Refleksi Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda 28 oktober 1928. Delapan puluh satu tahun yang lalu (1928-2009) para pemuda begitu membara semangat membela tanah air akan suatu penjajahan yang merenggut segala-galanya. Mulai hak dari untuk hidup, hak dari ketakutan dan sebagainya. Gagasan penyelenggaraan Konggres Pemuda Kedua dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggotakan pelajar dari seluruh Indonesia. Dalam wadahperkumpulan pemuda indonesia itulah, semangat yang begitu membara menorehkan tinta emas dengan di ikrarkannya Sumpah Pemuda.
Sumpah Pemuda menjadi tonggak keberhasilan bangsa ini dalam membentengi masuknya penjajahan horizontal dimanakehidupan bangsa ini terkoyak. Bagaimana tidak, gaung Sumpah Pemuda begitu bergelora di seluruh sudut negeri. Terlebih sebelum konggress PPPI ditutup, lagu Indonesia Raya karya WR Supratman berdenggung seolah mengiringi lairnya Sumpah Pemuda, hal itulah yang kemudian menjadi semangat kaum muda pada masa itu.
Kini, usia Sumpah Pemuda sudah menginjak 81 tahun. Usia yang cukup bagi perkembanga pergerakan di kalangan muda. Namun bagaimana realitas generasi muda saat ini? Masihkah nilai luhur Sumpah Pemuda dengan dasar sumpah
1.Bertanah Air Satu, Tanah Air Indonesia
2.Berbangsa satu, Bangsa Indonesia
3.Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia
melekat pada generasi muda?
Memang Sumpah Pemuda sudah berlalu berduru tegak ditengah kerumunan penjajah. Tetapi nilai-nilai nasionalisme menjadi catatan penting bagi setiap generasi ke generasi. Momen Sumpah Pemuda tidak saja menjadi simbol perjuangan kaum muda semata-mata tanpa dibarengi gerakan-gerakan serupayang memiliki jiwa nasionalisme dalam membangun bangsa ini. Paling tidak, generasi saat ini diharapkan menjadi tonggak kemajuan bangsa. Bukankah pemuda adalah agen perubahan bagi setiap bangsa?
Upaya merealisasikan nilai-nilai Sumpah Pemuda di kalangan generasi muda saat ini tidaklah mudah. Pergolakan idealisme dan tantangan global menjadikan generasi muda saat ini lebih memilih hidup yang serba instant. Pragmatisme menjadi pilihan generasi saat ini. Ada banyak hal yang sebenarnya menjadi faktor mengapa generasi muda jauh dari nilai-nilai perjuangan para pahlawan zaman dahulu. Salah satunya adalah nilai-nilai nasionalisme kaum tua . Saat ini sudah tak ada lagi nilai-nilai nasionalisme kaum tua bagi panutan generasi muda.
Nilai-nilai nasionalisme yang dimaksudioalah segala sikap dan tigkah laku yang mencerminkan keteladanan bagi generasi penerusnya. Kita bisa melihat betapa negri ini hancur akibat tindakan berbagai kaum tua. KKN adalh salah satu bukti riil bahwa tak ada lagi nilai keteladanan kaum tua.
Kita bisa bercermin dari setiap kejadian yang menjadiakan bangsa ini terpuruk. Perjuangan kaum muda dalam nilai-nilai Sumpah Pemuda bukanlah perjuangan untuk sesaat melainkan perjuangan yang diharapkan menjadi tonggak kemajuan bangsa dalam segala hal. Nasionalisme tak hanya berlaku untuk memperjuangkan kehormatan bangsa dari penjajahan secara fisik, tetapi nasionalisme yang menjadi benteng pertahanan dari masuknya berbagai penjajahan non fisik. Penjajahan ekonomi, degradasi moral dan lain-lain.
Merebaknya narkoba dikalanga generasi muda menjadi ancaman tersendiri bagi bangkitnya nilai-nilai luhur Sumpah Pemuda
.
Previous
Next Post »