. Si Kakek berusaha membela Darma dan Zainal.
"Sekarang, jawab yang jujur! Apa betul kalian ke sini cuma ingin melihat pesawat? Jangan bohong!" tanya Pak Gendut dengan suara keras.
"Benar, Pak. Kami ini anak desa. Di desa, kami tidak pernah melihat pesawat sebesar yang kami lihat tadi, Pak," ujar Darma masih terisak.
"Kalian punya kartu pelajar?"
Darma dan Zainal mengeluarkan kartu pelajar dan memberikannya kepada Pak Gendut. Kedua petugas itu memeriksa dengan teliti. Mereka akhirnya mengangguk-angguk percaya.
"Pak Gendut, sebaiknya kedua anak ini dipulangkan saja. Mereka ini anak desa yang belum pernah melihat pesawat terbang dari dekat. Mereka hanya terpesona. Dan karena teledor, mereka masuk ke daerah ini," saran si kakek.
Pak Gendut mengangguk-angguk.
"Kalian ini terlalu berani. Kalau mau lihat pesawat, datang saja ke Bandara Polonia. Di sana kita boleh lihat pesawat terbang di depan mata kita. Jadi bukan dari pinggir landasan sini. Berbahaya," kata Pak Gendut.
"Kami mengerti, Pak. Maafkan kami," kata Darma sambil menyalami kedua petugas ini dan sang kakek. Zainal juga melakukan hal yang sama.
"Pesan Kakek, rajin-rajinlah kalian belajar. Siapa tahu nanti menjadi pilot. Bisa melihat pesawat dari dekat setiap hari," pesan si kakek sambil tersenyum.
Darma dan Zainal mengangguk mantap. Ya, untunglah kakek penyabit rumput itu membela mereka. Untung pula mereka membawa kartu pelajar. Kalau tidak, tidak tahulah apa yang akan terjadi.
Previous
Next Post »