Pengajaran, Pondasi Keberdaan Bahasa Jawa

Ibarat sebuah bangunan, sebelum mendirikan pilar, tentu harus meletakan pondasi dahulu. Bila pondasinya kokoh, maka pilar dan seluruh bangunan itupun akan kokoh pula. Pondasi untuk kberadaan bahasa jawa adalah ‘ Pengajaran Bahasa Jawa’.
Mungkinkah pengajaran bahasa jawa dijadikan pondasi keberadaan bahasa jawa? Jawabannya ya dan tidak. Ya apabilapengajaran bahasa jawa disekolah diajarkan secara tepat dan benar. Tidak apabila pengajaran bahasa jawa disampaikan secara asal-asalan. Bahasa Jawa, sepereti bahasa yang lain, memiliki 4 komponen yangharus dikembangkan.Komponen itu adalah membaca, menulis, mendengar dan berbicara. Hanya karena kedudukanya dalam kurikulum sebagai muatan local,maka sangat mungkin 2-3 jam tatap muka dalam seminggu tidak akan terpenuhi 4 komponen tersebut secara maksimal.
Bahkan ada sebagian sekolah mempercayakan pengampu mata pelajaran bahasa jawa, bukan lulusan pendidikan bahasa jawa. Alasannya hanya mengajar bahasa jawa, Pasti semua orang jawa (wong jowo) dapat melakukannya, hingga pengampunya diambilkan dari pengampu mata pelajaran lain, yang masih kekurangan jam tatap muka dalam seminggu, hak tersebut sangat berpengaruhterhadap penyampaian materi maupun penguasaan bahan. Sebab meski bahasa jawa, materi pelajarannya sungguh sangat sulit dan rumit. Contoh sederhana pada materi Unggah-Ungguh Basa dalam materi ini mencakup ngoko karma madya dan karma inggil.
Hal lain misalnya pennulisan kata, tidak hanya disekolah tetapi terjadi dalam penulisan spanduk baik itu resmi dari pemerintahan maupun swasta di sudut-sudut kota Yogyakarta beberapa tahun yang lalu. Spanduk pelayanan masyarakat untuk menguatkan para korban gempa, salah satu contohnya’Ojo Nelongso Iki Kabeh Soko Sing Kuwoso’, seharusnya ditulis ‘Aja Nelangsa Iki Kabeh Saka Sing Kuwasa;. Adapula penulisan spanduk yang ditulis dengan asal-asalan dan tidak tahu perbedaan antara ‘ta’ dengan ‘tha’ serta ‘da’ dengan ‘dha’.
Materi lainnya diantaranya pembetulan kata, parikan, wangsalan dan masih banyak lagi. Untuk menyampaikan materi tersebut dibutuhkan keahlian dan pemahaman yang mendalam. Sementara itu, kenyataan dilapangan, dibeberapa sekolah yang pengampunya bukan lulusan pendidikan bahasa jwa hanya mengajar seseuai buku pegangan dan menyusuaikan persoalan berdasarkan kunci jawaban. Oleh karena penyampaian materi yang kurang mendalam inilah, pemahaman pserta didikpun menjadi kurang, bahkan tidak tahu serta tidak mamapu berbahasa jawa secara baik dan benar.
Kekurangmampuan guru dalam menyampiakanmateri pelajaran bahasa jawa juga mengakibatkan peserta didik merasa kesulitan dan tidak senang mempelajari bahasa jawa. Terhadap kenyataaa ini penulis berharap agar para penentu pendidikan, Dinas Pendidikan dan Pengajaran kota/kabupaten bahkan provinsi perlu memperhatikan hal ini. Sebab sampai saat ini masyarakat masih beranggapan bahwa bahasa jawa yanga baku adalaah bahasa jawa Yogyakarta dan Surakarta.
Beberapa saean untuk mengatasi hal tersebut:
Pertama: usahakanlah pengampu pelajaran bahasa jawa adalah luludan pendidikan bahasa jawa. Hal ini tak semudah memebalikan telapak tangan, terutama untuk sekolah swasta, untuk pengadaan guru harus menghitung secara cermat terhadap kemampuan keuangan yayasan penyelenggara. Untuk mengatasi hal ini apabila sekolah tidak mampu mengadakan/mengangkat guru bahasa jawa, maka sekolaha dapat mengangakat Guru Tidak Tetap(GTT) atau guru tamu.
Kedua: apbila harus diampu oleh guruyang bukan lulusan pendidikan bahasa jawa, penugasannya tidak asal-asalan. Hendaknya guru yanga ditugaskan senang pada bahasa jawa dan paham materi yang diajarkan .
Ketiga: untuk pengayaan materi, perlu diadakan pembelajaran, misalnya kursus singkat bagi para guru yang bukan lulusan pendidikan bahasa jawa selama 1 atau 2 bulan. Kiranya di Yogyakarta dan Jawa Tengah masih banyak tersedia ahli yang mampu meningkatkan kompetensi para guru bahasa jawa. Di Yogyakarta ada dua universitas negri yang memiliki Jurusan Bahasa Daerah(Jawa) yaitu UGM danUNY. Sedangkan di Jawa Tengah palinga tidak ada UNS. Disamping itu ada pula lembaga swasta yang masih giat mempertahankan bahasa jawa, misalnya kraton, juga beberapa lembaga swasta di Yogyakarta, Semarang dan Surakarta dll.
Bahasa jawa akan tetap berkembang dan lestari, apabila masyarakat jawa sebagai pewaris dan pengguna bahasa, merasa bangga, cinta dan menggunakannya dengan baik dan benar.
.
Previous
Next Post »