Topeng Jalanan

Nuri adalah seorang anak jalanan. Berbeda dengan anak-anak jalanan lainnya, Nuri tidak mengamen atau meminta-minta. Ia menjual topeng kertas di perempatan jalan. Sehingga di kalangan anak jalanan, dikenal sebagai: Nuri penjual topeng jalanan.
Topeng-topeng Nuri semuanya berupa binatang, terutama kucing . Adakucing merah, kunimg, hijau, atau biru. Semuanya buatan ibu Nuri. Ibu Nuri Mewarisi kepandaiannya dari kakek Nuri yang telah meninggal dunia. Nuri sendiri menyebutnya sebagai: topeng-topeng cantik.
Topeng itu dibuat dari kertas kartin, digambar dengan pewarna. Lalu disisi kanan kiri diberi karet gelang untuk memasangnya pada telinga. Nuri suka melihat ibunya membuat topeng. Kerap ia membantu mencoretkan kumis kucing atau memasang karet gelang.
Pekerjaan itu dilakukan untuk menambah penghasilan Ayah Nuri yang buruh perancah, pemecah batu pada pembangunan jalan raya. Tidak seperti anak-anak jalanan yang lainnya yang tak bersekolah, Nuri duduk di kelas tiga SD. Ia masuk siang, sehingga setelah belajar ia bisa menjual topeng-topeng cantik . Setiap pagi itu, Nuri mulai berkemas. “ sudah selesai pr-mu, Nuri?”Tanya ibu yang terus membuat topeng-topeng. Sebab hari itu ada orang yang memesan topeng. Semuanya seratus topeng, mau diambil nanti siang.
“Sudah, Bu ”Sahut Nuri saat mencium tangan ibu.“Hati-hati,ya?”
“Ya, Bu”
Perempatan jalan itu tidak jauh dari rumah yang dikontrak Ayah Nuri. Sambil berjalan dari perkampungan itu Nuri ingat pada kejadian di perempatan jalan. Dari kecelakaan lalu lintas, pencopetan, perampokan, dan perkelahian antar kampong. Meskipun demikian ada juga pengalaman yang menyenangkan. Yaitu persahabatan Nuri dengan Siska.
Siska adalah seorang anak kelas empat SD, yang berangkat dan pulang selalu naik mobil. Di waktu yang singkat di perempatan jalan itulah, mereka saling bertemu. Nuri sangat menyukai Siska, sebab Siska bukan hanya cantik tapi juga baik hatinya. Dan lebih dari itu Siska tidak sombong. Meskipun anak orang kaya tapi mau bersahabat dengan anak jalanan.
Setiap pertemuan yang sesaat sambil saling tos, Siska selau membeli topeng Nuri.
Nuri sendiri heran, untuk apa Siska selalu membeli topeng Nuri.
“Untuk apa, Siska?”
Tadinya Siska menjawab hanya dengan senyuman. Sampai kemudian Siska tak lagi menjawab dengan senyum manis. “Asalkan kamu bersahabat denganku”. Nuri menganguk, membalas senyum manis Siska.
Mereka pun saling berjabat tangan.” Untuk apa topeng-topeng yang kamu beli?”
“Untuk teman-temanku”
“Untuk teman-temanmu disekolah?”
“Dimana saja, terutama mereka yang nakal.
“Kok”
“Ya, supaya merekakembali baik seperti topeng-topeng cantik ini”
Demikian sampai kemudian Siska memesan seratus topeng, dan siang itu mau diambil. Dan kepada ibunya, Nuri berpesan agar siang itu membawa topeng-topeng yang dipesan Siska, tepat pada jam biasa Nuri dan Siska bertemu. Siang itu Nuri tersenyum melihat ibunya telah sampai di perempatan itu membawa topeng pesanan. Dan sebentar kemudian tampaklah mobil Siska.
“Itu Siska sahabatku, ibu!” pekiknya gembira
“Ini topeng-topengnya nak Siska” kata Ibu Nuri seraya mengulurkan topeng-topeng kejendela mobil.
“Terima kasih, Bu” sahut Siska, “Ibu, ibunya Nuri ya”
“Ya, Nak” jawab ibu Nuri sambil merangkul Nuri
Siska menyaksikan ibu dan anak itu dengan penuh senyum
“Untuk, apa topeng-topeng itu Siska?” Tanya Nuri yang masih penasaran.
“Oh ya,” tukas Siska, “Besok malam , ibnu dan nuri di sisni, tepat jam tujuh, ya! Pak sopir akan menjemput Ibu dan Nuri. Nanti Nuri akan tau untuk apa topeng-topeng ini.”
Malam itu, Nuri tetap bertanya-tanya ketika berada di mobil yang menjemput mereka. “Ini ke rumah Siska ya pak? ” Tanya Nuri kepada pak sopir”Ya, kerumah orang tua non siska,” sahut pak sopir yang baik hati
Rumah Siska besar dan berhalaman luas. Nuri terpana melihat keindahandan kemeriahanya. Banyak tamu yang berdatangan dan semuanya memakai topeng.
“Ada apa ini, pak ?” Tanya ibu Nuri yang mengenali topemg buatannya dengan perasaan suka bercampur malu.
“Hari ini ulanh tahun non Siska,”jawab pak sopir,”Non Siska ingin dirayakan dengan pesta topeng.”
Turrun dari mobil Nuri tak habis bertanya-tanya. Tidak hanya anak-anak, tapi juga para orang tua yang mengantar anak-anak mereka. Semua memakai topeng. Dan begitu Siska menyambutnya dengan “gembira , Nuri pun tak sabar bertanya, Kenapa hanya kamu, aju dan ibu yang tak memakai topeng?” Siska menjawab dengan senyum manis.
.
Previous
Next Post »