kyai berbendera parpol

Kiai berpolitik praktis adalah kajian yang amat menarik. Sebagian pendapat menyatakan , idealnya kyai tetap meneguhkan dirinya dalam wilayah cultural. Artinya, mereka lebih di pentingkan keberadaanya untuk mengurus kerja-kerja masyarakat dan pendidikan warga, ketimbang masuk dalam perebutan kekuasan structural pemerintahan. Sementara pendapat lain mengatakan, islam adalah din wa dawlah (agama dan emerintahan) yang meniscayakan keterlibatan kyai dalam ranah politik.
Terkait peran kyai pesantern dalam parpol, saya mengklasifikasikan dala tiga bagian. Pertama, kyai berperan sebagai actor. Yakni ssebagai tim sukses sekaligus juru kampanye partai tertentu. Kedua, berperan sabagai pendukung. Yakni, mendukung partai tertentu tetapi tidak berada di garis depan dalam perjuangankeberhasilan partai yang didukungnya.Ketiga, berperan sebagai partisipan. Maksudnya kyai hanya memberi restu terhadap calon tertentu, dan tidak terlibat dalam aksi dukungan atau menjadi tim sukses.
Peran kyai dalam partai politk dapat diamaknai sebagai ikhtiar untuk membangun dan menata masyarakat secara efektif. Dan itu akan mudah terwujud apabila kyai turut memegang peranan dalam pemerintahan. Namun demikian, keterlibatan kyai sebagai aktor politik amat rentan disusupi bisikan setan dan pertaruhan yang tidak murah.Sedikit saja mereka salah melangkah,maka’bencana besar’ akan muncul. Tidak hanya pada diri kyai yang bersangkutan, melainkan juga institusi kyai secara keseluruhan, santri dan umat pengikutnya, bahkan juga agama akan ‘tercoreng’ dan tercederai.
Sedangkan motif partisipasi kyai di dalam politik praktis didasari oleh alasan untuk memperjuangkan islam melalui jalur structural sekaligus didasari atas moralitas politik yang wajib diperjuangkan. Namun demikian, motif suci ini tidak terlepas dari beragam implikasi. Tidak hanya bagi diri kyai, melainkan juga pesantren.
Bagi pribadi kyai, ketrlibatannya dalam politik praktis berimplikasi pada kekuranoptimalan peran-peran kyai di wilayah kulutral dan pendidikan (tarbiyah) di kawah candradimuka yang berjuluk pesantren. Aktifitas politik telah menguras perhatian dan memecah konsentrasi kyai. Akibatnya, pesantrwn kerap keththeran(kurang terus) karma hanya sebagai anak tiri.
Motif lain ketertarikan kyai bergabungnya dibawah bendera parpol adalah sisi untung dan eksistensi, bagi pesantren maupun kyai itu sendiri dan keluarganya. Dengan berpolitik, pesantren akan gampang menerima kucuran dana untuk perbaikan atau penambahan sarana dan prasarana sebagai ‘berkah’ dari adanya koneksi-koneksipolitik yang kyai bangun. Dan, bagi kyai dan keluarganya tentu akan mendapatkan link-link yang menguntungkan.
Sudah saatnya polemik kyai berpolitiktak lagi dilanjutkan dan di wetkan. Berpolitik atau tidak bergantung pada kyai itu sendiri. Apakah kesibukannya mengibarkan bendera partai lebih mendatangkan manfaat atau justru membawa segudang madlarat (kerugian), hamya kyai itu sendiri yang berhak dan dapat menjawabnya.
Hanya saja, selama ini kita lebih kerap disuguhi pemandangan yang kurang membahagiakan, yaitu’gagalny’ para kyai dalam mensukseskan peran ganda meraka tak hanya dijalur structural(parpol) namun juga cultural(pesantren dan keumatan)
.
Previous
Next Post »