Huruf China di Beijing Huruf Jawa di Jogja

Cina, kata orang, sedang menggeliat menuju negri modern. Filsuf Cina Lao Zi yang menulis buku terkenal, Dao De Jing, bahkan tak menyangka negrinya bakal menjadi sorotan dunia. Berlari begitu cepat.Kota-kotanya berubah total menjadi kota metropolitan yang setara dengan Hongkong, Tokyo, New york, atau London. Namun ada yanga perlu dicatat dari negri berpenduduk milyaran jiwa itu. Yakni masih teguhnya negri itu memegang kearifan budaya local. Bahkan sangat teguh, betapa pun negrinya telah berubah menjadi modern. Kenyataan inilah yang tak pernah kit bayangkan. Seba, tatkalasebuah negri yang tengah memasuki alam modern, akan tak peduli pada hal-hal yang tadak modern. Sebab bisa menjadi gangguan.
Benarkah? Pagi buta, Seorang China tua tengah mengayuh sepeda melintas jalan raya. Mengapa ia masih mengenakan sepeda? Mengapa tidak ia buang sepeda itu dan ia berganti dengan kendaraan ytang lebih cepat? Mungkin seorang jawa tua pada jam-jam sepeerti itu lebih memilih tidur berselimut. Begitu juga dengan seorang China lainya yang bersemangat memasuki pagi yang dingin. Siap bekerja, memanfaatkan tangan, kaki dan otaknya. Tak Cuma mereka yang bekerja keras, Para mahasiswa pun banyak yang memilih bersepedauntuk dating kekampusnya. Benarkah pemandangan in juga potret kekayaan budaya lokalbagi China yang tumbuh secara mengejutkan danimpresif?
Pemandangan lain juga terlihat ketika pesawat yang datang dari Singspura yang terbang pukul 01;00 itu mendarat di Bandara Internasional Beijing, pada pagi musim dingin sekitar pukul 06;00. Betapa tidak? Para penumpang yang berhamburan langsung menatap huruf China yang berdiri tegak diberbagai sudut. Tentu, semua informasi tersebut di tulis dalam huruf China yang penuh karateriktis. Kebanggaan China, tak Cuma penduduknya yang satu milyar lebih. Tapi ada pengucapan yang spesifik.
Inilah China, yang bagi siapapun di anjurkan Nabi Muhammad untuk belajar sampai kesana. Negri yang kuat mempertahankan lokalitasnya. Huruf-huruf China yang artistic itu tetap di pertahankan dan menghiasi sudut-sudt kota. Selama di Beijing, seakan-akan huruf cina itu menjadi aksesoris. Tak peduli bila ada orang yang tak bisa membaca dan memaknainya. Huruf-huruf itu tak diganti dengan huruf latin, misalnya, agar semua orange bisa memaknainya.
Apa yang terjadi di Beijing itu sesengguhnya bisa memberi inspirasi, bahwa tak selamanya yang berbau lokal itu buruk dalam proses modernisasi. Bukankah di Ngayojokartohadiningrat(Yogyakarta) kita bisa meanpilkan huruf-huruf jawa? Kenyataan ini di cina menunjukan bahwa ada apresiasi yang tinggi pada hasil karya masa lalu, khususnya karya kreatif, karya intelektual, karya monumental yang dilakukan nenek moyangnya. Dan huruf-huruf cina sebagai karya masa lalu itu berumur panjang ketika anak-anak dicina tidak lagi buta huruf cina. Bahkan, akan terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
Hanya barangakali, kesadaran menghargai kehadiran huruf-huruf jawa itu masih terasa kecil di Yogyakarta dan Jateng(Jawa Tengah). Sebab banyak yang tidak bisa membaca huruf jawa disbanding dengan yang biasa. Kesalahan kita adalah terlalu panjang dan lama memisahkan karyaadi luhung itu dengan generasi penerusnya. Kesungguhan mengajarkan huruf-huruf jawa seharusnya tidak boleh kalah dengan mata pelajara lainnya
.
Previous
Next Post »